Peran Kunci Tenaga Pemasar di Industri Asuransi Jiwa

Industri asuransi jiwa menutup tahun 2016 lalu dengan kinerja yang sangat positif. Di tengah melesunya berbagai industri di Tanah Air, pendapatan industri asuransi jiwa sanggup tumbuh 57,4% pada sepanjang tahun 2016. Pertumbuhan tersebut membuat industri asuransi jiwa mampu membukukan total pendapatan senilai Rp 208,92 triliun. Dijelaskan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim, “Tingginya pertumbuhan pendapatan asuransi jiwa, salah satunya didorong oleh pertumbuhan pendapatan premi di 2016, yang meningkat sebesar 29,8% atau menjadi Rp 167,04 triliun. Pertumbuhan premi tersebut dikontribusi oleh kanal distribusi bancassurance, yang naik 74,1%, sehingga mampu berkontribusi sebesar 43,4%. Sedangkan kanal distribusi keagenan hanya tumbuh 6,2% dengan kontribusinya yang mencapai 38,9%, serta kanal distribusi alternatif yang tumbuh 14,7% atau berkontribusi sebesar 17,7%.” Pertumbuhan positif lainnya yang tampak sangat signifikan yang diperlihatkan industri asuransi jiwa adalah dari sisi investasi. Hingga akhir kuartal keemapt 2016 lalu, hasil investasi asuransi jiwa melonjak 2.145,5% atau setara dengan nilai investasi Rp 33,94 triliun. Catatan positif kinerja industri asuransi jiwa tersebut, diyakini Hendrisma, menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap produk asuransi jiwa makin menguat. “Oleh karena itu, AAJI akan terus berupaya menggelar program edukasi literasi dan inklusi terkait asuransi jiwa. Objektif, agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya berasuransi dan menggunakan produk asuransi,” tegasnya hari ini (16/2) di sela-sela press conference yang digelar AAJI di Jakarta. Ditambahkan Hendrisman, ditorehkannya kinerja positif tersebut tak lepas dari sejumlah strategi yang sudah dijalankan AAJI. Mulai dari program Top Agent Award AAJI yang rutin digelar tiap tahunnya, program Insurance Day yang digelar bersama OJK dan industri asuransi lainnya, program 10 Juta Agen melalui kegiatan literasi dan inklusi, dihadirkannya sistem Mobile Apps untuk pendaftaran dan perekrutan agen, seminar maupun pelatihan untuk para tenaga pemasar asuransi, hingga mendorong pertumbuhan tenaga pemasar berlisensi. Meski catatan kinerja industri asuransi terhitung sangat positif, namun penetrasi produk asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah, yakni baru 6,8%. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi literasi keuangan yang digelar secara berkelanjutan dan massif. “Dan, untuk mendorong literasi keuangan di industri asuransi jiwa, maka tenaga pemasar memainkan peran kunci,” yakin Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu. Oleh karena itu, AAJI memiliki komitmen untuk mencetak para tenaga pemasar asuransi yang berlisensi. Sejatinya, menurut Togar, peningkatan jumlah tenaga pemasar asuransi yang berlisensi menjadi salah satu strategi penetrasi dalam menjangkau masyarakat di pelosok negeri. “Tahun 2016 lalu, jumlah tenaga pemasar asuransi jiwa berlisensi naik sebesar 6%, yaitu menjadi 543.192 orang. Dari total tenaga pemasar tersebut, 90,8% berasal dari kanal distribusi keagenan,” lanjut Togar. Pertumbuhan jumlah tenaga pemasar asuransi jiwa berlisensi di 2016, dikatakannya, paling tinggi berasal dari kanal distribusi alternatif, yakni meningkat sebesar 34,7% atau menjadi 23.554 orang. Selanjutnya, diikuti oleh kanal distribusi bancassurance yang jumlah tenaga pemasar berlisensinya mencapai pertumbuhan 7,1% atau menajdi 26.374. Adapun kanal distribusi keagenan, jumlah pemasar berlisensinya hanya tumbuh sebesar 4,8% atau menjadi 493.264 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)