Perhatikan Tujuh Hal Ini dalam Merancang Siaran Pers

Sepanjang semester pertama 2016,  PR Newswire menggelar survey kepada 482 jurnalis di Asia Pasifik, terutama di enam negara kunci seperti Australia, Hongkong, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Survei yang menyoroti kebiasaan para jurnalis dalam memproduksi berita itu menghasilkan sejumlah temuan menarik.   Salah satu temuan yang menarik adalah sepanjang media sosial telah menjadi sumber berita popular bagi wartawan, rupanya siaran pers masih dipandang sebagai sumber berita terpercaya, bahkan sumber informasi yang bermanfaat.   Tak heran, jika media profesional merasa semakin penting untuk mendiversifikasi kemampuan mereka di era digital. Termasuk, mendiversifikasi pengetahuan dan keterampilan seperti video editing, hingga menciptakan infografis. Laporan PR Newswire juga menyebutkan bahwa lebih dari separuh responden (62%) menulis sekitar 1-5 artikel berita per minggunya. Sedangkan 71% dari 482 wartawan mengatakan bahwa mereka  menerbitkan atau mengedit hingga 20 artikel. Sementara itu, rata-rata lebih dari 48% memerlukan dua sampai lima jam untuk memverifikasi informasi yang telah dikumpulkan. Adapun 20% wartawan  mengatakan mereka mampu menyelesaikan verifikasi data dalam waktu satu jam. Ada tujuh informasi yang membuat wartawan mau melihat,  membaca, dan mempertimbangkan siaran pers atau press release sebagai sumber berita mereka. Pertama, 27% wartawan akan melihat siaran pers jika informasi bersifat newsworthy stories. Kedua, 19% akan melihat siaran pers yang menghadiran cerita yang menarik, seperti produk baru, teknologi, dan model bisnis. Ketiga, 14% wartawan akan melihat materi rilis yang menyajikan multimedia, termasuk berbagai gambar atau infografis. dwi Keempat, 11% wartawan akan melihat informasi seputar kontak spoke person atau corporate communication dari siaran pers. Kelima, 10% wartawan akan melihat komentar dari ekesekutif perusahaan yang kompeten dan ahli. Keenam, 9% wartawan mengaku melihat informasi seputar isu terkait seperti latar belakang perusahaan dan informasi produk. Ketujuh, 9% wartawan melihat sudut pandang dari tokoh senior di industri terkait. Lantas, apa arti temuan itu bagi para pemilik merek? Ya, dengan temuan itu, para Public Relations (PR) di perusahaan dapat mempertimbangkan konten apa saja yang harus dihadirkan dalam sebuah siaran pers--sebelum akhirnya disebatkan kepada media--agar wartawan mau membaca dan menjadikannya sebagai bahan pemberitaan. dwi-2 Masih dari laporan tersebut, ada tujuh sumber yang paling dipercaya wartawan dari sebuah siaran pers untuk kemudian digunakan dalam penulisan artikel. Pertama, 22% wartawan mengaku siaran pers resmi dari perusahaan dinilai sebagai sumber yang paling terpercaya. Kedua, 21% mengaku spoke person seperti Corporate Communication adalah sumber paling terpercaya. Ketiga, 19% mengatakan bahwa website resmi perusahaan adalah sumber paling terpercaya. Keempat, 12% wartawan mengaku pihak ketiga yang ahli di bidangnya menjadi sumber yang paling terpercaya. Kelima, 10% wartawan mengatakan bahwa akun social media resmi perusahaan seperti facebook dan twitter dianggap sebagai sumber yang paling terpercaya. Keenam, 7% wartawan menanggap isu yang diterbitkan oleh media lain sebagai sumber terpercaya. Ketujuh, 6% wartawan mengaku mencari isu dari mesin pencari di internet sebagai sumber yang paling terpercaya. Dengan fakta itu, para pengelola merek atau PR dapat mempertimbangkan akun social media perusahaan, website perusahaan, akun social media eksekutif perusahaan, mesin pencari lewat Search Engine Optimization (SEO) sebagai salah satu channel menempatkan siaran pers perusahaan.
Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)