Tren Mengkonsumsi Berita di Era Digital

Studi Reuters Institute menunjukkan bahwa 51% responden mengaku memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. Sementara itu, 12% responden menyatakan bahwa portal berita tak lagi dilirik sebagai sumber utama informasi mereka, alias mereka menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mendapatkan berita.

Temuan lainnya, segmen muda tercatat sebagai generasi yang mengandalkan media sosial sebagai tempat utama memperoleh berita dibandingkan media konvensional seperti televisi. Terdapat 28% anak muda berusia 18 hingga 24 tahun yang mengungkapkan bahwa media sosial lebih utama sebagai sumber berita dibandingkan televisi yang hanya memperoleh 24%.

Berangkat dari fakta tersebut, dikatakan Shelly Tantri, Head of Business Development BaBe, telah mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan konten-konten berita. Sebuah konten berita yang menarik di media sosial bisa dengan cepat menyebar di kalangan pengguna media sosial lainnya. "Hal ini terungkap dari paparan Reuters Institute yang mengungkapkan bahwa 24% pengguna internet membagikan konten berita di media sosial," ucapnya.

Perubahan perilaku masyarakat tersebut tak hanya berdampak pada media sosial, tetapi aplikasi pengumpul berita atau news aggregator juga menjadi bertumbuh cukup pesat sebagai wadah masyarakat memperoleh berita.

Masih menurut studi Reuters Institute, 36% responden mengaku membaca berita karena direkomendasikan secara otomatis oleh mesin yang bekerja di belakang platform. "Cara ini menghasilkan persentase pembaca berita lebih tinggi dibanding konten-konten yang direkomendasikan oleh jurnalis atau editor," ia menegaskan.

Sayangnya, di Indonesia, tingkat literasi yang masih rendah. Data dari Programme for International Student Assessment menunjukkan bahwa peringkat literasi Indonesia adalah nomor 64 dari 72 negara. "Mirisnya, budaya getok tular, gampangnya membagi informasi ini tidak disertai dengan budaya menelaah," lanjut Shelly.

Akibatnya, kabar bohong pun dengan mudah menyebar di media sosial. Data dari DailySocial.id yang melakukan survey pada 2018 dengan responden 2.032 pengguna smartphone di berbagai penjuru Indonesia memuat fakta bahwa sebagian besar responden (44,19%) tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita bohong. "Di sinilah peran news aggregator sebagai penyaring berita bohong," tegasnya.

Menurutnya, ada sejumlah alasan mengapa news aggregator mampu berperan menjadi penyaring berita bohong (hoax). Alasan pertama, konten dari news aggregator dimoderasi dan berasal dari sumber tepercaya. Alasan kedua, teknologi kecerdasan buatan yang ada di belakang platform news aggregator akan mengirimkan informasi berdasarkan minat warganet sendiri. "Hal ini akan memungkinkan luasnya topik dan kedalaman informasi yang dikonsumsi," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)