Agar Brand Dicintai oleh Konsumen

Membangun brand yang dicintai oleh audiensnya bukanlah hal yang mudah. Faktanya, hasil riset terbaru yang dirilis oleh Havas Media menunjukkan bahwa 73% brand berpotensi hilang karena tidak dipedulikan oleh audiensnya, 55% audiens menyatakan telah memboikot satu brand selama 12 bulan belakangan, dan hanya 20% audiens di seluruh dunia yang memandang bahwa brand memiliki dampak positif dalam hidup mereka.

rsz_your-brand

Judit Mireder, seorang ahli digital strategist dari Y brand Ltd mengungkapkan bahwa fakta-fakta tersebut mengindikasikan bahwa audiens semakin menuntut brand untuk menjalankan model bisnis yang memiliki integritas. Artinya, brand tidak hanya bergerak karena faktor keuntungan saja, namun harus lebih dari itu. Brand dituntut untuk beradaptasi dan merangkul ide yang memiliki manfaat lebih besar. Lantas, bagaimana caranya agar brand dapat memenuhi keinginan audiens tersebut

Menurut Mireder, tujuan brand harus berasal dari "top". Tahukah Anda bahwa melakukan program CSR dengan sebaik-baiknya dapat berdampak positif terhadap profit brand? Chipotle, Tesla, Whole Foods, Nike, Ikea, Natura, dan Unilever merupakan beberapa contoh brand yang sukses menerapkan prinsip ini. Berkat komitmen mereka dalam melakukan aksi CSR, branding mereka semakin kuat sehingga akhirnya profit yang mereka terima pun semakin besar.

Brand harus mampu menggali trust. Menurut Jerry Michalski, founder REX, trust adalah jembatan utama yang mendasari hubungan antara konsumen dengan brand. "Trust lebih murah dibandingkan kontrol, lebih efektif, transformatif, regeneratif, dan sosial. Trust memungkinkan brand dan konsumen bergabung menjadi satu." Salah satu brand yang sukses membangun trust ialah Footprint Chronicles. Brand ini tidak hanya mempublikasikan keseluruhan proses supply chain kepada konsumen, namun juga mendorong mereka untuk berkompetisi mengisi proses tersebut.

Selanjutnya, brand harus transparant. Transparansi merupakan isu fundamental. Beberapa brand sudah mulai menyadari pentingnya melakukan transparansi. Chobani, sebuah perusahaan yogurt, sukses meraup keuntungan sebesar US $ 5 juta hanya dalam waktu 5 tahun berkat strategi "virtual field trips" mereka. Di sini, para konsumen dapat melihat-lihat isi pabrik serta sawah milik Chobani hanya dengan melalui channel digital saja. Meskipun demikian, perlu disadari bahwa menjalankan transparansi bukanlah hal yang mudah. McDonalds misalnya, kampanye "Our food, your questions" mereka mendapat respons dari 42,000 orang. Menjawab pertanyaan sebanyak itu tentulah bukan hal yang mudah.

Brand dituntut untuk mampu bercerita. Pada suatu saat, Michael Dickstein dari Heineken membuka presentasinya dengan kalimat "Selling more by telling people to drink less". Kalimat tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi audiensnya, karena apa yang disampaikan oleh Michael sangat kontradiktif dengan industri yang digelutinya. Mengangkat masalah di masyarakat yang ditimbulkan oleh industri sendiri mungkin bukanlah sebuah topik yang nyaman untuk diperbincangkan. Namun justru topik seperti inilah yang diinginkan oleh audiens saat ini: langsung pada inti masalah, serta membuka diri akan diskusi.

Terakhir, brand harus jujur, terbuka, dan berani menghadapi tantangan. Menemui konsumen dalam "eye level" bermakna bahwa brand tidak perlu tampil dengan menggunakan topeng cantik. Sebaliknya, brand harus mau membuka pintu bagi audiens, serta mau merangkul transparansi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)