Tim Marketing Wuling Motors Melawan Stigma

Sepak terjang tim Wuling Motors dalam kurang dari dua tahun terhitung progresif demi menghadapi tantangan terbesarnya menaklukkan pasar otomotif Indonesia dan memupus stigma kendaraan asal Cina tak sebaik kendaraan Jepang dan Eropa.

Belum genap dua tahun meramaikan industri otomotif Tanah Air, Wuling Motors sudah mencatatkan prestasi yang signifikan. Sejak diluncurkan di Indonesia pada Juli 2017 lalu, merek otomotif asal Tiongkok itu telah berhasil menjual lebih dari 23 ribu unit aneka kendaraannya, antara lain Confero, Cortez, dan Almaz. Dengan catatan penjualan itu, kini di pasar semua jenis mobil di Indonesia, Wuling berhasil menempati peringkat ke-9. Sementara di kategori kendaraan penumpang, Wuling sukses menduduki posisi ke-6.

Catatan prestasi tersebut belum termasuk sederet penghargaan yang juga berhasil diraih Wuling terkait produk maupun layanannya. Paling anyar, Mei 2019 lalu Wuling menyabet penghargaan “The Most Engage Brand In Indonesia Digital World 2019” untuk kategori The Best Digital Customer Service in Automotive Industry yang digelar Majalah MIX MarComm.

Menurut Dian Asmahani, Senior Manager Brand & Marketing Wuling Motors, sukses Wuling tak lepas dari kekompakan tim yang sudah dibangun sejak awal Wuling hadir di Indonesia. Mereka terdiri dari Tim Brand & Marketing, Sales, Network, hingga After Sales Service, yang memiliki peran masing-masing. “Kunci keberhasilan kami adalah kekompakan demi mengusung pesan sekaligus mencapai goal yang sama,” tutur Dian.

Keberhasilan Wuling meraih penghargaan “The Most Engage Brand In Indonesia Digital World 2019”, diakui Dian, juga tak lepas dari solidnya Tim Digital Wuling. Di bawah Divisi Brand & Marketing yang dikepalai oleh Dian, ada tim digital yang bertanggung jawab untuk semua perencanaan kampanye komunikasi Wuling di media sosial, termasuk customer care di kanal media sosial.

Tim Digital ini dipimpin oleh Yusuf Anshori—yang akrab disapa Ori—sebagai Digital Lead Wuling Motors. Ori dibantu oleh tiga orang dalam menjalankan digital strategik, mulai dari merancang kampanye di media sosial, menangaktifkan Wuling Apps, hingga menangani digital customer care. “Untuk digital customer care, tim digital terintegrasi dengan tim after sales services lantaran, ini terkait dengan respon konsumen di media sosial,” lanjutnya.

Ada empat platform media sosial yang dimanfaatkan Wuling untuk berinteraksi dengan pelanggan maupun calon konsumennya. Keempatnya adalah Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube. Dikatakan Dian, keempat media sosial tersebut ditangani secara custom. “Artinya, meski mengusung pesan komunikasi yang sama, namun konten disesuaikan dengan karakter dari masing-masing platform,” ujarnya.

Sebagai pendatang baru di industri otomotif nasional, sepak terjang Wuling terhitung progresif demi menghadapi tantangan terbesarnya menaklukkan pasar otomotif Indonesia dan memupus stigma kendaraan asal Cina tak sebaik kendaraan asal Jepang dan Eropa. “Ini memang menjadi tantangan terberat kami,” Dian mengaku.

Oleh karena itu, menurutnya, strategi utama tim dalam memupus stigma itu adalah membangun trust melalui kampanye komunikasi yang tepat. “Dalam merancang kampanye komunikasi ini, kami mengedepankan konten dan momen. Artinya, konten yang baik harus memanfaatkan momentum agar kampanye komunikasi menjadi efektif,” urainya.

