Dinglou Village berhasil memanfaatkan nilai tambah dari produk mereka dengan menyampaikan cerita di balik setiap produk yang dijual. Ini bukan hanya tentang memasarkan produk secara fisik, tetapi juga mengaitkannya dengan narasi yang memperkuat koneksi emosional dengan pembeli.
Contohnya, jika desa ini menjual produk kerajinan tangan, mereka tidak hanya menekankan kualitas atau fungsi produk tersebut, tetapi juga menceritakan asal-usulnya, siapa pembuatnya, dan bagaimana pembelian produk tersebut dapat memberikan dampak positif pada kehidupan pembuatnya dan komunitas desa secara keseluruhan.
Misalnya, jika Dinglou Village menjual vas bunga yang dibuat oleh pengrajin lokal, mereka mungkin akan menyertakan kisah tentang bagaimana pengrajin tersebut belajar seni keramik dari generasi ke generasi, atau bagaimana bahan-bahan lokal yang berkelanjutan digunakan dalam proses pembuatan.
Kisah ini memberikan dimensi lebih kepada produk, menjadikannya tidak hanya sebagai objek belanja, tetapi sebagai sebuah cerita yang hidup dan pengalaman yang lebih berharga.
Melalui pendekatan ini, produk dari Dinglou Village tidak hanya terlihat sebagai barang dagangan, tetapi sebagai simbol dari warisan budaya dan upaya komunitas yang mendukung keberlanjutan ekonomi lokal. Ini membantu produk mereka menonjol di pasar yang sangat kompetitif, di mana konsumen semakin mencari produk yang tidak hanya bagus secara kualitas tetapi juga memiliki dampak sosial yang positif.
SUMBER:
Zhang, S., & Qiu, Z. (2024/12//). Why is rural E-commerce successful? A sociological analysis of the mechanism for actualizing technological dividends. The Journal of Chinese Sociology, 11(1), 2. https://doi.org/10.1186/s40711-023-00205-5