Lemon, Platform Influencer Marketing Jepang Masuk Pasar Indonesia

Booming media sosial berdampak pada tumbuhnya jumlah influencer di Indonesia. Tak hanya dari kalangan selebritis dengan jumlah pengikut (follower) yang banyak di media sosial, namun wajah-wajah non-selebritis seperti Selebgram dan Youtubers pun memiliki jumlah pengikut yang cukup tinggi. Tak heran, jika belakangan pemasar memilih influencer marketing sebagai salah satu strategi branding maupun pemasaran untuk produk mereka.

Fenomena itulah yang membuat C Channel, startup asal Jepang, masuk ke pasar Indonesia, melalui platform influencer marketing Lemon. Menurut Yamato Sasagawa,Chief Executive Officer C Channel, Indonesia merupakan pasar yang sangat menjanjikan. "Sejak April 2015, C Channel hadir di Jepang sebagai media ber-platform Instagram, Facebook, Youtube, Line, dan App/Web C Channel. Kami memproduksi video tentang wanita, seperti beauty, make-up, food, lifestyle, dan DIY (Do It Yourself). Selanjutnya, pada 2017, kami hadir di Indonesia," ujarnya.

Saat ini, C Channel sudah melakukan ekspansi ke Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Indonesia. Sementara itu, di Singapura, Malaysia, China, Vietnam, dan Filipina, masih berformat joint venture dengan perusahaan lain. "Selain media, bisnis lain dari C Channel adalah influencer management, di mana salah satu platform-nya adalah Lemon, yang dapat menghubungkan brand dengan influencer," paparnya.

Sejak hadir di Indonesia pada 2017, menurut CTO C Channel Imam Susanto, tak kurang dari 5.900 influencer telah bergabung dengan platform Lemon. Dari total influencer tersebut, 30,15% adalah mega influencer yang merupakan influencer dengan jumlah pengikut di atas 100 ribu, yang biasanya datang dari kalangan selebritis. Selanjutnya, 40,52% adalah macro influencer dengan jumlah pengikut di atas 10 ribu. Sisanya, 15,6% adalah micro influencer dengan jumlah pengikut 1.000-10.000 dan 1,9% nano influencer yang memiliki pengikut di bawah 1.000.

Diakui Yamato, platform seperti Lemon di Indonesia memang mulai marak. Oleh karena itu, Lemon menawarkan added value sekaligus diferensiasi kepada para pemilik atau pengelola merek. Pertama, Lemon memiliki C Channel yang sudah sangat kuat dan piawai dalam membuat video untuk platform di media sosial, di mana jumlah follower-nya di Indonesia sudah mencapai 4 juta dan 27 juta di global. Kedua, Lemon menyajikan parameter influencer secara transparan yang dapat diakses langsung oleh brand. Mulai dari jumlah follower, engagement rate, hingga pertumbuhan follower yang dimiliki para influencer yang bergabung di Lemon.

"Untuk menggunakan platform Lemon ini pun sangat mudah. Setelah masuk ke platform Lemon, brand bisa memilih influencer mana yang mereka ingin gunakan. Kemudian, mereka tinggal mengisi brief berupa tema kampanye komunikasinya, target audience, objektifnya, dan deadline-nya. Selanjutnya, brief tersebut akan kami edukasi kepada influencer, untuk kemudian kampanye dimulai," urai Yamato, yang menyebutkan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah price rate influencer yang kerapkali fluktuatif.

Berbagai brand telah memanfaatkan platform Lemon, antara lain Sony, Shiseido, Kose, Panasonic, Levis, Kalbe, Garnier, Pigeon, hingga Sharp. Menurut Yamato, Panasonic, misalnya, pada Februari 2019 lalu ingin memperkenalkan produk beauty mereka yang baru, yaitu hair dryer (pengering rambut). "Dengan menggunakan platform Lemon, mereka sangat happy dengan hasilnya, karena berhasil memperoleh 7.604 like dan engagement rate yang mencapai 6%," ungkap Yamato, yang menyebutkan standard engagement rate di angka 2%.

Lebih lanjut Yamato menerangkan, Panasonic memulai kampanyenya dengan Private Campaign, dimana konten video dirancang oleh tim Lemon dan dikomunikasikan melalui media C Channel. Selanjutnya, digelar Public Campaign, di mana konten dibuat sendiri dan dikampanyekan oleh lima influencer terpilih.

Sementara itu, untuk meningkatkan kompetensi para influencer yang tergabung di Lemon, tahun ini Lemon menggelar program Clipper University. Melalui program tersebut, influencer dilatih untuk mampu membuat konten yang dapat menjawab kebutuhan brand. "Edukasi kami lakukan secara online maupun offline. Untuk saat ini, kami fokus di Jakarta," tutup Viola Maulinia, Key Opinion Leader (KOL) & Community Manager C Channel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)