Strategi Dentsu Indonesia Menjawab Tren Ekonomi Digital di 2022

MIX.co.id - Studi yang dirilis Google-Temasek pada 2021 lalu menyebutkan bahwa nilai ekonomi digital di Indonesia akan mencapai $330 miliar pada 2030 mendatang. Itu artinya, hampir dua kali lipat dari nilai ekonomi digital di Asia Tenggara saat ini.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia memprediksi, ekonomi digital Indonesia akan tumbuh hingga delapan kali lipat pada 2030, dari Rp 632 triliun menjadi Rp 4.531 triliun. Selain itu, PDB Indonesia juga diprediksi akan mencapai lebih dari 55% dari total PDB negara-negara ASEAN pada tahun 2030.

Pada acara 'dentsu Indonesia: Scaling New Heights in 2022'  yang digelar pada Januari ini (17/1),  diungkapkan Prakash Kamdar, CEO of dentsu Indonesia dan Singapura, terkait ekonomi digital, ada lima tren yang harus dicermati oleh para pemasar maupun pelaku industri di 2022 ini.

Tren pertama adalah makin data sentris, didorong oleh algoritma, dan lebih terkoneksi. "Oleh karena itu,  brand harus lebih relevan, menarik, dan menghadirkan user experience yang dipersonalisasi, sehingga dapat menarik perhatian dan cinta dari konsumen," katanya.

Tren kedua, perubahan gaya hidup akibat pandemi masih akan berlanjut ke depannya. Oleh karena itu, ia menganjurkan, brand harus sudah menyentuh dan masuk ke eCommerce, Live eCommerce, gaming, dan eHealth, yang notabene akan menjadi tren ke depannya.

Tren ketiga, Metaverse akan berakselerasi dan kemungkinan akan diikuti oleh web 3.0. Itu artinya, brand harus sudah memanfaatkan teknologi tinggi seperti Metaverse, menghadirkan merchandise yang lebih virtual, dan sebagainya.

Tren keempat, Profit in Purpose. Artinya, menjadikan profit dan mendorong konsumsi sebagai tujuan utama justru tidak menguntungkan bagi perusahaan, termasuk dengan mengorbankan masyarakat dan lingkungan hanya demi pertumbuhan.

Tren kelima, sektor travel dan hospitality akan berkembang. Untuk itu, permintaan untuk pengalaman fisik terkait kedua sektor itu akan booming.

"Sebagai salah satu jaringan agensi terintegrasi terbesar di Indonesia, Dentsu Indonesia ingin berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital serta Environment, Sustainability, and Governance (ESG) dengan cara menjadi A Force for Growth and Good," kata Prakash

Lebih jauh ia menegaskan, guna menyikapi kelima tren itu,  Dentsu akan terus meningkatkan kapabilitas creative, media, dan customer experience management (CXM), serta meluncurkan solusi inovatif, baik untuk incumbent maupun start-up, dengan semangat 'Gotong Royong'.

Diimbuhkan Wisnu Satya Putra, CEO, Creative dentsu Indonesia, “Di dentsu, kami terus-menerus mencari cara untuk berinovasi, dan memastikan kemampuan kreatif dan pengalaman kami future-proofed terhadap tren yang akan datang.”

Pada pertengahan Januari ini (17/1), dentsu Indonesia resmi meluncurkan marketplace Metaverse, yakni ‘Bitaverse’. Menjadi Mixed Reality Marketplace yang paling pertama di Indonesia, Bitaverse mengundang  merek untuk dapat memiliki, membangun, dan menjual barang dagangan virtual bersama dengan produk nyata mereka.

"Di Bitaverse, pengguna dapat membeli, memiliki, dan membangun virtual space mereka sendiri. Selain itu, ke depannya, mereka juga dapat mengkonversi produk virtual mereka ke NFT," ungkap Wisnu, yang menyebutkan bahwa kehadiran Bitaverse disambut baik oleh klien-klien dentsu Indonesia.

Sementara itu, Arshad Rahman, CEO CXM dentsu Indonesia, menerangkan, menurut  Markle Customer Experience Report 2019, 66% konsumen lebih peduli pada pengalaman dibandingkan harga ketika mereka memutuskan untuk membeli. Bahkan, 56% pembelanja memutuskan untuk berhenti membeli ketika mengalami pengalaman buruk di situs berbelanja. Menariknya, konsumen loyal berbelanja 67% lebih banyak dibandingkan konsumen baru.

Sementara itu, saat ini, pelanggan mengharapkan data privasi serta pesan yang lebih relevan. Berdasarkan data BCG Digital Marketing Maturity Study 2019, 64% pengguna internet sangat khawatir tentang bagaimana perusahaan menggunakan data pribadi mereka. Adapun 62% kustomer berharap perusahaan dapat beradaptasi dengan berangkat dari tindakan dan perilaku mereka.

"Oleh karena itu, kami mendorong klien-klien dentsu untuk menghadirkan pengalaman pengguna (user experience) yang dipersonalisasi dalam skala besar. Itu sebabnya, kami bekerja sama dengan klien melalui tiga praktik utama, yakni CX Consulting, Data Transformation,  dan Digital Transformation. Kami percaya, ke depan, brand loyalty dan competitive advantage merupakan customer experience," ujar Arshad.

Diimbuhkan Janoe Arijanto, Vice President Dentsu Indonesia, salah satu tren di 2022 adalah kenaikan home channel yang sangat tinggi akibat pandemi yang muncul di 2020. "Semua brand, mau tidak mau harus punya multiscreen home channel dan memanfaatkan semuanya," katanya.

Fakta lainnya, UMKM yang masuk di eCommerce selama 2020 hingga Agustus 2021, tercatat sangat tinggi, yakni 16 juta UMKM. Meskipun, ada yang gagal. "Oleh karena itu, Dentsu telah membangun kemampuan di hampir semua unitnya untuk mendukung eCommerce. Bahkan, kami punya tim khusus yang mendukung hal itu," urai Janoe.

Selain itu, brand juga harus bisa relevan dengan isu-isu kebaikan. Artinya, yang dibutuhkan sekarang bukan hanya A Force for Growth, tetapi juga A Force for Good.

Ia mencontohkan, sebagai kontribusi sosial terhadap dampak virus Corona (Covid-19) kepada pekerja lapangan, khususnya driver online, Dentsu  Indonesia menggelar kampanye di media sosial #DonasikanOngkosmu.

"Melalui kampanye itu, Dentsu Indonesia mengajak para pekerja kantoran yang kesehariannya menggunakan jasa layanan ride-hailing (seperti ojek ataupun taksi online) agar dapat tetap menyisihkan ongkos transportasinya kepada driver online yang sedang sulit mendapatkan orderan," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)