SPS Gelar Webinar “Good Journalism for Our Nation”

MIX.co.id – Pers sebagai pilar demokrasi. Bersama lembaga Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif, pers adalah pilar keempat yang menopang tegaknya demokrasi.

“Karena itulah, melindungi pers bermakna melindungi (tegaknya) demokrasi,” tegas Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, dalam tayangan video yang disiarkan pada webinar nasional “Good Journalism for Our Nation”, yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat secara virtual, Kamis (23/9), di Jakarta.

Jurnalisme berkualitas hanya bisa diwujudkan oleh pers yang bekerja secara independen dan terlindungi dari berbagai tekanan kepentingan eksternal. Dalam konsepsi ini, menurut Bambang, iklim kondusif jurnalisme membutuhkan kebebasan pers.

Webinar merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan ulang tahun ke-75 SPS, menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Andy Samsan Nganro (Wakil Ketua Mahkamah Agung RI), Rosarita Niken Widiastuti (Staf Khusus Menkominfo RI), Hendry Ch Bangun (Wakil Ketua Dewan Pers), Dahlan Iskan (Tokoh Pers Nasional), dan Januar P Ruswita (Ketua Harian SPS Pusat).

Menurut Hakim Agung Andy, pers sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi publik memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada masyarakat dalam bentuk pemberitaan, sekaligus menyalurkan aspirasi rakyat kepada pemerintah.

“Peranan pers tidak terlepas dari keberadaannya di ranah publik. Sehingga antara lembaga peradilan dan pers memiliki kesamaan, yaitu dijamin kemerdekaannya oleh undang-undang dalam melaksanakan tugas yang diembannya,” tegas Andy.

Mewakili pandangan lembaga eksekutif, Niken mengungkapkan bahwa pers nasional harus bisa menjadi penyaring informasi dari banjir hoax. “Pers Nasional harus bisa menjalankan fungsinya sebagai salah satu penyalur informasi yang benar ke publik, sebagai agen anti hoax sehingga publik mendapatkan informasi yang mencerahkan,” ungkapnya.

Sesi kedua webinar menyoroti soal bisnis pers, khususnya media cetak. Hal ini berkorelasi dengan situasi bisnis pers yang tengah berada dalam tekanan luar biasa akibat disrupsi digitalisasi dan efek gelombang pandemi Covid-19.

“Pasar media cetak ke depan akan semakin sulit. Apalagi reputasinya juga semakin tergerus oleh media-media lain sesuai hasil riset yang dipaparkan Dewan Pers,” ulas Dahlan yang juga pendiri Disway. Ia pun mewanti-wanti, “Suratkabar masih bisa bertahan apabila mampu mengembalikan reputasinya di mata publik.”

Hendry Ch Bangun pada kesempatan itu memaparkan hasil riset tentang kepercayaan publik terhadap pers di masa pandemi. Secara umum responden masih percaya dengan media arus utama, tak terkecuali suratkabar.

“Mereka percaya kepada media arus utama karena faktor penyajian data dan fakta di media tersebut. Sedangkan kepercayaan terhadap media sosial karena dapat menjadi penyeimbang informasi dari instansi tertentu dan originalitas (kontennya),” urai Hendry.

Sementara Menurut Januar, upaya pers untuk meningkatkan kualitas jurnalismenya harus dimaknai sebagai strategi dalam memperkuat model bisnis pers di tengah era digitalisasi, sekaligus mendukung keberlanjutan pers di masa datang.

Peringatan 75 Tahun SPS menjadi forum untuk menyampaikan penghargaan kepada para tokoh pers nasional, terutama yang telah berusia di atas 75 tahun dan memiliki jasa besar bagi perkembangan pers nasional maupun SPS.

Para penerima anugerah SPS Lifetime Achievement Awards adalah Baslir Djabar (pendiri harian Singgalang, Padang); Tribuana Said (Pemimpin Umum Harian Waspada, Medan); Pia Alisjahbana (pendiri Majalah Gadis dan Dewi); Gusti Rusdi Effendi (pendiri harian Banjarmasin Post); dan M. Alwi Hamu (pendiri Harian Fajar yang juga Ketua Umum SPS Pusat).

Pada kesempatan itu juga dilakukan peluncuran buku “Jalan Panjang Merawat Jurnalisme yang Sehat dan Mandiri.” ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)