Empat Strategi agar Media Cetak Tetap Eksis

Era digital memang membuatnya semua model bisnis berubah, termasuk model bisnis di media seperti media cetak. Sejatinya, media adalah salah satu industri yang paling berdampak atas tren digital yang berujung pada disruption. Terbukti, tak sedikit meda cetak yang harus gulung tikar, alias rontok di tengah jalan.

Tetap eksis di tengah era disruption seperti sekarang tentu saja bukan perkara mudah. Dibutuhkan strategi yang tepat dalam mengelola sekaligus mempertahankan bisnis di media cetak. Lantas, seperti apa seharusnya media cetak mengelola bisnis di tengah era disruption? Berikut ini empat strategi yang dipaparkan Wahyu Dhyatmika, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, dalam menghadapi era disruption.

  1. Kenali competitive advantage yang membuat majalah itu unik. Jangan tiru media lain yang sudah memiliki kompetensi sendiri. Jangan sampai setelah go digital, uniqueness itu bergeser. Tempo karena sudah kuat di berita indepth, investigasi dan identitas independensi, maka harus dicari bagaimana agar competitive advantate itu tetap bisa dipahami dan dijual.

  1. Era digital tidak cukup mengandalkan wartawan hebat, butuh membuka pintu redaksi untuk orang-orang dengan keahlian baru. Makanya perlu dibiasakan terus menerus bekerja dengan orang-orang berlatar belakang digital. Redaksi sudah tidak bisa memonopoli newsroom, keputusan-keputusan harus mempertimbangkan apa yang dikehendaki user. Mereka juga harus bisa melakukan engagement dengan user. Untuk keperluan tersebut, sudah dua tahun ini Tempo merekrut manajer media sosial.

  2. Patut diperhatikan, di era sekarang tugas wartawan tidak berhenti ketika memasukkan naskah ke desain. Itu justru baru mulai. Mereka harus mengimbangi dengan interkasi horisontal untuk engage dengan user. Oleh karena itu perlu bagi setiap wartawan untuk melakukan personal branding di media sosial dengan personal value yang tetap sejalan dengan value korporat.

  3. Harus dikenali siapa pembaca dan sesuaikan dengan demografi mereka. Karena user media digital adalah gen milenial yang berbeda denagn user majalah cetak, seluruh mindset model bercerita wartawan harus ditinjau ulang. Selain tidak terlau panjang, juga dibuat bagaimana agar orang tidak bosan saat menyimak,. Misalnya dengan infografis , dengan kartu atau video. Tidak hanya mengandalkan tekt dan foto. Siap-siap juga jika mereka lebih suka membaca bukan dari web tapi melalui media sosial. Untuk setiap format tersebut, harus tetap dipastikan agar pembaca tetap mendapatkan user experience terbaik, meski dia berada di halaman orang lain yaitu media sosial. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)