Peran Aktif Perhumas Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN

Menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan jatuh di akhir tahun ini, Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) tampak aktif menggelar forum berbagi di sejumlah daerah. Untuk pertama kalinya, forum berbagi untuk para praktisi PR (Public Relations), akademisi, serta komunitas PR dilaksanakan di Bandung pada akhir April lalu.

Perhumas gelar Forum Berbagi bersama para praktisi PR, akademisi, hingga komunitas PR di Biofarma, Bandung. Perhumas gelar Forum Berbagi bersama para praktisi PR, akademisi, hingga komunitas PR di Bio Farma, Bandung.

Bertempat di Bio Farma, Bandung, forum berbagi tersebut mengusung tema “PR Readiness, Opportunities & Challenges in Facing ASEAN Economic Community”. Pada forum tersebut dihadirkan pembicara utama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan serta pembicara praktisi. Antara lain, Agung Laksamana selaku Ketua Umum Perhumas dan Director Country Corporate Affairs Citibank Indonesia; Islaminur Pempasa, Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) sekaligus Editor-in-Chief Pikiran Rakyat; Dewi K. Soedarsono, Telkom University; serta Arifin Asydad, Editor-in-Chief DetikCom.

Agung Laksamana, Ketua Umum Perhumas, menerangkan, “Praktisi kehumasan siap dukung kesiapan MEA tahun 2015. Forum berbagi ini diharapkan mampu memberikan pandangan tentang kesiapan, tantangan, dan peluang MEA agar mampu meningkatkan value dari korporasi. Termasuk, value dari pemerintah baik regional maupun nasional. Khusus Jawa Barat, telah memiliki keunggulan lokal baik aspek ekonomi, sosial, dan budaya yang terintegrasi.”

Ditambahkan N. Nurlaela Arief, Ketua Panitia Forum yang baru saja terpilih sebagai Ketua BPC Perhumas Cabang Bandung, acara tersebut dihadiri sekitar 150 orang yang mewakili praktisi PR dari berbagai perusahaan BUMN, Swasta, Lembaga Pemerintah, Akademisi serta Mahasiswa. “Acara dikemas dengan menambahkan sentuhan Seni Kecapi sebagai bentuk konservasi budaya Sunda Wiwitan atau Kanekes. Sebab, aspek kearifan lokal ini merupakan jati diri yang mampu meningkatkat posisi tawar, khususnya Jawa Barat dalam menghadapi MEA,” ujar Nurlaela, dalam siaran pers yang diterima MIX.

Pada kesempatan itu, para pembicara menyampaikan berbagai kisah inspiratif dari praktik terkait budaya dan kearifan lokal. Termasuk, bagaimana pentingnya meningkatkan kompetensi praktisi Public Relations untuk dapat memperoleh keterampilan komunikasi lintas budaya dan kompetensi inti lain yang diperlukan untuk menghadapi MEA.

Salah satu UKM ikut berbagi pada forum itu adalah Batik Pakidulan-Sukabumi, Binaan PT Bio Farma, yang koleksinya diperagakan oleh para model. “Batik pakidulan merupakan batik ramah lingkungan yang diproses dengan menggunakan teknologi Nano dan telah didaftarkan hak ciptanya di HKI. Batik Pakidulan memiliki ciri desain bertema lingkungan di Geopark Ciletuh. Ciri khas tersebut menampilkan Bio-diversity, Geo-diversity, dan Cultural-diversity,” tutup Nurlaela.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)