FAB Hadirkan Platform Bisnis Berekosistem Ekonomi Kreatif

MIX.co.id - Ekonomi kreatif menjadi salah satu industri yang paling seksi. Hal ini dibuktikan dengan kontribusi sektor ekonomi kreatif yang sangat signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Merujuk catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, subsektor ekonomi kreatif berhasil menyumbangkan 7,44 persen terhadap PDB, 14,28 persen tenaga kerja, dan 13,77 persen terhadap ekspor.

Bahkan, Opus Creative Economy Outlook 2019 mencatat, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar Rp 1.105 triliun terhadap PDB Indonesia. Hal ini membuat Indonesia dalam posisi ketiga di dunia, untuk jumlah kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB negara.

Fakta inilah yang membuat Fantastis Anak Bangsa (FAB) memutuskan untuk melakukan transformasi bisnis. Sejak setahun lalu, FAB telah bertransformasi dari sebuah jaringan usaha periklanan, menjadi sebuah platform bisnis untuk usaha kreatif anak bangsa.

“Melalui transformasi ini, FAB menghadirkan platform bisnis yang menyediakan ekosistem ekonomi kreatif, di mana di dalamnya dapat mendukung 17 sub-sektor ekonomi kreatif. Melalui platform FAB ini, sumber daya kreatif anak bangsa berpeluang menjadi entrepreneur dengan menciptakan usaha, bahkan mengembangkan usahanya secara lebih cepat,” ungkap Fritz B. Tobing, Chief Executive Officer FAB, pada kesempatan wawancara khusus di kantornya, pertengahan Oktober ini (14/10).

Lebih jauh ia menerangkan, platform ekosistem kreatif FAB yang berbasis teknologi ini, menghadirkan layanan terintegrasi yang dapat mendukung para pelaku kreatif di Indonesia. Mulai dari Investment dengan membantu permodalan; Client & Consumer Networks, di mana FAB akan membantu melakukan pengembangan jaringan ke klien dan konsumen; Management, di mana FAB akan melakukan pendampingan dalam pengembangan bisnis; Core Office dengan memfasilitasi kantor; Expertise Network, dengan menghadirkan para ahli di bidangnya; serta Technlogy, yakni memberikan dukungan teknologi.

Sejatinya, platform bisnis yang menyediakan ekosistem dari 17 sub-sektor ekonomi kreatif ini menjadi unique selling point (USP) FAB. “Platform seperti ini merupakan yang pertama di Indonesia, yang menyediakan ekosistem yang terintegrasi dan komprehensif untuk 17 sub-sektor ekonomi kreatif,” katanya.

Istimewanya, platform FAB ini dapat dimanfaatkan oleh individu ataupun korporasi. Untuk individu, FAB mengundang para talent kreatif untuk membangun usaha kreatif dan menjadi pemimpin di industri kreatif di Indonesia. “Untuk kategori individu ini, mereka bisa memulainya dengan belajar menjadi anggota tim di salah satu atau beberapa usaha kreatif yang ada di FAB Group sebelum akhirnya, mereka mendirikan usahanya sendiri bersama FAB. Namun, jika mereka sudah punya pengalaman panjang di luar FAB, mereka bisa langsung membangun usahanya bersama FAB,” papar Fritz.

Bentuk dukungan FAB kepada individu atau talent tersebut tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai dari permodalan, pendampingan, menghubungkan dengan jejaring klien dan konsumen, hingga teknologi. “Semua tools pada platform ekosistem FAB dapat digunakan, yang tentu saja custom disesuaikan dengan kebutuhan,” lanjutnya.

Sementara itu, kategori korporat adalah untuk mereka yang sudah memiliki usaha namun punya kendala untuk berkembang. Misalnya, dalam pengembangan usaha mereka terkendala kurangnya jejaring, membutuhkan pendampingan, belum memiliki teknologi yang mumpuni, dan sebagainya. “FAB melalui platform ekosistem ekonomi kreatif ini dapat menjadi solusi. Untuk bergabung dengan FAB, bentuknya bisa dalam bentuk joint venture,” ucapnya.

Fritz mencontohkan, Moms (Mother’s on Mission Academy), yang merupakan platform pengembangan komunitas ibu-ibu, membutuhkan investasi, jaringan usaha, dan pendampingan saat ingin join dengan FAB. Contoh lainnya adalah Foniks, yang merupakan hasil joint venture dengan MRA Media. “Foniks bergerak di bidang agensi kreatif yang dijalankan dalam platform FAB,” urainya.

Untuk contoh individu yang mendirikan usahanya dengan platform FAB adalah agensi kreatif Bujuk Rayu. “Dulunya, para pendiri merupakan pelaku kreatif yang telah bekerja di sejumlah perusahaan multinasional. Selanjutnya, mereka bergabung dengan FAB dan mendirikan usaha bersama dengan menggunakan platform ekosistem FAB. Di tahun ke delapan, Bujuk Rayu berhasil melahirkan anak usaha, Ambil Hati, agensi kreatif dan digital,” ia menjelaskan.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)