Gandeng YKI, AstraZeneca Hadirkan Aplikasi PULIH

AstraZeneca bersama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) resmi meluncurkan aplikasi PULIH (Program Peduli Sehat), pada hari ini (28/7) secara virtual. Objektif dari peluncuran aplikasi PULIH adalah untuk memudahkan pasien kanker mendapatkan akses terapi kanker.

PULIH merupakan aplikasi yang menyediakan layanan digital terintegrasi yang memberikan kemudahan kepada pasien untuk mengakses program bantuan pasien, pengingat jadwal minum obat, dan materi edukasi seputar penyakit, pengobatan, dan isu kesehatan lainnya.

Dituturkan Direktur AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri, “Kanker membutuhkan deteksi dan penanganan sedini mungkin agar meningkatkan keberhasilan pengobatan kanker. AstraZeneca melalui tagline ‘New Normal, Same Cancer’, berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat dengan meluncurkan aplikasi PULIH.”

Untuk membentuk dan mensosialisasikan aplikasi PULIH, lanjutnya, AstraZeneca bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia. “Dengan kerja sama ini, kami optimis dapat membantu pasien kanker dan anggota keluarganya untuk tetap mendapatkan penanganan kanker agar pengobatan dapat berhasil,” kata Rizman.

Ditambahkan Ketua YKI Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, “Yayasan Kanker Indonesia menyadari bahwa kesinambungan dalam perjalanan pengobatan seorang pasien kanker itu amat penting dan pemanfaatan teknologi digital merupakan langkah strategis. Oleh sebab itu, YKI menyambut baik tersedianya aplikasi PULIH yang dapat memfasilitasi pasien kanker di seluruh Indonesia dengan beragam informasi dan akses seputar kanker.”

Lebih jauh Prof. Aru menegaskan, layanan digital sangat membantu pasien kanker, terlebih selama pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan dan perhatian terhadap penanggulangan kanker. “Melalui kerja sama ini, kami berharap aplikasi PULIH juga dapat mendorong masyarakat untuk menyadari dalam melakukan deteksi dini kanker, termasuk pada kanker paru, guna mencegah ditemukannya kanker pada stadium lanjut,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Onkologi Paru PDPI, Prof. dr. Elisna Syahruddin Ph.D, Sp.P(K) memaparkan, berdasarkan data Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, jumlah kasus baru kanker paru di Indonesia meningkat 8,8% menjadi 34.783 kasus atau menempati peringkat ketiga. Adapun jumlah kematian akibat kanker paru meningkat 13,2% menjadi 30.843 jiwa atau menempati peringkat pertama. Hal itu disebabkan sebagian besar pasien terdiagnosa pada stadium lanjut.

“Diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu merupakan faktor penting untuk menentukan keberhasilan pengobatan kanker paru. Masyarakat perlu menghindari faktor risiko kanker paru dan mengetahui gejala kanker paru sehingga apabila merasakan beberapa gejala tersebut, perlu segera melakukan konsultasi kepada dokter agar bisa terdiagnosa lebih cepat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)