70% Konsumen Indonesia Belum Bermigrasi ke 4G, Apa Alasannya?

Meski tingkat penggunaan data bertumbuh sangat signifikan dan tren digital makin marak, ironisnya lebih dari separuh atau 60-70% masyarakat Indonesia masih menggunakan layanan 2G—yang notabene hanya digunakan untuk voice dan SMS. Diprediksi, migrasi dari layanan 2G ke 3G maupun 4G masih membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni lima tahun.

Di sela-sela Diskusi yang digelar Forum Obrolan Telko pada hari ini (14/9) di Jakarta, Head of Device Sourcing & Management PT Smartfren Telecom Hartadi Novianto mengungkapkan bahwa Smartfren pernah melakukan riset untuk mencari insight mengapa pelanggan Indonesia masih urung bermigrasi ke layanan 4G.

Dari hasi riset tersebut terungkap bahwa ada empat alasan terbesar yang membuat konsumen Indonesia enggan berpindah ke 4G. Pertama, ada 79% konsumen yang enggan berpindah ke layanan 4G karena mereka harus mengganti ponsel mereka dengan ponsel 4G. Kedua, ada 75% konsumen yang belum mau menggunakan layanan 4G lantaran harus mengganti sim card mereka ke sim card 4G. Ketiga, 18% konsumen sudah puas dengan kualitas dari layanan 3G atau HSDPA. Keempat, 14% berpikir bahwa mereka harus mengeluarkan uang lebih jika menggunakan layanan 4G.

Alasan lainnya yang juga dikemukakan oleh pelanggan Indonesia adalah 4G dianggap hanya sebagai layanan data di mana mereka memang tidak benar-benar membutuhkannya (9%); tidak ada perbedaan antara 4G dengan 3G/HSDPA ketika dalam menggunakan data (9%); sinyal 4G masih belum stabil (9%); jangkauan 4G tidak luas atau banyak blank spot (5%); di area mereka tinggal, sim card yang digunakan tidak menyediakan jaringan 4G (4%); tidak ada promo khusus untuk 4G (3%); dan sim card yang mereka gunakan tidak menyediakan jaringan 4G (3%).

Berangkat dari insight seperti itu, maka sejumlah upaya pun dilakukan Smartfren untuk menggenjot pelanggan 4G. Salah satunya, dengan fokus menghadirkan dan mendominasi smartphone 4G di bawah Rp 1,5 juta, yakni lewat produk Andromax Series.

Diterangkan Hartadi, saat ini, perangkat smartphone 4G yang beredar di pasar memang dikelompokkan berdasarkan segmen harga. Merujuk laporan GFK, pada tahun 2017, smartphone 4G dengan harga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta memiliki kontribusi paling tinggi, yakni 22%. Selanjutnya, diikuti oleh smartphone 4G dengan harga Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta yang mencapai 19%; smartphone 4G dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta mencapai 14%, smartphone 4G dengan harga Rp 3 juta sampai Rp 4 juta sebesar 14%; smarphone 4G dengan harga Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta sebesar 12%; smartphone 4G dengan harga di atas Rp 4 juta sebesar 10%; smartphone 4G dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 750 ribu yang mencapai 7%; dan smartphone 4G dengan harga kurangdari Rp 750 ribu mencapai 2%. Itu artinya, total market smartphone 4G di segmen kurang dari Rp 1,5 juta mencapai 28%.

“Langkah lainnya yang juga kami lakukan adalah dengan mendominasi pasar Mobile Wifi (MIFI) di Indonesia dengan market share sebesar 70%. Bahkan, kami juga menyediakan layanan Upgrade 4G-LTE dengan mudah kepada pelanggan di 200 kota di Indonesia. Target utama kami untuk smarpthone 4G di bawah Rp 1 juta adalah pelajar atau first jobberdan blue collar workers,” ujar Hartadi, yang menyebutkan bahwa ada lebih dari 100 juta pengguna 2G yang potensial di Indonesia untuk dapat didorong bermigrasi ke layanan 4G.

Ditambahkan Nonot Harsono, Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi Mastel Institute yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut, dengan jumlah 60-70% pelanggan 2G, maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, karena penetrasi supply layanan 4G masih kecil, baik dari sisi jangkauan maupun kepemilikan handset 4G. Kedua, kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh.

Saat ini, menurut Nonot, tantangan pemerintah dan para penyedia jaringan 4G adalah bagaimana menciptakan the real needs dari 4G, yang bukan semata untuk kenyamanan dan kepuasan. Misalnya, layanan 4G dapat dikomunikasikan sebagai alat bantu dalam menjalan bisnis. “Contohnya, pemerintah bisa saha membuat program pembinaan e-UKM yang lebih nyata dengan pelatihan literasi teknologi dan subsidi gadget. Konon, ada lebih dari 100 ribu UKM (Usaha Kecil Menengah) yang dapat diprovokasi untuk menggunakan teknologi 4G hingga seramai 'demam' batu akik maupun tanaman Anthurium,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)