Menjadi Jeeper—sebutan untuk pengendara Jeep, mobil gagah yang identik ditunggangi para lelaki tangguh—tak pernah terbayangkan oleh Shinta Roselyne Merodina. Sang suami-lah yang justru menjadi pemicu ibu beranak satu itu untuk memutuskan menjadi Jeeper. Dan, kisahnya sebagai jepper pun dimulai pada tahun 2007, persis ketika ia memilih Jeep sebagai tunggangan pribadinya.

Shinta Roselyne Merodina, Ketua Bidadari JKO.

"Suami saya sejak kecil hingga sekarang memang sudah mengendarai sekaligus pecinta Jeep. Suami saya-lah yang mengenalkan saya dengan jeep di tahun 2007. Bahkan, saya juga didesak suami untuk ikut komunitasnya, JKO (JK Owners-red)," kisah Shinta.

Ajakan sang suami tidak serta merta ia terima. Baru, di tahun 2012, ketika Jeep (JK) meluncurkan mesin baru yang aman untuk dikendarai wanita, salah satunya matic, Shinta tertarik untuk bergabung. Kala itu, ia memilih Rubicon berwarna orange sebagai tunggangan pribadinya. "Sejak saat itulah, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas JKO, yang waktu itu jeeper wanitanya hanya tiga orang," kisahnya.

Paska bergabung dengan komunitas JKO, Shinta pun tergerak untuk meningkatkan jumlah Jeeper wanita. Di tahun yang sama, 2012, Shinta pun mendirikan "Bidadari JKO"—komunitas wanita JKO yang berada di bawah naungan JKO. "Sekarang jumlah Bidadari JKO mencapai 56, yang berasal dari  Jakarta, Banten, Bandung, dan Bali. Sementara, total anggota JKO sendiri berjumlah 146 di wilayah Jakarta. Ke depan, kami ingin mensosialosasikan sekaligus menambah jumlah komunitas secara nasional," target Shinta, yang kini menjabat sebagai Ketua Bidadari JKO.

Diakui Shinta, untuk merekrut anggota Bidadari JKO baru, para istri jeeper yang tergabung dalam komunitas JKO pun menjadi target utama. "Saya meminta para member JKO melibatkan istri mereka untuk mau bergabung di Bidadari JKO. Misinya adalah menjadi ajang silaturahmi dan saling mengenal antar-keluarga," lanjutnya.

Serangkaian kegiatan pun digelar. Mulai dari ikut agenda touringdan aksi sosial komunitas JKO—seperti memberi bantuan ke korban Merapi, di Jogja—hingga memiliki agenda sendiri. Untuk agenda Bidadari JKO, ia membuat arisan Bidadari JKO yang digelar rutin. Obyektifnya, untuk menciptakan engagement dengan para bidadari.

"Selain itu, kami juga memiliki agenda aksi sosial ke panti asuhan, terutama anak-anak cacat bawaan sejak lahir. Kami pun terbuka untuk melakukan aksi bersama dengan berbagai instansi ataupun perusahaan, yang dapat memberikan benefit bagi para bidadari, antara lain knowledge benefit," urai Shinta, yang menyebutkan setiap kegiatan para bidadari wajib mengenakan seragam untuk menekan perbedaan status maupun menciptakan kekompakan para bidadari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)