Langkah lain yang dilakukan Wuling dalam membangun trust adalah dengan mengedepankan kecepatan merespon dalam konteks layanan konsumen, termasuk digital customer care. Pada era digital, dimana setiap konsumen bebas berkomentar, maka respon yang cepat menjadi sebuah kebutuhan sekaligus tuntutan.

Oleh karena itu, ketika kami memutuskan untuk memanfaatkan sejumlah platform media sosial, maka kami juga harus siap menghadapi aneka komplain dari konsumen. Untuk menyikapi itu, kami memiliki SOP yang harus ditaati dalam menjawab berbagai pertanyaan maupun keluhan pelanggan. Contohnya, untuk setiap pertanyaan atau keluhan harus mampu dijawab dalam kurun waktu 1x24 jam. Namun, rata-rata respon di media sosial kami, kurang dari 1 jam. Kecuali, jika keluhannya bersifat teknis, maka kami akan jawab dan ditindaklanjuti untuk dihubungi oleh tim terkait. Bahkan, jika komplain muncul di platform digital yang bukan milik Wuling, jika terdeteksi oleh kami, maka kami akan mencoba meminta kontak pelanggan tersebut dan kami akan menghubunginya,” papar Dian.

Dalam usia hampir dua tahun, menurut Dian, tim Wuling Motors kompak mengusung pesan komunikasi untuk membangun kepercayaan pelanggan. Tim ini juga memiliki sense of belonging yang tinggi karena banyak dari anggota tim yang sudah bergabung jauh sebelum Wuling diluncurkan. Sebut saja Dian dan Ori yang turut membidani lahirnya Wuling di Indonesia. Keduanya tercatat sebagai tim perdana yang bergabung dengan Wuling sebelum Wuling mendirikan pabriknya di Indonesia.

Kekompakan tim juga didukung oleh usia para awak tim yang masih tercatat muda, yakni 25 hingga 30 tahunan. Dengan rentang usia yang sama dan masih muda, tim Wuling menjadi lebih energik, fleksibel, dinamis, dan open minded. “Jadi ketika ada perbedaan pendapat di saat weekly meeting, maka semuanya harus diselesaikan di meja rapat. Keluar dari sana, kami harus mengusung misi yang sama dan harus mendukung keputusan bersama,” ungkapnya.

Dengan pengalaman yang berbeda-beda, tim Wuling saling melengkapi dan memperkaya wawasan dalam merancang strategi. “Ada yang memiliki pengalaman berkarir di industri otomotif, agensi, hingga perbankan. Perbedaan pengalaman ini, justru makin memperkaya kami,” ia meyakini.

Dengan nilai-nilai yang dianut dan budaya kerja tim seperti saat ini, turn over karyawan di Wuling tercatat cukup rendah. Sejak hadir di Indonesia hingga sekarang, sekitar 95% awak tim adalah orang yang sama. “Mempertimbangkan perkembangan bisnis Wuling saat ini, yang telah memiliki 94 dealer di seluruh Indoensia, maka kami tengah menambah tim baru, termasuk di tim digital,” tandas Dian.

Atmosfir kekeluargaan juga menjadi kunci kekompakan tim Wuling. Ia mencontohkan bagaimana setiap leader di tim harus mengedepankan personal touch. Artinya, apresiasi kepada para awak tim dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya, sekadar menanyakan bagaimana kerja mereka, berempati atas tantangan yang dihadapi, hingga memberikan semangat.

Kerja ekstra demi menaklukkan hati konsumen Indonesia sekaligus berkompetisi di pasar otomotif yang sudah begitu ketat, diuraikan Dian, tentu harus diimbangi dengan berbagai keseruan yang mampu menurunkan tensi pekerjaan. “Biasanya, kami kerapkali memanfaatkan momen ketika Wuling menggelar event atau kegiatan. Di akhir acara, kami memilih makan atau jalan bersama. Bahkan, kami pernah pergi menginap ke sebuah villa di Bandung untuk makin mengakrabkan sekaligus mensolidkan para anggota tim,” tutupnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)