Schneider Edukasi Pentingnya Smart dan Green Building

Bangunan tercatat sebagai salah satu yang paling tinggi mengkonsumsi energi. Terbukti, bangunan mengkonsumsi 39% energi dunia dan 12% air dunia. Akibatnya, menimbulkan 25% sampah dan 35% emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, 27% konsumsi listrik digunakan oleh bangunan. Oleh karena itu, menurut Iwan Prijanto, Chairperson Green Building Council Indonesia, dibutuhkan edukasi kepada seluruh stakeholder tentang pentingnya green building demi keberlanjutan.

Diakui Iwan, kesadaran Green Building mulai tumbuh pada saat pemerintah menerbitkan Permen PU tentang bangunan hijau pada 2012 lalu. "Oleh karena itu, saat ini, green building sudah menjadi salah satu elemen pada saat tender berlangsung. Dan, hampir semua developer di Indonesia sudah memiliki portofolio green building, meski jumlahnya masih minor," jelas Iwan.

Kendati di segmen pengembang dan pemerintah sudah memiliki kesadaran akan pentingnya green building, namun demand di market justru menjadi kunci suksesnya. Artinya, kalau end user sudah memiliki kesadaran untuk memilih hunian atau bangunan yang telah tersertifikasi green building, maka ekosistem green building dengan sendirinya akan tercipta. "Untuk itu, dibutuhkan peran media untuk membantu mengedukasi market dan mempromosikan tentang pentignya green building," yakin Iwan, yang menyebutkan Gedung PU yang sudah bersertifikat Green Building mampu menghemat 40% biaya pengelolaan.

Senada dengan Iwan, Schneider Electric--pemimpin dalam transformasi digital di pengeloaan energi dan otomasi--meyakini akan pentingnya green building. Untuk itu, Scheneider berkomitmen untuk merancang bangunan seefisien mungkin untuk meningkatkan praktik bisnis, mempromosikan efisiensi energi, dan pada akhirnya, memungkinkan kota-kota di seluruh Indonesia bertransisi dari bangunan pintar dan hijau ke kota pintar berkelanjutan. Salah satunya, dengan mengedukasi media bersama Green Building Council Indonesia.

"Pertumbuhan green building maupun smart building sejalan dengan bertumbuhnya smart device di Indonesia. Dalam dua tahun yang akan datang, diperkirakan smart device akan mencapai 10 kali lipat dari jumlah populasi manusia. Fakta lainnya, menurut data IDC 2018, spending Internet of Thing (IoT) di dunia mencapai $ 772 miliar," tutur Ferry Kurniawan, Segment Manager Healthcare & Real Estate Schneider Electric, pada hari ini (13/3), di Jakarta.

Lebih lanjut Ferry menerangkan bahwa sejumlah edukasi tentang smart building dan green building telah dilakukan Scheneider, baik ke segmen kontraktor, konsultan, maupun building owner. "Kami menggelar gathering dengan memaparkan sejumlah case study tentang banyaknya manfaat yang diperoleh dengan smart building maupun green building," lanjutnya.

Demi mewujudkan smart dan green building, ditambahkan Ferry, Schneider menawarkan solusi dengan sejumlah added value, Ecotruxure Building. Dijelaskannya, Ecotruxure Building adalah bagian dari Arsitektur EcoStruxure Schneider Electric. EcoStruxure™ merupakan platform dan arsitektur sistem yang terbuka, interoperable, dan berbasis IoT. "EcoStruxure memberikan nilai yang lebih tinggi akan keselamatan, keandalan, efisiensi, keberlanjutan, dan konektivitas bagi pelanggan kami. EcoStruxure memanfaatkan kemajuan dalam IoT, mobilitas, penginderaan, cloud, analisa, dan cybersecurity untuk menghadirkan Inovasi di setiap level yang mencakup Connected Products, Edge Control, dan Aoos, Analytics & Services. EcoStruxure," ujarnya.

Ecotruxure Building telah diimplementasikan di 480.000 lokasi dengan dukungan 20.000+ integrator dan pengembang sistem, serta menghubungkan lebih dari 1,6 juta aset yang dikelola melalui 40+ layanan digital. Klien kami yang sudah memanfaatkan solusi ini antara lain gedung Grand Indonesia, Rumah Sakit Mayapada, serta sejumlah pengembang real estate," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)