Ketika Social Media Mengubah Praktik Media Relations

Social media mampu mengubah pola hubungan antara PR dan wartawan menjadi lebih personal dan intens. Informasi perusahaan pun dapat dikomunikasikan secara real time sekaligus beragam lewat akun social media pribadi PR. Bahkan, insight personal tentang wartawan yang diperoleh lewat akun social media, membuat PR dapat men-treat wartawan secara kustom.

Penulis: Dwi Wulandari Peliput: Marina Silalahi/Fahmi Abidin/Shofa Tartilah

social media

social media

Sebelum perkembangan teknologi, praktik Publik Relations (PR) masih bersifat konvensional. Mulai dari Government PR, Marketing PR, dan lainnya. Namun, pasca teknologi digital marak—ditandai dengan kehadiran social media—praktik PR mulai mengalami pergeseran. Meskipun, tujuan PR tetap tidak ada yang berubah.

Praktisi social media, Nukman Luthfi, menilai bahwa social media merupakan alternative media untuk menjangkau maedia, termasuk publik digital atau dikenal dengan istilah netizen. “Dengan menggunakan kanal social media, penyampaian pesan dapat dilakukan secara langsung dan pelaku PR dapat lebih engage dengan target,” tegas Nukman.

Ada hirarki yang wajib diperhatikan para pelaku PR dalam memanfaatkan social media. Menurut Nukman, ada tiga hirarki yang didasarkan pada karakter unik pengguna social media—yang sangat mudah dikenali. Pertama adalah Creator, yang aktif memberikan konten berupa word, picture, dan video secara konsisten. Diurutan kedua, ada Conversationalist, di mana pengguna social media hanya rajin mengobrol dan melakukan percakapan. Terakhir adalah Critics, yang hanya gemar mengkritik tanpa mau memberikan konten.

Berangkat dari tiga hirarki itu, maka engagement adalah kunci untuk bisa berkomunikasi di era social media seperti sekarang. "Saat ini, omongan orang lain ternyata memiliki kadar referensi cukup tinggi dibandingkan dengan iklan atau apapun. Oleh karena itu, peran komunikasi PR di era digital adalah membangun percakapan dan persepsi yang multiarah dan multichannel, salah satunya lewat social media,” ungkap Nukman mengingatkan.

Sebagai bagian dari praktik PR, para pelaku media relations, juga harus dituntut untuk memangaatkan social media dalam menjalin hubungan dengan media. Hubungan antara praktisi PR dan wartawan tetap menjadi aspek yang sangat penting dalam kegiatan PR di era digital seperti sekarang. Pengelolaan media relations yang efektif sering diartikan praktisi PR harus menjaga komunikasi terus-menerus, membangun kredibilitas dan kepercayaan, dan menyediakan wartawan dengan informasi yang relevan tentang organisasi. (Howard & Mathews, 2006)

Serupa dengan publik, kini jalinan komunikasi sekaligus pola hubungan antara pelaku media relation dengan wartawan juga mengalami pergeseran. Alias, tidak hanya konvensional lewat jalur press conference, namun sudah memanfaatkan social media sebagai jalur komunikasi mereka—pelaku media relations di perusahaan dengan wartawan.

Diyakini Arninta Puspitasari, PR Manager Nutrifood, social media atau media sosial telah mengubah hampir semua dunia PR, mulai dari formal ataupun informal. “Contoh formal, dengan adanya sosial media, kami bisa mengirim informasi atau rilis secara real time melalui email, saat kegiatan Press Conference sedang berlangsung. Jadi, real update. Nutrifood sudah melakukan ini selama dua tahun terahir. Awalnya, diakui Arninta, teman-teman jurnalis banyak yang tidak setuju. Ada yang bilang tidak bisa corat-coret untuk brainstorming. Tapi, lama kelamaan, teman-teman jurnalis jadi terbiasa dengan pola pengiriman rilis cepat itu,” tandasnya.

