Masih ingatkah dengan kampanye “Sepuluh Ribu Langkah” milik Anlene, atau tahukah Anda bahwa tanggal 20 Oktober ternyata diperingati sebagai Hari Osteoporosis Nasional. Siapa sangka orang dibalik kampanye dan menjadikan osteoporisis memiliki harinya sendiri untuk diperingati, datang dari seorang yang memiliki latar pendidikan justru datang dari bidang Engineering Management, bernama Arief Tjakraamidjaja.

Menempati posisi sebagai Head Marketing Manager PT Fonterra Brands Indonesia -- pemilik brand Anlene --, ia menganggap kesuksesan dalam sebuah kampanye didorong oleh inovasi yang digali secara terus menerus, “Inovasi itu penting terutama ketika berhadapan dengan ketatnya persaingan di industri susu Hi Calcium saat ini,” ucap Arief.

Arief Tjakraamidjaja, Head Marketing Manager PT Fonterra Brands Indonesia

Menurutnya, inovasi juga datang dari lingkungan kerja yang baik. Oleh karena itu Arief merasa bersyukur bisa berkarya di Fonterra. “Saya serasa bekerja dengan keluarga. Kami sangat terbuka satu sama lain. Atmosfer kerja Di Fonterra sangat kekeluargaan. Itu sebabnya, dari level bawah sampai atas bisa saling blend in. Bahkan, birokrasi antara CEO dan direktur pemasaran, hampir tidak ada. Walhasil, keputusan bisa diambil dengan cepat dan melahirkan inovasi yang baik,” ungkap Arief.

Namun sebelum bekerja di Fonterra sejak April 2012 lalu, Arief sempat berkiprah cukup lama di Unilever Indonesia dan Thailand dengan berbagai macam posisi dan brand yang ditanganinya. Mulai dari Assistant Brand Manager Pond's tahun 2006 – 2007, kemudian ditugaskan ke Unilever Thailand menjadi Global Brand Manager untuk Pond's di tahun 2007 – 2008. Hingga akhirnya posisi Customer Marketing Manager adalah pos terakhir yang diembannya di Unilever sejak Januari 2012 hingga April 2012 lalu.

Kenyamanan bekerja di Unilever tidak lantas membuat Arief terlena. Baginya menerima tantangan adalah sebuah keniscayaan. Akhirnya, April 2012 Arief pun memutuskan hijrah ke Fonterra.

Sebagai orang yang bertanggung jawab mengelola brand seperti Anlene, Arief dituntut untuk mampu mencetuskan inovasi unik sekaligus memiliki nilai tambah bagi brand yang dipegangnya itu. Salah satu inovasi yang ia 'telurkan' adalah gerakan Osteodance.

“Mulai tahun ini, inovasi yang kami tawarkan adalah gerakan Osteodance. Jadi, di Osteodance ada gerakan dansa sehat, yang juga dapat mengurangi risiko osteoporosis. Gerakan Osteodance tersebut juga untuk membidik pasar usia muda. Sebab, dibandingkan dengan gerakan melangkah atau senam, untuk masuk ke pasar anak muda lebih mudah lewat gerakan dansa,” terang Arief.

Kegigihan bekerja diiringi dengan tema dan inovasi baru yang segar dari Arief, rupanya menarik perhatian banyak pihak untuk aktif mengamati sepak terjang pria lulusan The George Washington University tahun 2004 ini.

Alhasil pekerjaan yang dilakukannya diganjar dengan berbagai macam penghargaan mulai dari Marketing Award (IBBA dan ICSA dari Majalah MIX dan SWA), PR Awards – Honorable Distinguished Recipient ( Stevie Awards, IPRA ), serta sejumlah penghargaan lainnya. Bahkan Hari Osteoporosis Nasional berhasil menyabet penghargaan “Indonesia Public Relations Program of The Year 2012” untuk kategori Social Campaign.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)