MIX.co.id - Booming startup yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, telah memicu kebutuhan digital talent di Indonesia. Selain itu,  kebutuhan digital talent juga datang dari berbagai perusahaan yang tengah melakukan transformasi, antara lain untuk kebutuhan  digital talemarketing, business, analisis, hingga ranah industry 4.0.

Hal itu diperkuat dengan hasil studi Bank Dunia, yang menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 9 juta digital talent dalam kurun waktu 2015-2030. Itu artinya, dalam setahun, Indonesia membutuhkan 600 ribu orang.

Diungkapkan Vice President HC Workforce Solution and Enabler Telkomsel Harris Wijaya, pada Selular Congress 2022 yang digelar virtual pada 29-31 Maret 2022, “Lima tahun yang lalu mungkin kita belum kepikiran untuk mencari beberapa digital talent yang ada saat ini. Misalnya digital talent untuk big data spesialist, fintech engginers, dan beberapa pekerjaan yang lain. Namun saat ini digital talent itu dibutuhkan.

Lebih jauh Harris menegaskan, jika trend yang terjadi di sektor telekomunikasi akan semakin mempengaruhi kebutuhan digital talent yang makin beragam dan berkembang. “Dulu, hanya ada pesan singkat hingga telepon suara. Kini, Telkomsel sudah menjangkau kebutuhan pelanggan untuk menonton film, bermain game, hingga bekerja. Nantinya, kemungkinan akan berkembang lagi kebutuhannya,” ucapnya.

Sejumlah upaya kolaborasi juga dilakukan Telkomsel untuk mendapatkan digital talent yang mumpuni. "Misalnya, Telkomsel bekerja sama dengan Telkom University untuk menyediakan digital talent yang terbaik," lanjut Harris.

Ditambahkan Wakil Rektor Telkom University Rina Puji Astuti, berbagai pihak kini membutuhkan penyediaan digital talent. Oleh karena itu, Telkom University juga telah menyiapkan sejumlah program studi untuk mendapatkan lulusan terbaik yang siap menjadi digital talent.

“Kurikulum di Universitas Telkom sudah sesuai dengan kebutuhan digital talent yang ada saat ini, mulai dari Artificial intelligence (AI) hingga big data. Bahkan, sudah berpijak pada Undang-Undang online,” paparnya.

Dia juga mengingatkan, definisi digital talent tidak hanya identik dengan muda dan baru atau fresh graduate, tetapi juga adanya sumber daya manusia yang masih eksis hingga sekarang.  "Para existing talent ini juga harus mau berubah, mampu beradaptasi, belajar hal baru, dan menjadi bagian dari kapal transformasi yang harus mau berubah," sarannya.

Sementara itu, dituturkan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Usman Kansong, yang menjadi pembicara kunci di Selular Congress 2022, "Perubahan yang terjadi dalam transformasi digital harus dilalui Bersama-sama. Baik para existing hingga fresh graduate, semuanya harus bersiap menghadapi perubahan dengan mempelajari semua hal yang baru, yang dibutuhkan di era ekosistem digital," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjakusuma, menegaskan bahwa banyak orang akhirnya menjadi pengangguran karena tidak memiliki kecakapan digital. “Untuk itu, Google menggelar program Work With Google yang bisa meng-update semua perkembangan digital bagi semua orang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)