Mengintip Komunikasi Persuasif antara Indonesia dan China

Dalam beberapa hari belakangan, isu Natuna tengah mencuat di Tanah Air. Isu Natuna tersebut sejatinya turut mempengaruhi hubungan baik yang selama ini sudah terjalin antara Indonesia dan China. Antara lain, jalinan ekonomi Indonesia dan China melalui inisiatif Belt & Road yang menghadirkan empat koridor ekonomi, yakni Sumatra Utara (dengan pendirian pelabuhan), Kalimantan Utara (membangun infrastruktur energi untuk PLN), Sulewesi Utara, dan Bali (membangun manufaktur dan infrastruktur untuk pariwisata). Tak tanggung-tanggung, nilai investasi sebesar US$ 64 miliar akan ditanamkan pada keempat koridor ekonomi tersebut.

Demikian diungkapkan Duta besar RI untuk China Djauhari Oratmangun pada kesempatan “LSPR Guest Lecture & Talkshow with Ambassador” yang digelar LSPR pada hari ini (7/1), di kampus LSPR Jakarta. Ia juga mengibaratkan hubungan antara China dan Indonesia layaknya hubungan rumah tangga. “Dalam rumah tangga saja, ada masanya up and down. Begitu juga hubungan bernegara, ada up and down. Dan, tidak hanya dengan China, Indonesia juga pernah mengalami masalah dengan Australia, dan negara lainnya,” ucapnya.

Kunci yang menjadi solusi atas masalah ini, menurut Djauhari adalah komunikasi persuasif. “Saat ini, kedua belah pihak (Indonesia dan China—red) telah melakukan komunikasi untuk mencari solusi. Komunikasi ini juga dilakukan melalui forum-forum internasional. Langkah ini layaknya hubungan bertetangga, jika permasalahan masih belum menemukan solusi pasca berbicara kedua belah pihak, maka RT atau RW dapat membantu menyelesaikan masalahnya,” paparnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, Indonesia dan China telah memiliki hubungan perdagangan yang cukup signifikan. Hal itu ditandai dengan volume perdagangan Indonesia dan China yang pada Januari-November 2019 mencapai US$ 72,42 miliar. Itu artinya, tumbuh dibandingkan tahun 2018, yang mencapai US$ 72,66 miliar.

Investasi China di Indonesia jauh lebih progresif. Pertumbuhannya bisa mencapai 81,3% dengan nilai investasi pada kuartal satu (Q1) hingga Q3 2019 mencapaiUS$ 3,31 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, Q1-Q3 2019, yang investasi hanya mencapai US$ 1,83 miliar,” urainya.

Bahkan, nilai ekspor Indonesia ke China pun terhitung siginfikan. Dituturkan Djauhari, ekspor Indonesia ke China pada 2019 betumbuh di setiap kategori produk Ia pun mencotohkan sejumlah kategori produk yang tumbuh sangat signifikan, yakni buah kemasan yang mencapai US$ 807 ribu di 2019 atau tumbuh 1.192% dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga dengan buah tropis yang mencapai US$ 45,5 juta atau naik 202%.

Dua produk lainnya yang juga tumbuh signfikan pada tahun 2019 adalah Nikel yang nilai ekspornya mencapai US$ 102,1 juta atau tumbuh 1.073% dan produk aquatic yang mencapai US$ 19,8 juta atau naik 730%,” urainya.

Tak hanya produk, menurut Djauhari, ekonomi digital pun dapat menjadi peluang yang sangat besar bagi Indonesia dalam membangun hubungan baik dengan China. Mengingat, ekonomi digital di China tercatat sangat tinggi. “Ekonomi digital China mampu menyumbang 30% GDP-nya, dimana GDP China termasuk ketiga yang terbesar di dunia, yakni mencapai US$ 25,1 triliun. Sementara itu, transaksi global terkait ekonomi digital China mencapai 40% dan total valuasi fintech China di dunia mencapai 70%. Terbukti, saat ini, valuasi Alibaba mencapai US$ 490 miliar dan Tencent mencapai US$ 595 miliar,” katanya.

Fakta itu tentu saja bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam menjalin ekonomi digital antara Indonesia dan China. Setidaknya, menurut Djauhari, ada lima peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia. Pertama, mengembangkan infrastruktur digital melalui Digital Maritime Silk Road. Kedua, meningkatkan kapasitas profesional, seperti strategi pasar, AI (Artificial Intelligence), big data, software, data localization, dan cloud computing). Ketiga, pengembangan logistik dan rantai pasokan untuk mengantisipasi peningkatan perdagangan e-commerce di Asia. Keempat, memperoleh best practices dan lesson learned dari e-payment di China. Kelima, memperoleh ventura capital atau angel investor dari China.

Dalam waktu dekat, Indonesia akan membawa sejumlah startup Indonesia ke China untuk mengenal lebih jauh ekonomi digital di sana. Ia mencontohkan, pelaku startup Indonesia akan diajak berkunjung ke Alibaba, TikTok, Tencent, dan sebagainya.

Selain itu, kami juga tengah melakukan kerja sama di industri perfilm-an. Antara lain, melalui rencana pembuatan film 'Laksama Cheng Ho'. Sebelumnya, kami juga membawa film-film Indonesia ke China, seperti 'Cek Toko Sebelah' dan sebagainya. Bahkan, di industri pariwisata, pemerintah Manado sudah bekerja sama dengan China, sehingga mampu meningkatkan turis China ke Manado, yakni di atas 200 ribu per tahun. Dengan kenainan itu, industri hotel, UKM (Usaha Kecil Menengah), resto, dan sebagainya turut bertumbuh,” imbuh Djauhari.

Sebelum menutup pemaparannya, Djauhari menegaskan bahwa pada ujungnya semua hal akan membutuhkan komunikasi persuasif, baik itu isu moneter, ekonomi, ataupun miilter terkait hubungan bilateral dua negara. Contohnya, ketika ada perkosaan di Bali, turis China yang ke Bali mengalami penurunan cukup signifkan. Untuk masalah itu, Indonesia memilih melakukan pendekatan Public Relations (PR) dengan mengkomunikasikan setiap proses yang dilakukan Indonesia dalam menangani kasus tersebut. “Kemudian, hasilnya kami komunikasikan ke masyarakat di China, antara lain melalui media sosial,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)