Survei Technographics 2013 : Social Media Belum Jadi Referensi Jurnalis

Perkembangan social media di Indonesia seperti Twitter, Facebook, dan Blog ternyata membawa perubahan kepada banyak hal, salah satunya adalah semakin banyaknya informasi dan berita yang didapat. Dengan banjirnya informasi dari social media tersebut berpengaruh pula terhadap cara jurnalis mengolah informasi.

Untuk mengetahui pola penggunaan media sosial di kalangan jurnalis dan organisasi media, Maverick bersama tim dari Universitas Paramadina melakukan survei dan wawancara terhadap 363 jurnalis yang diambil dengan metode kuota sampling proporsional pada wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua. Laporan ini tersaji dalam “Indonesian Journalist Technographics Report”.

Menurut Technical Advisor Maverick, Ong Hock Chuan, dari survei yang menggunakan metode kuantitatif dan metode survei kepada 363 responden wartawan, ditemukan sebanyak 54 persen jurnalis memilih media online sebagai sumber informasi, mengungguli jenis media lainnya. Setelah itu, media cetak digunakan sebagai sumber berita sebanyak 29 persen, sedangkan yang sedikit dipilih jurnalis adalah televisi dan radio.

Selain itu, lanjut Ong, survei juga berkisar tentang pola pencarian informasi dan peranan media sosial dalam memengaruhi pemberitaan. Walaupun social media telah menjadi salah satu alternatif pencarian pemberitaan, lanjutnya, namun kredibilitasnya masih dipertanyakan.

“Kode etik jurnalisme yang ada di media konvensional sangat jelas, namun di social media sifatnya yang egaliter dan demoktaris tersebut tidak dapat dipercaya keabsahannya. Terlebih lagi karena di media konvensional sangat menerapkan sisi sensoring yang ketat, sedangkan di social media tidak ada,” ungkap Ong di Jakarta, pada Selasa (21/5).

Ia mengatakan bahwa di era dimana social media meledak seperti saat ini, platform sosial telah menjadi salah satu sarana menciptakan ide pemberitaan, meski kredibilitasnya masih harus dipertanyakan. "Orang pasti akan mem-verifikasi kabar di sosial media ke media mainstream," kata Ong.

Sementara itu, dalam presentasi yang dibawakan oleh Hanny Kusumawati, Creative Director of Maverick, dikatakan, “Hanya 2 dari 10 jurnalis di Indonesia yang menganggap social media sebagai sumber informasi terpercaya. Bahkan prosentase radio dijadikan sebagai sumber informasi terpercaya hanya 12,1 persen. Televisi bahkan lebih sedikit, cuma 4,4 persen,” ucapnya.

Hanny kembali melanjutkan, “Kredibilitas dua media itu kalah dengan kredibilitas media online. Responden mengakui, media online sebagai sumber informasi yang cepat dan kredibel. Survei ini menunjukkan kredibilitas situs berita digunakan 54,5 persen, disusul koran dan majalah sebanyak 28,9 persen.

Meskipun belum dianggap sebagai sumber informasi yang kredibel, social media dapat digunakan oleh jurnalis untuk mengetahui opini publik dan memantau tren terkini. ”Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi perpanjangan indera bagi jurnalis dalam memonitor isu, mengidentifikasi opini, dan mendiskusikan isu. Media sosial menjadi pembuluh darah yang semakin meningkatkan vitalitas peran jurnalis di era demokrasi,” pungkas Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)