Tren Ngemil Meningkat, Mondelez Kampanyekan #NgemilBijak

Studi “State of Snacking 2019” dari Mondelez International mengungkapkan bahwa 85% orangtua di Indonesia menurunkan kebiasaan ngemil mereka. Terlebih pada saat pandemi, mendorong banyak orang memilih ngemil bersama keluarga untuk mengisi waktu atau mengurangi rasa bosan di rumah.

Menyadari pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan baik, Mondelez Indonesia mengajak para orangtua, terutama ibu, untuk menerapkan kebiasaan #NgemilBijak. Kali ini, Mondelez berkolaborasi dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN).

Diungkapkan Khrisma Fitriasari, Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia, Mondelez Indonesia percaya kebiasaan #NgemilBijak dapat diterapkan oleh keluarga Indonesia berkat peranan orangtua, terutama seorang ibu.

“Kebiasaan #NgemilBijak untuk seluruh anggota keluarga dapat dimulai dari para orangtua, sehingga seluruh anggota keluarga bisa mendapatkan manfaat camilan secara lebih seimbang, baik untuk tubuh dan juga pikiran,” yakin Khrisma.

Menurutnya, kebiasaan ngemil lebih bijak dapat dilakukan dengan tiga hal. Pertama, mengenali isyarat tubuh yang membuat ingin ngemil, misalnya apakah karena lapar ataukah perlu ngemil untuk mengembalikan mood. Sebab, bedasarkan studi “State of Snacking 2019”, 93% alasan orang Indonesia ngemil adalah untuk meningkatkan mood, sedangkan 91% untuk menemukan momen “me time”.

Kedua, memilih camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh tersebut, tentunya dengan memperhatikan porsi camilan dan waktu ketika ngemil. Ketiga, memaksimalkan semua indera selama ngemil, sehingga dapat mengenali isyarat tubuh, kapan harus berhenti ngemil. “Untuk itu, sebaiknya ngemil tidak dilakukan sembari berkegiatan lain,” ia menyarankan.

Alfa Kurnia, perwakilan dari komunitas IIDN, menegaskan, memilih asupan keluarga adalah tugas penting untuk seorang ibu. “Selain mengenyangkan dan enak, tentu makanan yang dikonsumsi keluarga harus bernutrisi, termasuk camilan. Sebisa mungkin ngemil harus bijak. Baik dari segi jumlah camilan yang bisa dikonsumsi maupun jenis camilannya,” jelas Alfa Kurnia.

Sementara itu, Psikolog Klinis Tara De Thouars memaparkan bahwa orangtua, terutama ibu, menjadi contoh bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, kebiasaan ngemil seperti cara, sikap, bahkan frekuensi ngemil akan dilihat dan diikuti oleh anak-anaknya.

“Tak jarang, tanggung jawab seorang ibu menimbulkan rasa cemas atau bersalah jika anaknya tumbuh kekurangan, sehingga cenderung memberikan makanan berlebih pada anaknya,” tuturnya.

Diungkapkan Tara, penerapan #NgemilBijak dalam keluarga bisa dimulai dengan menerapkan tiga tips. Pertama, membenahi perilaku ngemil sehingga menjadi contoh yang baik untuk anaknya, dengan membiasakan ngemil secara sadar dengan memperhatikan isyarat tubuh agar tidak kelebihan asupan. Kedua, mengatasi kecemasan dan perasaan bersalah yang membuat ibu malah tidak memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ketiga, mengutamakan apa yang lebih baik untuk anaknya bukan sebatas apa yang diinginkan oleh anaknya.

Sebagai salah satu pemimpin global dalam industri makanan ringan, lanjut Khrisma, Mondelez International dengan produk-produknya yang ikonik seperti biskuit Oreo, cokelat Cadbury, dan Keju KRAFT telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.

“Hadirnya kampanye #NgemilBijak ini sejalan dengan tujuan perusahaan, yakni ‘To Empower People to Snack Right’ dimana Mondelez International terus berinovasi melalui produk-produknya untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan menawarkan camilan yang tepat, pada waktu yang tepat, serta dibuat dengan cara yang tepat pula,” ia menutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)