Dukung Kampanye Anti Kantong Plastik, BATAN Hadirkan Teknologi Plastik Ramah Lingkungan

BATAN

Kampanye Anti Kantong Plastik atau "No Plastic" sudah dimulai oleh sejumlah ritel di Indonesia pada Februari 2016 lalu. Harga kantong plastik senilai Rp 200 yang dibebankan kepada pembelanja di ritel modern, diharapkan dapat memicu konsumen Indonesia untuk membawa kantong belanjaan mereka dari rumah. Dengan demikian, penggunaan kantong plastik—yang sulit terurai—diharapkan dapat menurun.

Upaya itu cukup dimaklumi. Lantaran, berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), penggunaan kantong palstik sudah menembus 300 lembar per harinya di setiap gerai atau toko. Sementara itu, jumlah gerai di Indonesia saat ini sudah mencapai 90 ribu. Alhasil, tak kurang dari 9,85 miliar lembar kantong plastik digunakan setiap tahunnya.

Tak mengherankan, jika Indonesia menempati peringkat kedua di dunia, setelah China, yang tingkat konsumsi plastiknya paling tinggi. Fakta itulah yang mendorong Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk turut berpartisipasi mengurangi dampak negatif lingkungan dari penggunaan kantong plastik. Salah satunya, memanfaatkan teknologi nuklir untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengatasi penggunaan plastik konvensional.

Dijelaskan Kepala BATAN Djarot Sulstio Wisnubroto, “Teknologi plastik yang mudah diurai, sebenarnya sudah dikembangkan BATAN sejak 15 tahun silam. Produk teknologi plastik ramah lingkungan dikembangkan oleh Pusat Aplikasi Isotop dan Raidasi BATAN dengan menggunakan komposit limbah tapioka.”

Beberapa keunggulan proses radiasi adalah prosesnya yang relatif sederhana, aman, bersih, dan tidak menggunakan katalis kimia. Produknya pun realtif kuat dan dapat mempercepat produk plastik terurai oleh mikroba tanah hanya dalam kurun waktu 2-6 bulan. Selain itu, keunggulan lainnya adalah mudah dibentuk dan diwarnai, sehingga tidak hanya dapat digunakan untuk kantong plastik, tetapi juga untuk pembuatan wadah lain, seperti vs bunga, piring, gelas, dan sebagainya.

Keseriusan BATAN mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan kantong plastik dibuktikan lewat kerja sama yang sudah dilakukan BATAN dengan PT Sarana Tunggal Optima. Upaya tersebut demi mengoptimalkan teknologi radiasi untuk memproduksi plastik ramah lingkungan guna ditingkatkan pada skala industri. Melalui kerja sama itu, keduanya sudah berhasil memproduksi plastik ramah linkungan di daerah Solo. BATAN juga sudah melakukan kerja sama dengan PT Tirta Marta, produsen kemasan plastik yang salah satu unggulannya adalah palstik Oxium.

“Tahun ini, dengan momentum kampanye Anti Plastik yang sedang digulirkan oleh pemerintah maupun para peritel di Indonesia, kami ingin turut berpartisipasi mensukseskan misi tersebut. Untuk itu, kami akan melakukan sosialisasi sekaligus promosi kepada pihak pemerintah maupun swasta tentang teknologi nuklir yang dimiliki BATAN sebagai solusi atas penggunaan plastik konvensional,” tutup Djarot, yang menyebutkan bahwa investasi untuk menghadirkan satu Irradiator (fasilitas nuklir) dibutuhkan biaya sebesar Rp 70-90 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)