Mengelola Usaha Kecil Menengah (UKM) di Tanah Air tak ubahnya mengelola sebuah perusahaan. Butuh kerja keras dan strategi jitu untuk mendukung UKM agar mampu bersaing dalam kancah pasar nasional maupun global. Upaya itulah yang kini tengah dilakukan Suryani Motik.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) periode 2010 – 2015, Suryani Motik

Sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) periode 2010 – 2015, Suryani—demikian ia biasa disapa—harus memperjuangkan nasib UKM. Ibu dua putra itu juga dituntut untuk bisa menjadikan pengusaha pribumi—tanpa membedakan ras tentunya—sebagai sang pemenang, alias market leader.

Diceritakan Suryani, kini HIPPI sudah beranggotakan 4 juta pengusaha pribumi dari kelas UKM. “Dan, yang akan menjadi prioritas kami di tahun 2013 adalah industry kreatif, pertanian, dan perikanan. Sayangnya, di industri kreatif, Indonesia masih kalah pamor dengan Korea. Sementara itu, di industry pertanian dan perikanan, yang notabene banyak anggota kami bergerak di kedua industri itu, masih banyak yang belum tersentuh,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan strategi jitu untuk mencapai obyektif yang telah dipatok HIPPI di awal. Salah satu strateginya adalah membentuk modal ventura, yang skema permodalanya ditujukan untuk industri kreatif, pertanian, dan perikanan. Target modal ventura yang dipatok pun sebesar Rp 20-100 miliar.

“Kami ingin modal ventura ini bisa sesukses seperti di Amerika. Dengan pendampingan modal ini, pihak UKM dari industri kreatif misalnya, yang biasanya kesulitan memperoleh modal dari bank, pasti akan lebih mudah aksesnya. Sementara itu, untuk industry pertanian dan perikanan, kami berencana mengirim tenaga-tenaga terbaik untuk diberikan pelatihan gratis, baik di Indonesia maupun Jepang,”

Alumnus Maryland University, Amerika, itu menilai bahwa ada dua kekuatan yang dimiliki pengusaha non pribumi yang seharusnya ditauladani oleh UKM pribumi. Yaitu, kekompakan yang dimiliki sesama pengusaha serta keuletan dalam menajamkan dan mengembangkan bisnis. “Prinsip kerja seperti itulah yang seharusnya dimiliki UKM pribumi,” harap Suryani.

Untuk itu, menurutnya, ke depan, persaingan bukan lagi masalah pribumi dan non pribumi. Melainkan, persaingan di tingkat global, yakni bersaing dengan pengusaha dari luar negeri. “Apalagi, di tahun 2015 akan menuju ASEAN Community. Dengan demikian, pesaingnya justru berasal dari Malaysia, Singapura, dan Bangkok,” tutup Suryani, yang meyakini bahwa ke depan tak mustahil UKM pun bisa menjadi market leader di kancah nasional maupun global.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)