Bagaimana Netflix Membangun Budaya Kerja Karyawannya

MIX.co.id - Perusahaan Anda ingin seperti Netflix? Dalam buku “No Rules Rules: Netflix and the Culture of Reinvention”, Co-founder dan co-CEO Reed Hastings menulis resep langkah demi langkah yang merinci bagaimana Netflix menciptakan dan mengembangkan budaya perusahaan yang tidak konvensional.

Tahun 2000, pendiri Netflix Reed Hastings dan Marc Randolph diundang ke markas Blockbuster, raksasa rental video yang saat itu memiliki kapitalisasi senilai $6 miliar. Undangan itu datang setelah berbulan-bulan Hastings dan Randolph mengajukan permohonan ketemu beberapa bulan sebelumnya.

Mereka ingin bertemu CEO Blockbuster John Antioco, yang terkenal sebagai ahli strategi untuk membicarakan kemungkinan Blockbuster membeli Netflix. Mereka menawarkan Netflix kepada Blockbuster karena ingin menyelamatkan karyawannya akibat kerugian yang dideranya yang saat itu mencapai $57 juta.

"Blockbuster seribu kali ukuran kita," bisik Hastings kepada Marc Randolph saat kami melangkah ke ruang pertemuan yang luas di lantai dua puluh tujuh Menara Renaissance di Dallas, Texas. Itu adalah markas besar Blockbuster, yang saat itu merupakan raksasa yang mendominasi bisnis hiburan rumah dengan hampir sembilan ribu toko persewaan di seluruh dunia.

Antioco yang sadar bahwa internet super cepat di mana-mana akan menjungkirbalikkan industrinya, menyambut mereka dengan ramah. Dia tampak benar-benar santai. Sebaliknya, Hastings dan Randolph gugup. Mereka merasa tak apa-apanya dibandingkan Antioco.

Maklum, Netflix yang saat itu start-up kecil berusia dua tahun, yang memungkinkan orang memesan DVD di situs web dan menerimanya melalui US Postal Service, hanya memiliki seratus karyawan dan tiga ratus ribu pelanggan dan memulai dengan awal yang sulit.

Mereka duduk mengelilingi meja kaca besar, dan setelah beberapa menit berbincang-bincang, Randolph dan Hastings mengusulkan agar Blockbuster membeli Netflix. Bila bersedia, Randolph dan Hastings akan mengembangkan dan menjalankan Blockbuster.com sebagai lengan penyewaan video online mereka.

Antioco mendengarkan dengan cermat. Beberapa kali terlihat menganggukkan kepalanya, dan kemudian bertanya, "Berapa yang harus dibayar Blockbuster untuk Netflix?" Ketika dia mendengar tanggapan kami—$50 juta—dia menolak mentah-mentah. Marc dan Hastings pun pergi, kecewa.

Namun, sedikit demi sedikit, dunia berubah. Bisnis Netflix tetap berdiri dan berkembang. Pada tahun 2002, Netflix mempublikasikan laporannya yang menjelaskan pertumbuhan bisnisnya. Namun tetap saja Blockbuster masih seratus kali lebih besar dari Netflix ($5 miliar versus $50 juta).

Saat itu Blockbuster dimiliki oleh Viacom -- perusahaan media paling bernilai di dunia. Namun, pada 2010, Blockbuster menyatakan dirinya bangkrut. Pada 2019, hanya satu toko video Blockbuster yang tersisa, di Bend, Oregon. Blockbuster tidak dapat beradaptasi dari penyewaan DVD ke streaming.

Di sisi lain, tahun itu Netflix menorehkan prastasi. Film produksi Netflix, Roma, dinominasikan sebagai  film terbaik dan memenangkan tiga Oscar. Netflix telah beralih dari bisnis DVD-by-mail menjadi tidak hanya layanan streaming internet, dengan lebih dari 167 juta pelanggan di 190 negara, tetapi juga produsen utama acara TV dan film sendiri di seluruh dunia. Netflix memiliki hak istimewa untuk bekerja dengan beberapa pembuat konten paling berbakat di dunia, termasuk Shonda Rhimes, Joel dan Ethan Coen, serta Martin Scorsese.

Netflix telah memperkenalkan cara baru bagi orang-orang untuk menonton dan menikmati kisah-kisah hebat, yang, pada saat-saat terbaiknya, meruntuhkan penghalang dan memperkaya kehidupan.

Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa Netflix bisa berulang kali beradaptasi tetapi Blockbuster tidak bisa? Di bagian pengantar “No Rules Rules,” Hastings meringkas keunggulan kompetitif Netflix atas Blockbuster dikarenakan tiga hal.

Pertama, budaya yang menghargai orang di atas proses. Kedua, menekankan inovasi daripada efisiensi, ketiga, kontrol yang sangat sedikit. Prinsip-prinsip itu, katanya, adalah akar tunggang dari mana “aturan tanpa aturan” muncul. (Aruman - mix.co.id)

Judul buku          : No Rules Rules: Netflix and the Culture of Reinvention

Penulis                 : Reed Hastings; Erin Meyer

Penerbit              : Penguin Publishing Group, 2020

Tebal buku         : 138 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)