Adu Kuat Dua Brand Lokal di Layanan Payment Gateway

Dalam dua tahun terakhir ini, bisnis belanja online di Indonesia makin menjanjikan. Merujuk data idea (Asosiasi E-commerce Indonesia) bersama Google Indonesia dan TNS, nilai bisnis e-commerce di Indonesia pada tahun 2016 diprediksi menembus US$ 25 miliar atau setara Rp 295 triliun. Itu artinya, nilai tersebut naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2013, yang mencapai US$ 8 miliar atau Rp 94,5 triliun. Besarnya potensi bisnis e-commerce nyatanya dibarengi dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 82 juta orang, persisnya 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

Dua brand payment gateway, Doku dan Faspay, tercatat giat mengedukasi market serta mengincar pasar UKM

Dua brand payment gateway, Doku dan Faspay, tercatat giat mengedukasi market serta mengincar pasar UKM

Tak mengherankan jika hampir semua brand adu cepat dalam mendulang untung di bisnis e-commerce. Tanpa terkecuali, merek-merek di layanan payment gateway, seperti Doku dan Faspay. Keduanya tercatat sebagai merek yang paling massif mengedukasi market maupun mengincar pasar Usaha Kecil Menengah (UKM).

Himelda Renuat, Chief Marketing Officer Doku, mengatakan bahwa di tahun 2013, pembayaran belanja online melalui transfer masih mencapai 50 hingga 55%. Disusul, 28%-nya menggunakan Cash on Delivery (COD). Hanya 8% yang menggunakan kartu kredit dan 7% menggunakan internet banking. Sisanya, 7% menggunakan sistem pembayaran lainnya.

Hal senada diungkapkan Frecy Ferry Daswaty, Head of Marketing Communication Faspay. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini masih cenderung menggunakan jasa COD dibandingkan payment gateway. “Namun, seiring dengan perkembangan e-commerce dan kemudahan akses internet di Indonesia, maka kami yakin ke depannya masyarakat Indonesia akan beralih ke pembayaran online,” yakinnya.

Lantas, bagaimana upaya keduanya dalam meningkatkan kepercayaan konsumen agar mau menggunakan payment gateway? Dijawab Himelda, Doku sendiri sudah mendukung e-commerce di Indonesia sejak lama. Bahkan, Doku sudah bekerja sama dengan sejumlah perbankan seperti Citibank, BNI, dan sebagainya. “Tantangan kami saat ini adalah bagaimana merchant mau menampilkan logo Doku,” akunya.

Itu sebabnya, pada tiga tahun pertamanya Doku memilih fokus pada edukasi market. Terutama, fokus di segmen korporasi, seperti airline. Cukup dimaklumi, lantaran kala itu, AirAsia merupakan salah satu brand penerbangan yang membawa perubahan dalam industri penerbangan di Indonesia, yakni menuju pemesanan sekaligus pembayaran online. “Jadi bisa dibilang hampir semua airlines di Indonesia sudah kami layani, kecuali satu yang belum kami cover, yaitu Lion Air,” ia bercerita.

Sementara Faspay, memilih bekerja sama dengan bank-bank dan telko dalam melakukan edukasi market. Pesan edukasi yang disampaikan adalah pembayaran online sangat mudah dan aman untuk dilakukan. “Pemahaman masyarakat Indonesia akan dunia digital dan kemudahan akses internet sangat membantu Faspay dalam melakukan edukasi ini kepada masyarakat,” tegas Frecy.

Bicara segmen UKM, belakangan keduanya tampak agresif menggarap segmen tersebut. Dalam dua tahun terakhir misalnya, Doku meluncurkan solusi pembayaran yang bisa dimanfaatkan oleh para UKM (Usaha Kecil Menengah) maupun para individual seller. “Solusi itu kami namakan My Shortcut. Layanan itu untuk memberi kemudahan bagi para UKM dan individual seller. Caranya sangat mudah. Hari ini daftar, lalu kami verifikasi, besoknya sudah mulai bisa berbisnis online. Segmen korporasi Doku sudah established. Untuk itu, UKM menjadi titik konsentrasi kami pada 3 – 5 tahun ke depan. Sebab, hampir 40 juta nett salary di Indonesia saat ini bersumber dari UKM yang memang perlu dukungan,” ucap Himelda, yang menyebutkan bahwa Doku banyak mengandalkan strategi Word of Mouth Marketing dan Viral Marketing.

Kerja keras Doku tak percuma. Setelah tiga tahun pertama massif melakukan edukasi, di tahun keempat Doku akhirnya memetik hasil. “Di tahun keempat, pertumbuhan kami melonjak lebih dari 100%. Tahun berikutnya, hampir 200%. Jika pada tahun pertama kami hanya mampu memperoleh Rp 160 miliar, maka di tahun keempat menjadi Rp 4,5 tirliun. Tahun 2014 kemarin, kami mencapai Rp 6,7 triliun. Pertumbuhan lebih terlihat sejak 2011. Mengapa? Karena, infrastruktur dan jumlah pengguna internet di tahun itu tengah meningkat,” lanjut Himelda.

Tak beda dengan Doku, segmentasi Faspay pun sangat luas. Bukan hanya pelaku e-commerce besar (korporat), tetapi juga para pelaku UKM yang ingin go online dan penjual online via social media. “Bagi para penjual online yang tidak memiliki website (berjualan via social media) ataupun toko online yang masih menerima pemesanan secara offline, kami memiliki sebuah platform bernama Faspay Billing yang memungkinkan customer mereka tetap bisa membayar via online,” terang Frecy.

Faspay pun tampak giat menggelar aktivasi di Below the Line, antara lain melalui event seminar dan exhibition, kerja sama dengan asosiasi e-commerce, dan sponsorship. Faspay juga memiliki newsletter “Faspay Update!” yang disebar kepada client-client existing dan juga calon client.

Hasilnya? “Para pelaku e-commerce sudah mulai mengenal Faspay. Saat mereka membutuhkan jasa payment gateway, setidaknya Faspay menjadi salah satu payment gateway yang dipertimbangkan saat melakukan komparasi,” tutup Frecy. (Simak kupasan lengkap strategi dua brand payment gateway lokal, Doku dan Faspay, di Majalah MIX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)