Beginilah Tahapan Revitalisasi KAI Commuter

Commuterline2

Revitalisasi KAI Commuter dilakukan secara bertahap. Langkah pertama pengadaan KRL dengan penambahan armada baru. Tahun ini, jumlah armadanya mencapai 180 unit. “Kami harus mampu mencapai 1.440 unit armada KRL untuk dapat menampung 1,2 juta penumpang per harinya yang telah ditargetkan Pemerintah pada 2019 nanti. Saat ini sendiri, setiap harinya rata-rata penumpang mencapai 550 ribu orang,” lanjutnya.
Realisasi kedua adalah penataan stasiun yang dilakukan oleh Tim KAI DAOP I. Sementara itu, untuk penataan di peron, tanggung jawab ada di tim KAI Commuter. Realisasi penataan stasiun dan peron ini menjadi upaya terberat lantaran, harus menghadapi Pedagang Kaki Lima, publik, dan Komnas HAM.
Maka pendekatan persuasif dan sosialisasi menjadi kunci utamanya. Meski ada resistensi dan “gejolak” di beberapa stasiun, hasilnya secara keseluruhan kini wajah stasiun dan peron kereta api jauh lebih tertata. “Target kami, perkeretaapian harus bisa menjadi moda transportasi modern yang memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang,” harap Makmur.
KAI-3-ticketingRealisasi ketiga adalah penerapan sistem e-ticketing, yang dimulai pada Juli 2013. Langkah ini pun tak kalah beratnya. Maklum saja, yang dihadapi tim adalah mengubah habit atau kebiasaan penumpang yang sudah telanjur nyaman dengan tiket manual. “Obyektif dari e-ticketing ini adalah agar penumpang dapat lebih tertib, disiplin, dan menghindari penumpang yang tidak membayar tiket saat menaiki kereta. Output-nya, tentu pendapatan kami dapat lebih optimal,” tambahnya.
Dua jenis kartu e-ticketing pun dihadirkan, yaitu, kartu Commet Multi Trip yang dapat diisi ulang di setiap stasiun, dan kartu Single Trip Berjaminan. Kehadiran Multi Trip juga dibarengi dengan tarif Progresif yang diberlakukan KAI. Lagi-lagi, melalui pendekatan persuasi sekaligus edukasi yang berkelanjutan dan tak kenal lelah, penumpang kereta pun akhirnya sudah mulai terbiasa dengan e-ticketing. Sama halnya pada saat penataan stasiun dan peron, di awal pemberlakukan sistem e-ticketing, juga sempat terjadi kekisruhan dan banyaknya keluhan. “Kini, tak kurang dari 40% penumpang sudah menggunakan kartu Multi Trip. Target kami, pengguna Multi Trip bisa mencapai 90%,” patok Makmur, yang menyebutkan kenaikan jumlah penumpang KRL pasca peremajaan dan pemberlakuan tarif progresif mencapai 20%.
Realisasi keempat adalah mengoptimalkan usaha, dengan menjadikan gerbong kereta sebagai sumber pemasukan baru. Caranya, dengan menjadikan gerbong kereta sebagai channel untuk beriklan. Langkah ini sudah dimulai sejak dua tahun lalu oleh tim KAI Commuter. Namun belakangan, Tim KAI Commuter sangat gencar memasarkannya kepada para pengiklan. Alhasil, sejak dihadirkan dua tahun lalu, pendapatan di sektor reklame ini mencapai 25% dari total pendapatan PT KAI Commuter Jabodetabek. Maka aneka iklan produk dan jasa pun kini tampak berseliweran memadati gerbong dan sekujur badan kereta.
Sukses revitalisasi oleh PT KAI Commuter ini , menurut Makmur, tak terlepas dari kekompakan sekaligus kerja keras tim. Mengedepankan budaya keterbukaan dan egaliter, katanya, setiap personil tim berhak mengemukakan ide atau pendapat. “Ide bisa datang dari siapa saja, bahkan petugas di lapangan sekalipun. Justru mereka yang sehari-hari berhadapan dengan penumpang yang paling tahu kondisi sebenarnya,” tegasnya.
Tak heran, jika tugas turun ke lapangan bukanlah milik para staf dan personil di level service saja, melainkan juga kewajiban direktur seperti Makmur beserta para General Manager dan Manager-nya. Bahkan dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing, para staf di level manager ke atas ini juga ditugasi memantau lapangan di area Commuter Line di rute perjalanan masing-masing ke kantor setiap hari.
“Rumah saya kebetulan ada di daerah Selatan Jakarta, maka saya memantau stasiun di wilayah Selatan, seperti stasiun Bojong Gede misalnya. Di sana, saya melihat kebiasaan penumpang keluar masuk stasiun, masalah yang dihadapi pada saat antrean membeli tiket, dan sebagainya. Dengan mengumpulkan insights di lapangan seperti ini, kami dapat memperoleh ide-ide baru untuk membuat program-program baru seputar pelayanan maupun usaha.”
Dengan kesibukan di lapangan seperti itu, tak heran jika koordinasi antartim lebih sering dilakukan di dunia maya, baik via email maupun grup BBM (BlackBerry Messenger). “Selain lebih cepat dan praktis, koordinasi via dunia maya, informasi terkini maupun evaluasi atas seluruh program maupun kondisi di lapangan dapat kami ketahui secara real time. Meski demikian, meeting tatap muka juga tetap kami lakukan sekali dalam sebulan. Meeting tatap muka ini biasanya lebih untuk menyatukan chemistry sekaligus emotional bonding di antara personil tim,” terang Makmur.
Kendati kerja penuh tantangan dan jam kerja yang padat, tim KAI Commuter tercatat sangat solid dan kompak. Kekompakan tak hanya terlihat pada saat kerja, namun pada saat melakoni hobby yang sama pun, mereka terlihat tetap kompak. “Kami punya grup-grup kecil untuk makin merekatkan kerbesamaan. Antara lain, grup pecinta sepeda yang kerap kali melakukan touring ke Puncak dan grup fotografi yang secara rutin melakukan hunting foto,” tutup Makmur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)