Maya Miranda, Sociopreneur yang Turut Membranding Bengkulu

Tiga puluh tahun merantau ke Jakarta tak membuat Maya Miranda Ambarsari melupakan tanah yang telah membesarkannya, Bengkulu. Darah Bengkulu yang mengalir dari sang bunda membuat pengusaha tambang dan properti itu memutuskan untuk kembali menjenguk kampung halamannya. “Nyaris tidak ada yang berubah dari sejak saya meninggalkan Bengkulu, hingga 30 tahun kemudian saya kembali ke Bengkulu,” kisahnya.   img_20161025_6791 Tak mengherankan, jika jumlah kunjungan wisatawan ke Bengkulu masih terhitung minim. Wisatawan domestik misalnya, baru sekitar 350 ribu per tahunnya. Sementara itu, wisatawan mancanegara hanya 900 orang setiap tahunnya. Alhasil, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bengkulu pun tercatat rendah, yakni hanya Rp 2,4 triliun per tahun. Berangkat dari pengalamannya pulang kampung serta kecintaannya pada Bengkulu, perempuan yang mengambil gelar Master of International Business dari Swinburne University of Technology-Melbourne itu memutuskan untuk berpartisipasi dalam membesarkan Bengkulu. “Ini semua karena panggilan hati saya sebagai putri daerah Bengkulu,” tegas Maya yang pernah menyabet sejumlah penghargaan, seperti Tokoh Sociopreneur dari Property & Bank serta Tokoh Masa Kini 2016 sebagai Sociopreneur. Diakui istri dari Ir. Andreas Reza, MH itu, salah satu wujud nyata perannya dalam membangun Bengkulu adalah dengan membantu langkah destination branding Bengkulu sebagai salah satu tujuan wisata. Diceritakan Maya, ada banyak potensi wisata—baik dari kekayaan alam, budaya, maupun kuliner—di Bengkulu. “Sayangnya, potensi tersebut belum mampu dikemas secara cantik, untuk kemudian dipromosikan kepada para wisatawan lokal maupun mancanegara. Artinya, selama ini, semua kekayaan itu hanya dinikmati oleh masyarakat lokal,” terang Maya. Ibu dari Muhammad Khalifah Nasif itu pun mencontohkan sederet potensi wisata yang ada di Bengkulu, yang sebenarnya tak kalah cantik dengan daerah lainnya di Indonesia. Sejatinya, potensi tersebut dapat dijadikan destinasi pilihan para wisatawan. Dimulai dari salah satu acara tahunan yang menarik di Bengkulu, Festival Tabot. Festival yang disaksikan Maya saat berkunjung ke kampung halamannya itu merupakan acara yang rutin dihelat masyarakat Bengkulu, khususnya keluarga keturunan Tabot, sejak abad ke-14. Festival tersebut untuk memperingati wafatnya Imam Hussain, cucu Nabi Muhammad SAW yang meninggal di Karlaba, Irak. “Festival ini sangat unik dan menarik karena dipenuhi serangkaian kegiatan yang bersifat ritual dan kolosal,” yakin Maya. Potensi lainnya adalah bunga tersebesar di dunia, Rafflesia Arnoldi. Selama ini, ditambahkan Maya, Bengkulu merupakan rumah bagi tanaman yang dapat mekar dengan lebar hingga dua meter itu. Itu sebabnya, Bengkulu juga dikenal sebagai The Land of Refflesia atau Buminya Rafflesia. Selain itu, diyakini Maya, Bengkulu juga berpotensi menjadi wisata sejarah bagi para wisatawan. Sebab, di Bengkulu-lah Bung Karno berjumpa dengan Ibu Fatmawati untuk pertama kalinya. Tak heran, jika banyak jejak peninggalan Bung Karno di Bengkulu. Antara lain, rumah pengasingan Bung Karno saat menjalani pengasingan di Bengkulu, Rumah Fatmawati, Masjid Jamik yang dibangun Bung Karno, serta benteng peninggalan kolonian Inggris Fort Marlborough yang di dalamnya terdapat ruang introgasi Bung Karno. Bengkulu yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera, lanjutnya, juga memiliki sejumlah objek wisata pantai. Di antaranya, Pantai Panjang, Pantai Tapak Paderi, Pantai Jakat, serta wisata perairan Pulau Tikus yang berjarak 10 mil dari Kota Bengkulu. “Semuanya masih ‘perawan’ dan tak kalah eksotiknya dibandingkan pantai-pantai lainnya di Indonesia,” papar Pemilik dan Presiden Direktur PT Tri Tunggal Agung Propetyndo serta Pemilik Elliottii—exclusive guest house—bersemangat. Sebagai langkah awal, maka perempuan yang dikenal sebagai sociopreneur itu memutuskan untuk membantu melakukan destination branding Bengkulu lewat sebuah buku. “Saya berencana membuat buku berjudul ‘Bengkulu, I Adore!’. Buku ini untuk lebih memperkenalkan potensi wisata dan budaya di Bengkulu,” harap Maya. Tidak berhenti hanya pada buku, Maya pun akan memanfaatkan saluran komunikasi lainnya untuk membantu pemerintah daerah dalam melakukan destination branding Bengkulu. Misalnya, dengan membuat film yang mengeksplorasi kekayaan Bengkulu; memberikan pelatihan bagi masyarakat Bengkulu dalam mengemas produk-produk asli daerahnya, seperti mengemas aneka kulinernya hingga bernilai jual tinggi; sekaligus mengajak Persatuan Orang-Orang Bengkulu yang tinggal di Jakarta untuk turut berperan dalam mengenalkan Bengkulu ke daerah luar. Maya meyakini, jika animo wisatawan yang datang ke Bengkulu terus bertumbuh dan tercatat tinggi, maka para investor pun akan melirik Bengkulu. “Jika wisatanya berkembang, maka akan banyak turis yang berkunjung ke Bengkulu. Pastinya, akan ada efek berganda yang dihasilkan, seperti banyak investor membangun Bengkulu yang akhirnya membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” tutur Founder dari Rumah Belajar Miranda yakin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)