Raditya Guntur, Entrepreneur Lokal yang Menasional

foto-ceo-pt-bhinaya-rBerawal dari Rp 100 ribu sebagai modal bisnisnya, Raditya Guntur kini mampu mencetak revenue hingga ratusan miliar rupiah. Bahkan, bisnisnya pun merambah ke sektor lain, yakni dari agensi marketing komunikasi merangsek bisnis properti. Seperti apa sepak terjangnya sebagai seorang entrepreneur?   Memulai sebuah bisnis tak harus padat modal. Dengan investasi awal yang sangat kecilpun bisnis sudah dapat dimulai. Hal itulah yang dialami Raditya Guntur—yang akrab disapa Radit. Bermodal passion dan uang Rp 100 ribu, Raditya mencoba memanfaatkan peluang bisnis di industri organizer pada tahun 2007. Radit yang kala itu masih berstatus mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Hubungan Internasional memutuskan untuk mengorganisir anak-anak SMA di Semarang yang ingin melakukan ujian masuk ke UGM, Jogja. “Waktu itu, saya hanya mengatur perjalanan, penginapan, hingga memberikan sedikit tips 84 siswa SMA untuk mengikuti ujian di UGM,” ceritanya. Tak dinyana usaha awal Radit membuahkan hasil. Keuntungan yang diperoleh Radit kala itu mampu mencapai Rp 8 juta. Angka yang tidak sedikit tentunya bagi seorang mahasiswa. Bisnis tersebut rupanya tak bertahan lama, hanya setahun. Sebab, UGM sudah membuka ujian masuk di Semarang. Ia pun memutuskan untuk membuka bisnis event organizer (EO) dengan bendera DIGE. Sambil menjalankan bisnis EO-nya itu, sulung dari dua bersaudara itu juga sempat berkarir di bank asing di Yogyakarta, dengan posisi terakhir sebagai Kepala Cabang. “Saya memutuskan untuk melepas karir di bank dan fokus pada bisnis EO saya. Klien pertama yang saya peroleh pada tahun 2008 adalah Combiphar untuk event Lomba Mewarnai, dengan nilai proyek Rp 600 ribu,” ia bercerita. dunia-ibu-dan-aku-event-pertama-bhinaya-sebagai-agency-berskala-nasional-r

 Event Dunia Ibu dan Aku: yang membawa Radit dan Bhinaya sebagai agency nasional (Foto : dok pribadi)

Bisnis yang dibangun Radit tak hanya EO. Ia pun mulai mengembangkan bisnisnya menjadi agensi marketing komunikasi yang menawarkan One Stop Solution sebagai added value-nya. “Berawal dari EO, akhirnya jasa kami berkembang menjadi One Stop Solution yang menawarkan jasa pembesutan Above the Line (ATL) dan Below the Line (BTL),” kata pria kelahiran Semarang 17 Juni 1987 itu berkisah. Perkembangan bisnisnya  membuat Radit harus memindahkan kantornya dari Semarang ke Jakarta pada tahun 2010. Kemudian, tahun 2014, DIGE pun rebranding menjadi Bhinaya. “Sejak pindah ke Jakarta, Bhinaya pun banyak dipercaya menangani proyek yang sifatnya nasional,” terangnya. Kini, sejumlah kelompok perusahaan besar dengan merek-merek ternamanya telah dan pernah mempercayakan kegiatan ATL dan BTL mereka kepada Bhinaya. Sebut saja, Combiphar, Orang Tua Group, Unilever, Darya Varia, SOHO, Fonterra, dan proyek property lainnya. Kecerdikan Radit tak hanya mampu membesarkan Bhinaya. Namun, ia juga mampu melihat peluang yang tidak dilihat oleh orang lain. Contohnya, ketika industri properti di Tanah Air tengah melesu—dan banyak agensi tak melirik—Radit justru mendekatinya. “Tahun 2014, saya melihat ada peluang di bisnis property. Ternyata keputusan saya tepat. Sebab, billing klien property jauh lebih besar dibandingkan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) maupun farmasi. Klien property inilah yang membuat revenue kami juga meningkat sangat signifikan. Dari puluhan miliar di 2015 menjadi ratusan miliar di tahun ini,” ucapnya. Sukses membesarkan klien property rupanya membuat Radit kepincut untuk memasuki bisnis property. Mengusung brand The Akavia, Radit pun resmi membangun bisnis baru di bidang property. Sebagai pilot project, Radit meluncurkan proyek awal The Akavia di kota Semarang. Nantinya, proyek tersebut akan hadir di kota-kota lain di Indonesia. “Peluncuran akan kami gelar pada Desember 2016. Namun, dua bulan sejak  soft launching di Agustus 2016, 40% unit The Akavia sudah terjual,” lanjutnya. Diakui Radit, ada strategi jitu yang membuat bisnisnya sukses. Pertama, mendengarkan klien dengan cara menerjemahkan keinginan mereka lewat konsep dan eksekusi yang tepat. Kedua, “haram” mengatakan tidak bisa kepada klien, kecuali dengan alasan yang kuat. Ketiga, kekompakan tim yang terdiri dari anak-anak muda.    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)