Strategi Mondelez Bertarung di Pasar Biskuit

Asia Tenggara tercatat sebagai kawasan yang sangat potensial untuk pasar biskuit. Hal itu ditandai dengan besarnya populasi yang mencapai 700 juta jiwa sekaligus pesatnya pertumbuhan ekonomi—termasuk PDB (Produk Domestik Bruto)—di kawasan tersebut. Tak hanya itu, kebiasaan konsumen urban di Asia Tenggara dalam ngemil makanan juga mengalami peningkatan. Akibatnya, pertumbuhan pasar biskuit—yang merupakan salah satu pilihan untuk ngemil—pun menjadi sangat positif di kawasan Asia Tenggara.

Mondelez sebagai produsen biskuit nomor satu di dunia, menyadari betul akan legitya pasar biskuit di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, produsen biskuit yang dikenal dengan merek Oreo-nya itu begitu serius menggarap pasar Asia Tengara. Dan, Indonesia sebagai negara yang populasinya tertinggi di kawasan Asia Tenggara juga menjadi pasar yang serius digarap oleh Mondelez. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang kontribusi penjualan biskuitnya tercatat signifikan terhadap Mondelez. Dua negara lainnya adalah Vietnam dan Malaysia.

Rick Lawrence, Category Director Biscuit South East Asia Mondelez International, menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar yang utama bagi Mondelez. Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhannya mencapai 7%. “Itu adalah pertumbuhan yang cukup konsisten. Sebab, Mondelez memang tumbuh dengan sangat baik di Asia Tenggara. Bahkan, pertumbuhan kami double digit di banyak pasar. Dan, Asia Tenggara termasuk kawasan yang paling cepat berkembang di dunia,” ujar Rick pada saat kunjungannya ke Jakarta di penghujung Juli ini (26/7).

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa penetrasi pasar biskuit di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah sangat tinggi. Tak kurang dari 90% rumah tangga di Indonesia sudah membeli dan mengkonsumsi biskuit. Dan, biskuit tercatat sebagai produk yang sangat stabil. Itu sebabnya, besarnya nilai bisnis kategori biskuit akan mengikuti PDB negara.

Diakui Rick, Mondelez memang belum menjadi market leader di pasar biskuit Tanah Air. Pangsa pasarnya pun masih single digit, yakni sekitar 7%. Lantaran, Mondelez terhitung sebagai pemain baru dengan membawa merek Oreo, yang kemudian diikuti oleh merek Ritz, Biskuat, Chips Ahoy, hingga Belvita.

“Kami harus mulai mengembangkan merek-merek tersebut. Sebab, di setiap negara, kami memiliki pesaing lokal yang kuat yang berbeda. Sama seperti di Indonesia, ada beberapa pesaing lokal yang kuat. Untuk itu, kami harus melancarkan strategi yang tepat untuk menggarap pasar Indonesia,” yakin Rick.

Berbeda dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, menurut Rick, karakteristik pasar Indonesia agak mirip dengan Filipina. Indonesia memiliki pasar tradisional yang besar, karena populasinya sangat besar dan tersebar di berbagai pelosok pedesaan yang sulit dijangkau. Itu artinya, pasar tradisional memegang peran kunci di Indonesia. Hal ini berbeda dengan HongKong, Singapura, Taiwan, dan Thailand yang justru lebih banyak pasar modern-nya.

Kendati pasar tradisional sangat besar dan signifikan bagi pasar biskuit di Indonesia, diakui Rick, pasar modern seperti toko swalayan dan minimarket ternyata berkembang cukup signifikan. Bahkan, pertumbuhannya terhitung besar dalam beberapa tahun terakhir. “Dan, minimarket adalah salah satu saluran utama bagi kami,” akunya.

Lantas, bagaimana cara Mondelez mengembangkan sekaligus memenangkan pertarungan di pasar biskuit di Indonesia? Dijawab Rick, ada strategi yang Mondelez lancarkan untuk mengembangkan pasar di Indonesia. Pertama, Mondelez melakukan investasi pada portofolio produk. Itu sebabnya, Mondelez senantiasa menghadirkan inovasi produk maupun varian guna memperkaya portofolio produknya. Ia mencontohkan, Mondelez baru saja meluncurkan varian baru dari Oreo, yakni Oreo Thin. Sebelumnya, Mondelez juga meluncurkan produk baru seperti Belvita dan Chips Ahoy.

Kedua, Mondelez selalu memastikan untuk menghadirkan the right pack, the right price, dan the right place. “Artinya, kemasan produk harus tepat, harga juga harus tepat, dan tempat yang dipilih pun harus tepat. Itu sebabnya, kami harus berpikir bahwa jumlah uang yang dimiliki masing-masing konsumen berbeda, cara berbelanja mereka juga berbeda, serta ritel tempat membeli produk biskuit pun berbeda. Untuk itu, personalisasi yang disesuaikan dengan karakter market menjadi kunci,” yakinnya.

Ketiga, tanggung jawab sosial perusahaan atas kesejahteraan bagi setiap orang yang memilih camilan yang lebih baik. Oleh karena itu, Mondelez memiliki komitmen sekitar 30 persen dari bisnisnya harus menghasilkan produk yang mensejahterakan masyarakat pada tahun 2020 mendatang. Langkah itu adalah komitmen global Mondelez.

“Saat ini, kami memiliki pabrik kelas dunia di Cikarang yang menghasilkan sejumlah produk untuk diekspor ke 35 negara. Kami akan terus berkembang di Indonesia dan kami berkomitmen untuk terus berinvestasi untuk merek-merek yang kami miliki, antara lain lewat inovasi. Ke depan, kami berharap dapat menghasilkan pertumbuhan dua digit,” patok Rick yang menyebutkan bahwa di Indonesia, biskuit adalah penyumbang terbesar jika dibandingkan kategori meals dan coklat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)