Perlukah Media Menjawab Serangan Berita Hoax?

Berada di era social media, membuat seseorang tak bisa lepas dari sajian berita atau konten palsu, yang di Indonesia lebih dikenal dengan berita hoax. Diakui John Hall, CEO of Influence & Co, seperti yang dikutip Forbes.com, berita palsu berdampak pada legitimasi penerbit atau perusahaan media beserta konten beritanya. Alhasil, di tengah menjamurnya berita palsu alias hoax, kini, tak sedikit netizen berpikir dua kali tentang sumber media yang dapat mereka percaya. Fakta itu tentu saja menjadi tantangan sekaligus Pe-eR (pekerjaan rumah) bari para pengelola media. Dalam hal ini, perusahaan media dituntut untuk terus mengelola legitimasi media mereka, termasuk membangun trust kepada audience. Kuncinya adalah membuat konten yang dapat dipercaya dan menciptakan percakapan terkait konten dengan melibatkan audience yang tepat. Apakah pengelola media perlu menjawab serangan dari berita palsu? Menurut John Hall, media memang harus menjawabnya dengan cara-cara yang strategis. Lantas, apa saja yang harus dilakukan para pengelola media di tengah serangan berita hoax? John Hall menawarkan sejumlah tips untuk menjawab serangan itu. #1 Mendistribusikan Konten Berita pada Audience yang Tepat Saat ini, konten ada di mana-mana, dan itu tidak lagi terbatas pada media. Tren media sosial dan perubahan platform telah membuat audience lebih mudah untuk membuat dan berbagi konten pada saluran social media mereka sendiri. Sayangnya, tidak banyak brand yang mampu melakukan pekerjaan dengan baik dalam hal menciptakan engagement antara konten dengan audience (pemirsa) yang tepat. Termasuk, mendistribusikan konten pada audience yang tepat. Artinya, selama ini pemirsa menilai bahwa selama ini konten yang dihadirkan tidak diciptakan untuk mereka dan tidak melibatkan mereka. Hasilnya, konten pun menjadi “sampah” bagi mereka. Paling bahaya, mereka skeptis terhadap konten tersebut dan berhenti mempercayainya. #2 Memastikan Berita Layak dan Terpercaya Jika pemirsa sudah skeptis, maka akan berbuntut pada konten yang akan dipublikasikan kemudian. Hal itu tentu saja menyulitkan media dalam memelihara kepercayaan sekaligus pembaca loyal dari media. Oleh karena itu, media membutuhkan lebih dari sekadar konten yang menarik untuk diterbitkan maupun artikel yang informatif atau menghibur bagi audience. Sebab, konten seperti itu sudah tidak cukup untuk menjaga loyalitas audience agar mereka tidak skeptis. Salah satu cara memelihara loyalitas dan membuat mereka tidak skeptis adalah dengan memastikan bahwa berita atau konten yang disajikan layak dan terpercaya. Perusahaan media dapat mencontoh apa yang dilakukan Facebook dengan menciptakan tools berupa fact-checking yang mampu memproses secara lebih dalam konten yang disumbang oleh para kontributor. Artinya, kode etik terkait otentik dan akurasi konten akan menciptakan kepercayaan di mata audience, di tengah konten hoax yang harus mereka terima setiap harinya. Hal lain yang membuat skeptis para audience adalah native Ads, yakni membuat artikel yang sebenarnya ada pesan sponsor di dalamnya. Konten seperti itu sejujurnya menjadi salah satu alasan mengapa audience menjadi skeptis dan tidak percaya. Terbukti, hasil riset menunjukkan bahwa 43% dari audience kehilangan kepercayaan mereka terhadap konten native Ads. Apapun solusinya, pengelola media memang harus melakukan sesuatu untuk memelihara kepercayaan pemirsa. Sebab, jika mereka tidak melakukan sesuatu, konsumen akan menemukan nilai lebih di media lain. Artinya, jangan sampai konten berita yang jujur menjadi “korban” dari serangan berita hoax di 2017 nanti. #3 Berkomitmen dengan Berita yang Bernilai dan Jujur Langkah berikutnya adalah pengelola media harus mempersenjatai diri dengan tools maupun proses yang mampu meyakikan audience mereka. Antara lain, dengan melakukan pemasaran konten, berlatih membua konten yang otentik, dan mendistribusikannya pada audience yang tepat. Apapun yang terjadi berikutnya, saya tidak percaya berita palsu atau konten hoax akan menang ke depannya. Sepanjang para pengelola media berkomitmen untuk memberikan konten yang bernilai dan menarik bagi audience, maka dipastikan konten yang jujur akan menjadi pemenangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)