Menjelang periode bulan puasa dan lebaran tahun 2013 serta dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Gabungan Perusahaan Makanan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan harga produk di industri makanan dan minuman akan tetap terjangkau dan pasokannya terjamin.

Menurut data GAPMMI, angka produksi sudah naik 30–40 persen, terutama jelang bulan puasa. Untuk produk biskuit dan sirup, demand-nya tercatat sudah sampai 100 persen.

“Secara garis besar, akibat kenaikan BBM, komponen bahan baku makanan dan minuman naik sekitar 55 – 65 persen. selain itu komponen kemasan juga naik sekitar 40 – 60 persen, namun kami melihat produksi akan aman sepanjang puasa dan lebaran 2013 ini,” Jelas Adhi Lukman, Ketua Umum Gapmmi, saat ditemui selepas konferensi pers, pada Senin, (24/6).

Menurut Adhi, kini pekerjaan rumah pemerintah adalah menstabilisasi harga karena hal itu akan berdampak kepada daya beli masyarakat. “Dilihat dari distribusinya, info terkini, kenaikannya mencapai 30 – 40 persen hal tersebut tentu berefek langsung kepada kenaikan harga barang, yang kita takutkan adalah walau jumlah barang aman, tapi daya beli masyarakat kurang,” jelas Adhi yang mengatakan di satu sisi, angka produksi sudah naik 30 – 40 persen terutama jelang bulan puasa.

“Bahkan untuk biskuit dan sirup, demand-nya sudah naik sampai 100 persen. Jadi di situasi ini ketika sedang tinggi–tingginya, kita dihadapkan pada kegalauan untuk tetap memenuhi kebutuhan pasokan ditengah kenaikan harga BBM,” kata Adhi.

GAPMMI mengakui pertumbuhan industri makanan dan minuman pada kuartal I/2013, jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. "Kuartal I tahun 2013 tumbuh 1,74 persen. Sementara kuartal I/2012 lalu (pertumbuhan) sekitar lebih dari 8 persen. Namun, hingga akhir 2013 ini kami menargetkan, industri makanan-minuman akan tumbuh sekitar 8 persen," papar Adhi.

Ia menjabarkan, alasan rendahnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di kuartal 1/2013 lebih disebabkan beberapa faktor, terutama yang berkaitan dengan persoalan pasokan bahan makanan dan upah buruh yang naik.

Senada dengan Adhi, Franky Sibarani, Sekretaris Jenderal GAPMMI, pun menjelaskan, terhambatnya pertumbuhan makanan dan minuman karena dipicu salah satunya oleh kenaikan tarif dasar listrik. “Juga ada pertumbuhan beberapa komoditi yang melandai, antara lain tergambar pada pertumbuhan industri tepung terigu nasional yang minus 1,16 persen. Namun saya optimis jumlah pasokan dan kebutuhan masyarakat sebelum dan setelah puasa akan terpenuhi dengan baik, paling tidak hingga akhir tahun ini,” tandas Franky.

Tags:
GAPMMI

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)