Belajar dari Strategi Bisnis dan Brand Heritage Sritex

Saat ini, industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia menempati peringkat ketiga ekspor nasional. Sepanjang tahun 2015, industri tekstil telah berkontribusi 1,22% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan surplus ekspor sebesar US$ 4,31 miliar. Bahkan, industri tekstil juga mampu menyerap 2,79 juta pekerja dengan hasil produksi yang mampu memenuhi 70% kebutuhan sandang dalam negeri.

sritex-5

Kendati tahun 2015 lalu kinerja industri tekstil sempat menurun 4,79%, namun peluang pertumbuhan industri tekstil di tahun 2016 ini diprediksi masih sangat tinggi. Hal itu pula yang diyakini oleh President Director PT Sri Rejeki Isman (Sritex) Iwan Setiawan Lukminto—yang akrab disapa Wawan--di sela-sela acara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-71 sekaligus HUT Sritex yang ke-50 pada pertengahan Agustus lalu (17/8).

Diungkapkan Wawan, di tengah industri yang turun pada tahun lalu, Sritex—yang bermarkas dan memiliki pabrik di Sukoharjo, Solo—sanggup meningkatkan penjualan sebesar 6%. “Tahun 2016 ini, kami juga optimis pasar akan membaik. Oleh karena itu, tahun 2016, Sritex mematok pertumbuhan penjualan sebesar 6-7%,” yakin Wawan.

President Director Sritex Iwan Setiawan Lukminto President Director Sritex Iwan Setiawan Lukminto

Sebagai perusahaan tekstil lokal yang terintegrasi dan terbesar di Asia Tenggara dan telah mendunia dengan eskpor ke lebih dari 100 negara, diakui Wawan, tidaklah mudah mempertahankan eksistensi Sritex di tengah persaingan yang makin ketat. Terutama, di era Masyrakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana berbagai perusahaan asing dapat leluasa menggarap pasar Indonesia.

“Untuk itu, ke depannya kami ingin mempertahankan kontribusi yang seimbang antara pasar ekspor dan domestik, yang saat ini sudah mencapai 50% untuk domestik dan ekspor 50%,” Wawan melanjutkan.

Demi mencapai target pertumbuhan dengan porsi yang seimbang antara pasar domestik dan ekspor, diakuinya, dibutuhkan strategi jitu. Sejatinya, strategi tersebut diharapkan dapat memenangkan persaingan di pasar. Menurut Wawan, ada tiga strategi yang siap dilancarkan Sritex saat ini. Ketiganya adalah Multi Product, Multi Market, dan Multi Country.

sritex-4

Dijelaskan Wawan, strategi Multi Product adalah upaya Srtiex memproduksi banyak varian produk. Mulai dari produk pakaian militer untuk 30 negara di dunia—termasuk di Indonesia—sejak tahun 1994, hingga memproduksi produk fesyen untuk brand internasional seperti Zara, Uniqlo, JCPenney, New Yorker, dan Sear. Tak hanya seragam militer, terkait strategi Multi Product, Sritex juga memproduksi perlengkapan seragam militer seperti ransel, topi, tenda, rompi, decker, sarung tangan, hingga jaket.

Strategi kedua adalah Multi Market. Ya, demi menggenjot penetrasi pasar—baik di dalam maupun luar negeri—maka Sritex memutuskan untuk menggarap hampir semua segmen market. Oleh karena itu, produk-produk Sritex—dalam hal ini pakaian jadi kategori fashion—juga menyasar hampir semua usia. Mulai dari segmen anak-anak, remaja, dan dewasa—baik perempuan maupun pria. Semua pakaian jadi tersebut telah diekspor ke lebih dari 50 negara di dunia.

Terakhir adalah strategi Multi Country. Ditambahkan Wawan, strategi menyasar hampir semua negara di dunia merupakan salah satu upaya Sritex dalam meningkatkan penetrasi pasar. Oleh karena itu, menurut Wawan, meski China saat ini dinilai sebagai salah satu pemasok produk fesyen terbesar di Indonesia, namun Sritex terbukti mampu menjadikan China sebagai market. “Kami sudah memasok produk-produk Sritex ke China. Artinya, China juga sebagai target market atau konsumen Sritex,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
...
Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)