PR VS. MARKETING: SIAPA PENGENDALI ERA DIGITAL SEBENARNYA?

Apakah era digital telah meredam keberadaan hubungan masyarakat (PR) di tengah dominasi marketing? Dua pemimpin industri, Yuna Eka Kristina dan Arif Mujahidin, membongkar realita dan tantangan PR di era dominasi teknologi, serta bagaimana PR berupaya kembali merebut sorotan.

Di tengah era digital yang serba cepat dan dinamis ini, pekerjaan di bidang hubungan masyarakat (PR) mengalami evolusi yang signifikan. Yuna Eka Kristina, Kepala Hubungan Masyarakat dan Digital Le Minerale, menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi PR saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan masa lalu.

Tak hanya berfokus pada pembentukan citra perusahaan, PR kini dituntut untuk dapat berkontribusi secara langsung terhadap aspek lain, seperti akuisisi dan peningkatan penjualan.

Kristina menyebut bahwa di era saat ini, PR harus mampu membangun dan menjaga persepsi merek yang kuat di tengah persaingan media yang kian ketat dan beragam. Ini mencakup tidak hanya media mainstream, tetapi juga media segmented yang menargetkan audiens khusus.

Untuk memastikan efektivitasnya, PR harus mampu menciptakan metrik atau alat pengukuran yang tepat. Ini karena sekadar menghasilkan sejumlah besar publikasi tidak lagi cukup; apa yang lebih penting adalah bagaimana publikasi tersebut dapat mempengaruhi persepsi masyarakat.

Le Minerale sendiri tengah berupaya meningkatkan "brand health perception" mereka, dengan memosisikan diri sebagai pilihan air mineral yang lebih sehat dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kesehatan. Inisiatif ini diperiksa secara teratur untuk memastikan apakah persepsi ini meningkat di mata konsumen.

Sementara itu, Arif Mujahidin, Direktur Komunikasi Danone Indonesia, memaparkan bahwa tantangan di era digital ini tidak hanya datang dari perubahan landscape media, tetapi juga dari kompetisi yang semakin ketat antara PR dan marketing. Dalam hal ini, PR harus mampu bersaing dengan marketing yang memiliki anggaran lebih besar untuk eksposur.

Arif menjelaskan bahwa salah satu keunggulan PR adalah kemampuannya untuk "melindungi dan mempromosikan" merek di berbagai stakeholder, termasuk regulator dan akademisi, bukan hanya konsumen. Namun, di era digital ini, PR harus lebih adaptif dan inovatif dalam strateginya, termasuk memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk memaksimalkan eksposur merek.

Sebagai contoh, Arif menyebut bagaimana marketing menggunakan AI untuk menciptakan kampanye berbasis kata kunci yang dapat secara otomatis menampilkan banner iklan aqua saat pengguna mencari kata "Aqua" atau "haus". Meski demikian, PR memiliki potensi untuk menciptakan jejak digital yang lebih permanen dibandingkan iklan yang bisa hilang seiring waktu.

Mengingat perubahan drastis dalam industri ini, kedua pemimpin ini sepakat bahwa PR harus terus berinovasi dan menyesuaikan strategi mereka untuk tetap relevan dan efektif dalam menjalankan fungsinya di masa depan. Ini termasuk membangun perpustakaan digital yang mampu menjaga jejak digital perusahaan untuk jangka panjang, sambil terus memantau dan mengevaluasi sentimen berita, apakah itu positif, negatif, atau netral, untuk memastikan strategi yang tepat dan efektif diimplementasikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)