Shopee Dorong Transaksi e-Commerce Lewat Bebas Ongkir

Konvergensi channelonline dan offline di dunia ritel merupakan fenomena yang dapat dimengerti. Menurut Christin Djuarto, Direktur Shopee Indonesia, hal tersebut terjadi karena semakin pesatnya perkembangan teknologi. Di dunia retail, trennya adalah mengoptimalkan semua medium yang ada sehingga kesempatan untuk menjangkau pasar serta melakukan transaksi menjadi lebih luas.

Konvergensi biasanya dikenal di dunia media. Konvergensi media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan. Konvergensi media merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan Dalam konteks ritel, konvergensi channel kita definisikan sebagai penggabungan atau pengintegrasian channel-channel (online dan offline) yang ada untuk meningkatkan kinerja penjualan.

Sementara itu, Shopee, onlinemarketplace, sampai saat ini masih fokus di e-commerce. Belum mulai melakukan aktivasi di offline untuk mendorong kinerja e-commerce-nya. Tren belanja online, menurut Christin,saat ini terus berkembang ke arah positif. Selain jumlah penggunanya semakin banyak, angka transaksinya juga tercatat terus bertumbuh. Salah satu indikatornya adalah program Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional), dimana angka transaksi meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Pada kampanye 12.12 Harbolnas Desember 2018 lalu, Shopee berhasil mencatatkan rekor transaksi tertinggi sepanjang sejarah e-commerce di Indonesia, yakni 5,4 juta transaksi. Ini bisa dijadikan sebagai salah satu tanda bahwa belanja online sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Indonesia,” ungkap Christin.

Ia menerangkan, saat ini konsumen Indonesia sudah semakin paham dan puas dalam berbelanja secara online. Selain dari sisi kepraktisan, online commerce juga menawarkan gimmick penawaran yang inovatif, misalnya in app game yang membuat konsumen 'betah' berada di dalam aplikasi. Selain itu, online commerce juga memberikan banyak kemudahan karena dilengkapi dengan sistem yang terintegrasi. Misalnya dalam hal pembayaran bisa melalui m-banking, ATM, atau minimarket terdekat.

Meskipun begitu, kata Christin, perkembangan teknologi yang terus berubah juga dinilai sebagai tantangan utama di industri ritel, baik online maupun offline. Untuk itu, edukasi tentang e-commerce masih menjadi PR bagi seluruh pemain, karena sampai saat ini masih ada konsumen belum terbiasa melakukan belanja online.

Namun, imbuhnya, tantangan ini tidak bisa diserahkan kepada penggiat industri e-commerce saja. Pemerintah bersama dengan masyarakat harus bersama-sama belajar dari industri yang sedang berkembang ini. Untuk itu, sejak 2016 Shopee secara konsisten melakukan program edukasi di kalangan mahasiswa, yang memfokuskan pada edukasi mitra penjual Shopee.

“Saat ini, program Kampus Shopee sudah menjangkau lebih dari 30 kota di Indonesia serta lebih dari 30 ribu UMKM telah mendapatkan edukasi berjualan secara online. Ini merupakan langkah awal kami untuk menyiapkan para pengusaha lokal dan pelaku ekonomi digital agar mereka lebih siap untuk bersaing dengan pelaku ekonomi digital lainnya,” terang Christin.

Selain edukasi, distribusi juga akan selalu menjadi tantangan bagi industri ritel ke depan. Sampai sekarang, ongkos kirim adalah salah satu faktor yang masih sangat berpengaruh dalam perkembangan e-commerce di Indonesia. Oleh karena itu, Shopee menyiasatinya dengan menghadirkan subsidi layanan bertajuk gratis ongkos kirim (ongkir).

Dijelaskan Christin, secara teknis, subsidi ini tidak selalu menggratiskan ongkir kepada para pelanggannya. Namun Shopee memiliki kebijakan khusus bagi pemberian subsidi ongkir. “Kami memberikan subsidi ongkir berupa voucher gratis ongkir yang otomatis berada dalam akun pengguna dan dapat digunakan kapanpun.”

Sementara, untuk efisiensi biaya pengiriman, Shopee menyediakan jasa kurir untuk fitur Shopee Express sebagai sarana pendukung dalam menjawab kebutuhan pengguna. Namun, terkait pengiriman, Shopee juga sudah menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak jasa ekspedisi. Bahkan juga sudah bekerja sama dengan salah satu penyedia jasa angkutan umum online Indonesia untuk memudahkan dalam pengiriman barang yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Kami melihat bahwa sekarang kita ada di zaman serba cepat. Adaptasi terhadap teknologi yang terus berkembang adalah tantangan utama ritel ke depan. Memang tidak mudah dan tidak bisa cepat. Untuk itu kami berharap, bisnis e-commerce ke depan bisa menjadi lebih baik, terutama dari sisi infrastruktur dan regulasi,” pungkas Christin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)