Sementara itu, untuk contoh informal, yakni hubungan PR dengan jurnalis menjadi semakin terbantu dengan adanya media sosial. “Apa yang kami share di akun media sosial personal kami, rupanya bisa menjadi bahan referensi untuk teman-teman jurnalis. Jadi, akun personal pun bisa menjadi PR untuk brand kami. Melalui akun personal, teman-teman jurnalis juga bisa menghubungi kami dengan cepat,” terang Arninta.

Senada dengan Arninta, Manager Media Relation Telkomsel Aldin Hasyim mengatakan, dengan adanya social media, pola hubungan antara PR dan wartawan menjadi berubah menjadi terbuka dan lebih cair. Artinya, seorang PR menjadi tahu lebih dalam perihal pribadi jurnalis tersebut. “Dengan begitu, treatment yang bisa dilakukan oleh seorang PR untuk menjaga hubungan baik dengan journalist menjadi lebih presisi dan custom. Contohnya, journalist mempunyai hobi koleksi komik , maka komik bisa menjadi bahan pembicaraan ketika kami sedang bertemu dengannya,” ia mencontohkan.

Melalui social media, menurut Aldin, seorang PR juga bisa menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan perusahaan melalui akun pribadi seorang PR atau akun resmi perusahaan. Namun, Aldin mengingatkan, social media adalah media bebas. Dengan demikian, hal-hal yang sifatnya rahasia tidak boleh di-share seorang PR di social media. “Selain itu, kami juga harus siap untuk ‘di-bully’ jika konten yang kami posting memicu untuk di-bully,” ungkap Aldin.

Manfaat lainnya, sistem aplikasi chatting juga memudahkan Aldin dalam mengirimkan bahan pendukung untuk penulisan suatu berita—berupa video, gambar, serta file—secara mobile, tanpa pelaku PR repot membuka PC/Laptop. Bahkan, fitur group pada aplikasi chatting juga memudahkan PR berinteraksi dengan journalist untuk menyampaikan undangan kegiatan press conference atau informasi lain yang sifatnya konsumsi massal.

Masih menurut Aldin, aplikasi pertemanan juga bisa mengubah pola perkenalan antara PR dan journalis,t yang dahulunya harus face to face, sekarang bisa berkenalan secara online. Contohnya, aplikasi Linkedin yang menyatukan para professional pekerja media dengan pekerja PR.

“Pendek kata, dengan social media, perubahannya cukup besar terjadi dan kecenderungannya perubahan positif,” yakin Aldin. Oleh karena itu, Telkomsel sangat open minded terhadap perubahan yang terjadi, mengingat Telkomsel adalah leading operator Telekomunikasi yang mensosialisasikan sekaligus menjual fitur-fitur digital seperit itu.

Sepakat dengan Aldin, diakui Arninta, perubahan yang terjadi memang ada positif dan negatifnya. Perubahan negatif, menurut Arninta, lebih pada tantangan bahwa sosial media menjadikan dunia PR semakin dinamis. Artinya, kalau dulu hubungan corporate dan media hanya satu arah, maka sekarang bisa menjadi interaktif. Media sosial bisa menjadi word of mouth dan informasi pun bisa menjadi lebih transparan.

Dampak social media bagi Arninta dinilai seimbang, baik untuk hubungan profesional maupun personal. “Saya punya akun personal sosial media seperti Twitter, Blog, dan Instagram. Semuanya berfungsi juga untuk fungsi PR. Khususnya untuk blog pribadi saya, ada dampak pekerjaan dan hubungan pertemanan dengan teman jurnalis. Di blog, saya sering menulis tentang kegiatan Nutrifood. Teman jurnalis sering menanyakan apakah boleh kegiatan kantor yang saya tulis tersebut bisa menjadi bahan tulisan berita. Jadi, blog pribadi pun bisa menjadi rilis kegiatan. Sedangkan untuk personal, saya bisa menjadi lebih dekat dengan teman-teman jurnalis. Selain menulis tentang kegiatan kantor, saya juga sering menulis tentang dunia ibu. Bagi teman-teman jurnalis yang seumuran, ini menjadi insight baru bagi kehidupan pribadi mereka,” papar Arninta. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)