Saingi TV, Tingkat Konsumsi Media Luar Ruang Capai 81%

Kendati televisi dan media digital masih menjadi primadona bagi para pemasar di Tanah Air, namun media luar ruang atau Out of Home (OOH) dinilai masih sangat efektif. Survei Brand & Marketing Institute (BMI) Research dan Iconic terhadap 1010 responden di Jabodetabek mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat urban dalam melihat promosi media luar ruang (OOH) mencapai 81%. Angka itu hanya dua tingkat di bawah televisi yang mencapai 83%, sedangkan online hanya mencapai 55%, bahkan media cetak cukup di angka 20%.

billboard ok

General Manager BMI Research Shandy Dwi Fernandi menjelaskan, meningkatnya penetrasi media luar ruang di Jabodetabek mencapai 81% tersebut didukung fakta bahwa tingginya tingkat mobilitas masyarakat kota besar di tengah kepadatan lalu lintas sehari-hari. Dengan demikian, separuh dari mereka melakukan aktivitas di luar rumah selama lebih dari 10 jam setiap harinya.

Diyakini Shandy, “Media luar ruang mampu memberikan dampak yang sangat positif dalam mempengaruhi persepsi dan mendorong konsumen di kota besar untuk membeli produk ataupun menggunakan jasa yang iklannya terdapat di berbagai tempat yang tersedia di publik area.”

Sayangnya, tambah Shandy, para marketers belum mengetahui fakta itu. Alhasil, belanja iklan (advertisement expenditure atau adex) media luar ruang masih menempati posisi keempat setelah televisi, koran, dan majalah.

Beriklan di media luar ruang, menurut Shandy, dinilai efektif dan efisien karena biaya yang ditawarkan sangat terjangkau jika dibandingkan dengan media yang lain. Ia pun mencoba membandingkan biaya media luar ruang dengan media lainnya. “Biaya untuk mempengaruhi 1000 orang melalui iklan luar ruang hanya membutuhkan biaya Rp 2.100, sedangkan biaya koran mencapai 83 kali lipat dan televisi 28 kali lipat untuk beriklan,” tegas Shandy.

Tingginya perhatian masyarakat kota terhadap iklan di media luar ruang rupanya juga dipengaruhi oleh tampilan dan penempatan iklan tersebut. “Hal ini karena gambar dan desain (visual) merupakan hal yang paling mudah diingat dan menarik perhatian bagi konsumen, bukan audio. Tren di masyarakat urban perkotaan, 5 dari 10 orang atau sekitar 47% selalu melihat iklan luar ruang,” tandas Shandy.

Diimbuhkan General Manager Iconic Khomeini, “Kegiatan ekonomi dan bisnis selalu bertumpu pada aktivitas pemasaran dan periklanan di media massa. Meski di era digital saat ini televisi masih jadi media primadona bagi industri untuk mengenalkan produk dan jasa mereka kepada konsumen, namun faktanya iklan di media luar ruang jauh lebih efektif dan efisien.”

Oleh karena itu, tutur Khomeini, hasil riset tersebut memantapkan Iconic sebagai agensi spesialis media luar ruang untuk terus mengembangkan bisnisnya. “Iconic saat ini memiliki inventori terbesar di Indonesia dengan 308.360 titik iklan yang bervariasi dari transportasi laut (kapal roro), udara (pesawat komersil), darat (Angkot, KRL, KAI, Bus), pusat belanja, mall, dan billboard. Potensi bisnis media luar ruang mencapai Rp 66,8 triliun per tahun dengan total 688.586 titik iklan,” akunya.

Mengenai lokasi yang efektif, ujar Khomeini, penempatan iklan di transportasi publik seperti angkutan kota, kapal, pesawat, atau kereta menguntungkan karena media yang bergerak bisa menarik perhatian masyarakat. “Potensi titik media luar ruang yang paling tinggi dipilih perusahaan untuk memasang iklan adalah transportasi darat seperti angkutan kota lalu disusul billboard dan gedung perkantoran,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)