Public Relations Era Disruptive

 

David dalam perjalanan menuju ke tempat kerja. Dia berkereta karena moda itu yang memungkinkan dia datang tepat waktu. Kebetulan pagi itu David harus presentasi di depan Bos-nya. Di stasiun, David melihat ada kedai kopi. Dia mampir karena dia merasa masih ada waktu minum kopi sambil up-date informasi yang bisa mendukung presentasinya.

Dia punya waktu 10 menit menunggu pesanan dan layanan. Setelah pesan, duduk di meja sambil menunggu agar waktu tak sia-sia dia mengeluarkan smartphone-nya. Dia membuka Twitter, scan sebentar hingga akhirnya dia menemukan artikel menarik. Sebuah artikel di New Yorker. Dia klik di atasnya, dan mulai membaca. Begitu selesai membaca, sang barista memanggil namanya pertanda kopi siap.

Ilustrasi itu disampaikan Clayton M. Christensen, professor Harvard Business School, yang memperkenalkan Teori Disruptive Innovation. Dia mengatakan itu terkait dengan disruptive yang melanda media massa sekarang ini. Menurut dia, fenomena David menggambarkan suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan oleh pengelola media.
Itu yang dia sebut sebagai acuan tentang bagaimana media dan tentunya praktisi public relations berkooptasi dengan disruptive.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali dan selalu mempertimbangkan pembacanya. "Saya memiliki waktu cuma 10 menit. Bantu isi saya dengan sesuatu yang menarik atau menghibur. "

David memilih menggunakan Twitter, padahal di sebelahnya tergeletak sebuah surat kabar. Dia sebenarnya juga bisa membunuh waktu menunggunya dengan permainan dari App Store. Atau mungkin dia bisa mulai membalas e-mail-nya. Tapi dia memilih membaca berita.

Kenapa? Karena dia butuh informasi untuk memperkaya proposal dan presentasi kamapnye PR-nya. Dia juga butuh informasi kalau-kalau kliennya dibicarakan di media. Baginya, bekerja sebagai sebagai praktisi PR membutuhkan curahan waktu lebih banyak. Bahkan 24 jam sehari seakan kurang.

Sampai beberapa waktu lalu, praktisi PR dipaksa untuk mengimbangi tantangan akibat perkembangan media sosial. Mereka harus menyampaikan pesan ke target audiens dan bereaksi dengan kecepatan yang sama bila muncul isu, laporan atau berita yang dapat mempengaruhi citra klien mereka.

Kini, media sosial diperkaya dengan aplikasi WhatsApp dan platform digital lainnya. WhatsApp kini menjadi saluran yang efektif untuk menyampaikan pesan. Kemampuannya dalam mengirimkan pesan yang dilengkapi dengan gambar atau video dan interaktif membuat saluran ini menjadi -- dalam bahasa teori kekayaan media -- semakin kaya, dan selanjutnya membuat kmunikasi mejadi semakin efektif.

Tinggi rendahnya kekayaan saluran tergantung pada (1) Kapasitas untuk mendapatkan tanggapan langsung dari penerima, (2) Kemampuan untuk mengirimkan banyak jenis komunikasi seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, penampilan dan pakaian, (3) Pembentukan atau penyusunan pesan untuk situasi yang spesifik; (4) Variasi bahasa atau kemampuan untuk menggunakan banyak pilihan kata.

Akibatnya, gangguan dalam ruang komunikasi merek semakin signifikan. Seuah informasi positif maupun negatif bisa tersebar melalui WA dengan target yang bisa dipilh dalam hitungan detik. Kondisi ini menuntut praktisi PR beradaptasi dengan perubahan itu.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)