SENI PERMINTAAN MAAF DALAM PRAKTIK MEDIS: SEBUAH ANALISIS KRITIS

Dalam era di mana transparansi dan komunikasi menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik, kasus yang melibatkan sebuah rumah sakit tahun lalu telah menjadi sorotan. Pemahaman mendalam tentang tanggung jawab medis dan pentingnya empati tidak hanya sebagai kata-kata kosong namun sebagai tindakan nyata, menjadi esensial.

.

.

Selasa (3/10/2023), pemilik RS Kartika Husada Jatiasih, dr. Nidya Kartika, menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Benediktus Alvaro (7), yang meninggal diduga akibat malapraktik. Nidya mengakui adanya kesalahpahaman komunikasi dan menegaskan komitmen tim medis memberikan perawatan terbaik tanpa niat merugikan. Manajemen RS juga telah mencari rujukan rumah sakit yang sesuai untuk Alvaro.

Dalam kasus meninggalnya Benediktus Alvaro di RS Kartika Husada Jatiasih, permintaan maaf yang disampaikan oleh pemilik rumah sakit, dr. Nidya Kartika, menyoroti beberapa aspek penting dalam manajemen krisis di sektor kesehatan. Permintaan maaf ini tidak hanya berfungsi sebagai respons etis terhadap tragedi yang terjadi, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana institusi kesehatan menanggapi kesalahan medis dan komunikasi dengan keluarga pasien.

Pertama, pengakuan kesalahan atau kekurangan dalam penyampaian pelayanan kesehatan merupakan langkah penting dalam membangun kembali kepercayaan publik. Namun, permintaan maaf sejatinya harus diikuti dengan tindakan konkret yang menunjukkan komitmen institusi terhadap perbaikan dan pencegahan kesalahan serupa di masa depan. Hal ini mencakup transparansi dalam investigasi internal dan revisi protokol medis jika diperlukan.

Kedua, kasus ini menyoroti pentingnya komunikasi efektif antara rumah sakit dengan pasien dan keluarganya. Kesalahpahaman komunikasi mengenai resume medis, seperti yang disebutkan oleh dr. Nidya, mengungkap celah dalam sistem komunikasi yang bisa berakibat fatal. Institusi kesehatan perlu mengembangkan sistem yang lebih baik untuk memastikan informasi penting disampaikan dengan jelas dan dapat diakses oleh keluarga pasien.

Ketiga, kisah Benediktus Alvaro menunjukkan dilema rumah sakit dalam menghadapi kasus non-transferable, dimana pasien sulit dipindahkan untuk mendapatkan rujukan. Situasi ini menuntut rumah sakit untuk memiliki rencana kontingensi yang kuat dan kerjasama yang erat dengan institusi lain dalam sistem kesehatan. Kerjasama antar rumah sakit dalam sharing sumber daya dan informasi bisa menjadi kunci dalam menangani pasien dengan kondisi kritis.

Akhirnya, permintaan maaf dari RS Kartika Husada Jatiasih menggarisbawahi pentingnya memperkuat etika dan standar profesionalisme dalam praktek kedokteran. Institusi kesehatan harus secara proaktif bekerja untuk memperkuat pendidikan medis, pelatihan etika, dan kesadaran hukum di kalangan profesional kesehatan untuk meminimalisir terjadinya malapraktik.

Kasus ini tidak hanya menjadi cermin bagi RS Kartika Husada Jatiasih saja, tetapi juga bagi seluruh institusi kesehatan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan pasien, dan komunikasi yang efektif sebagai fondasi dalam menjalankan tugas mulia menyelamatkan nyawa.

Dalam dunia medis, dimana risiko dan tanggung jawab menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap tindakan, kemampuan untuk mengucapkan "Maaf" dengan tulus menjadi sangat penting. Keterbukaan dalam mengakui kesalahan tidak hanya dapat meningkatkan kepuasan kerja bagi para dokter tetapi juga berpotensi menurunkan biaya premi asuransi malpraktik.

Namun, ironisnya, permintaan maaf sering kali menjadi salah satu hal terberat untuk diungkapkan oleh para profesional medis ketika terjadi kesalahan medis.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)