Digital Marketing Indonesia: Antara Optimisme dan Tantangan

digital-marketing-indonesia Indonesia bukanlah pasar iklan terbesar di Asia Pasifik, tetapi dengan ketiga terbesar penduduk di wilayah tersebut (setelah China dan India) -dan yang, seperti orang lain di wilayah tersebut, bergerak lebih ke arah kelas menengah status dibayar belanja media meningkat dengan cepat. Tahun ini, perkiraan eMarketer, jumlah pengeluaran yang dibayar media di Indonesia akan naik 22,0% menjadi $ 11,16 miliar. Pada akhir periode perkiraan kami, pada tahun 2018, belanja akan hampir dua kali lipat menjadi hampir $ 20 miliar. Pertumbuhan dua digit akan terus berlanjut sepanjang periode proyeksi. Ada potensi pertumbuhan yang tinggi di pasar e-Commerce Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan internet dan penetrasi mobile, basis konsumen tumbuh dan pengeluaran yang lebih besar, perkembangan pesat di kedua situs penjualan langsung dan pasar, serta kegiatan terus menerus dalam ruang sosial. Ekosistem secara online Indonesia juga membutuhkan peningkatan investasi di bidang infrastruktur dan logistik untuk bersaing dengan tuntutan yang berkembang ini dan juga menghadapi tantangan dalam perilaku konsumen, mengingat ragu-ragu pasar lokal untuk sepenuhnya menggunakan pembayaran online. Bagaimana masa depan bisnis online di Indonesia, Majalah MIX-Marcomm mewawancarai beberapa pakar. Berikut tanggapan mereka. Andi S Boediman, Founder Ideosource, Venture Capital for Digital Business Saya mulai dengan optimistic view terhadap Indonesia. Ngomong digital marketing kita intens di empat kategori besar: content, advertising, e-commerce, dan software after services. Kalau kita bicara tentang Indonesia, saya percaya ada empat driver yang akan membuat industri digital di Indonesia tumbuh sangat besar. Pertama, kita punya huge market di mana industri transaksi barang yang masuk ke online hari ini baru 0,1% (bandingkan dengan Thailand yang sudah 8%). Kedua, akan adanya modal yang masuk besar-besaran untuk e-commerce di Indonesia, jadi sekarang semua “jalan menuju roma”-nya market place itu. Komponen ketiga, kita akan menjadi pemain e-money terbesar di dunia karena stimulus regulasi melalui bantuan langsung yang menyasar kelas menengah bawah—dengan kartu saktinya. Dan terakhir, Indonesia akan menjadi high level distribution, dengan adanya rencana Pemerintahan untuk membangun jalur tol laut yang mampu menghubungkan seluruh pulau di Nusantara. Nanda Ivens, CEO XM Gravity Kalau kami amati alokasi digital budget sebagian besar klien saat ini masih di bawah 10% dari total marketing budget. Ada yang di atas 10% tapi sangat jarang. Digital masih seperti anak tiri. Digital marketing or advertising, it's like the last thing on the mind of marketer. Tapi sebenarnya kami juga salah satu part of the problem. The way we communicate it's also the part of the problem. Marketers sering tidak punya kepercayaan diri. Padahal penduduk di Indonesia masih sekian banyak, yang punya mobile phone jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Nirmala, Associate Partner Digital Mindshare, agensi Unilever Khusus buat Unilever, we do a lot of it, we see that a lot more people actually engaging with our brands with digital platform. Kalau misalnya dilihat sih, YouTube is going to be an important part of the promotion plan. Konten di YouTube atau di online media platform itu harus berbeda dari yang di TV. Cuma kan memang approach-nya bisa dua, apa memang iklan TV because we do have consumer in TV, sama how can we pass the message using the video. Sekarang di kalangan anak muda kan their celebirities is the not the celebrities that was the 5 years ago. It's the Youtubers. Nah bagaimana caranya supaya kami memiliki pesan brand, tapi tidak teralu memaksakan pemirsa untuk membeli. It's sound like a klise, we see that happen a lot. Joseph Lumban Gaol, CEO m-Stars Pada saat mau masuk ke ranah digital, banyak brand atau klien mengharapkan agensi berfikir seperti marketer. Padahal scope-nya agency itu hanya marketing communication. Kalau 4P itu, hanya promotion-nya saja. Tapi 3P yang lainnya itu PR-nya si klien. Kalau PR-nya saja tidak selesai, dia menyalahkan agensinya. Menurut saya, salah satu solusinya adalah mengedukasi marketer-nya. Start with think about digital distribution and how you integrate your distribution with digital. Nah itu, itu bukan kerjaan agensi. Itu kerjaanya konsultan. Intinya kita harus menjelaskan kalau digital marketing bukanlah digital advertising. In order to build the digital marketing industry, semua stakeholder harus duduk bareng untuk me-redesain semua proses bisnis anda, integrasikan dengan digital. Nah jadi balik lagi, semuanya ke kompetensi. Herwinto Chandra Sutantio, Head of Digital XL Axiata Saya sepakat, yang jarang dipakai (sebagai KPI) itu costumer life-time value. Tapi di telko indikator itu paling sering dipakai. Karena bermain digital, costumer life-time value sangat-sangat penting dan bagi kami justru menjadi indikator marketing yang mudah diukur. Jadi kita tidak lagi membahas lagi berapa bujet yang dimiliki, tapi life-time value-nya seperti apa. Kalau Bapak mau life-time value-nya 10 tahun, bapak punya budget 1 juta, ya kita menyesuaikan. Tapi diharapkan dari salesnya akan men-generate new budget atau new time-value dan seterusnya. Majin, CEO Bounce Praktik/formasi kami dalam menjalankan dan membangun membangun media sosial memang sedikit berubah. Dari yang awalnya berpikir bagaimana membuat konten yang energing, atau kata-kata (konten) yang gampang diterima (audience), tapi jatuhnya sekarang lebih ke arah pelayanan pelanggan. Dan kenyataannya, hal ini tidak terbatas waktu karena user di Indonesia justru aktif sekali ketika malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)