Employer Branding Melalui Program Dana Pensiun

Program pensiun sejatinya dapat dijadikan perusahaan sebagai salah satu cara dalam memelihara loyalitas karyawan. Tak hanya itu, program pensiun juga dapat menjadi salah satu strategi employer branding agar calon karyawan tertarik untuk bekerja di perusahaaan.

Artinya, optimalisasi sekaligus inovasi pada program pensiun mampu menjadi daya tarik perusahaan dalam merebut hati karyawan maupun calon karyawan. Dan, sudah seharusnya perusahaan mampu menyelenggarakan program pensiun yang tidak sekadar mengikuti peraturan. Akan tetapi, juga perlu berinovasi sekaligus kreatif dalam mengemas program pensiun.

Guna mengedukasi pentingnya program pensiun bagi perusahaan maupun karyawan, termasuk bagaimana mengemas program pensiun secara kreatif, Majalah Swa  menggelar seminar bertajuk Program Pensiun sebagai Daya Tarik Perusahaan. Program yang digelar pada pertengahan Agustus ini (15/8), menghadirkan pembicara pakar seperti Wahyu Widodo (Direktur Pengupahan dan Jaminan Sosial Kementerian Tenaga Kerja), Sumarjono (Direktur Perencanaan Strategis PT Badan Pengelola Jaminan Sosial/BPJS Ketenagakerjaan), Suheri (Presiden Direktur Dana Pensiun Astra), dan Adrian Rusmana (Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina).

Dijelaskan Suheri, ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh dari program Dana Pensiun. Pertama, adanya perhatian kepada karyawannya untuk kelangsungan hidup mereka setelah berhenti bekerja dari perusahaan. Kedua, ada kesinambungan penghasilan setelah pensiun, sehingga menimbulkan rasa aman di masa depan serta menciptakan iklim yang kondusif dalam hubungan yang harmonis antara karyawan dan perusahaan. Ketiga, karyawan bergairah, bersemangat untuk bekerja, dan setia pada perusahaan, sehingga turnover karyawan bisa dikurangi. Keempat, karyawan bekerja pada perusahaan yang memiliki reputasi serta mendapatkan citra yang sangat positif dari masyarakat.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa selama 20 tahun terakhir, Dana Pensiun Astra (DPA) dapat memberikan return dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) 15,06%. Bakan, dana yang dikelola dari DPA juga tercatat tinggi. Begitu juga dengan mitra serta peserta yang terlibat. Data per Desember 2017 menunjukkan, DPA 1 memiliki dana kelola Rp 1,45 triliun dengan jumlah kepesertaan 3.203 serta 65 mitra. Selanjutnya, pada DPA 2, dana kelola mencapai Rp 8,37 triliun dengn jumlah peserta 161.151 peserta dan 134 mitra.

Diakui Suheri, pentingnya program Dana Pensiun tak lepas dari fakta bahwa hanya sedikit orang yang setelah pensiun memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik. Data dari Majalah Swa menunjukkan, hanya 1% mantan karyawan (pensiunan) yang pendapatannya lebih baik pascapensiun. Dan, hanya 4% mantan karyawan yang pendapatannya sama atau cukup pascapensiun. Adapun 5% mantan karyawan memutuskan untuk bekerja kembali. Sisanya, 12% mengaku bangkrut, 49% bergantung pada anak, dan 29% meninggal. "Untuk itu, perlu perencanaan pensiun yang lebih baik," sarannya.

Menurut Suheri, ada dua langkah utama yang dapat dilakukan perusahaan dalam menggelar program pensiun agar berdampak optimal. Pertama, sesuaikan pengelolaan program pensiun berdasarkan profil usia. Misal, dana pensiun dikelola untuk deposito berjangka pada bank, surat berharga negara, saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), obligasi atau sukuk yang tercatat di BEI, dan sebagainya. Kedua, memberikan pelatihan kepada karyawan sesuai dengan visi mereka masing-masing. "Dengan demikian, karyawan dapat memasuki masa pensiun dengan yakin," pungkas Suheri.

Ditambahkan Wahyu, fase pensiun dapat dibagi tiga, prapensiun, pensiun, dan pascapensiun. Pada fase Prapensiun, ia menganjurkan, perusahaan sudah mulai memberikan program persiapan pensiun kepada karyawan. Sejatinya, langkah itu sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika karyawan sudah memasuki fase pascapensiun. Sebab, sejumlah masalah berpotensi muncul. Termasuk, masalah harga diri, kesehatan, dan keuangan.

Sementara itu, Adrian Rusmana menyampaikan isu-isu strategi yang berkaitan dengan pensiun yang meliputi, antara lain, kesejahteraan pensiun rendah, manfaat pensiun tidak cukup untuk menjaga kenaikan biaya hidup, nilai pensiun yang statis, tingkat kecukupan dana menjadi beban pendiri di saat nilai investasi menurun atau kewajiban dana pensiun meningkat, jumlah pensiun yang besar, usia pensiun semakin panjang, dan kesenjangan manfaat pensiun antara pegawai lama dan baru.

Isu strategis lainnya, tambah Adrian adalah perbedaan sistem upah dan kemampuan pendanaan antara pendiri dan mitra pendiri, regulasi yang semakin memberatkan, SDM profesional yang sangat terbatas, serta BPJS Tenaga Kerja menjadi beban bagi pendiri dan mitra pendiri.

Ke depan, untuk mengoptimalkan program pensiun agar bisa menjadi daya tarik perusahaan, menurut Adrian, perlu adanya inovasi dan kreativitas dari perusahaan untuk untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan dan pemberdayaan para pensiunan, mengetahui comparative advantage dalam mengelola aset investasi, mengutamakan SDM berusia muda, profesional, dan bertalenta, penggunaan teknologi informasi dengan dukungan SDM yang andal, dan membangun dana pensiun dengan iuran pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)