Barangkali Anda pernah melihat iklan layanan masyarakat yang dibintangi penyanyi lawas Dewi Yull serta komedian Gogon. Melalui kampanye di televisi itu, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ingin mengubah stigma negatif akan pemanfaatan energi nuklir.

Kepala BATAN Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto (kiri): "Melalui program sosialisasi itu, kami ingin mengubah stigma negatif akan kekhawatiran masyarakat terkait rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)."

Pesan komunikasi kampanye "Go Nuklir" yang ingin disampaikan adalah tentang perlunya memanfaatkan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik atau keperluan lainnya--seperti untuk kesehatan, peternakan, dan pangan.

Upaya pemerintah mengubah persepsi negatif itu rupanya tak hanya dilakukan lewat media televisi. Channel above the line (ATL)lainnya juga dimanfaatkan oleh Batan, diantaranya media radio dan cetak, termasuk media online dan jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Masih belum cukup, upaya sosialisasi BATAN tentang "Go Nuklir" juga diintegrasikan lewat channel below the line (BTL), melalui kegiatan roadshow ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah, serta kegiatan PR ke sejumlah media. "Melalui program sosialisasi itu, kami ingin mengubah stigma negatif akan kekhawatiran masyarakat terkait rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)," ungkap Kepala BATAN Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto.

Paska upaya sosialisasi, tahun 2013 ini BATAN melakukan program evaluasi dengan menggandeng perusahaan survei independen, PT Iconesia Solusi Prioritas. Hasilnya, dari survei terhadap 4.000 responden di 34 provinsi di Indonesia, 76,5 persen menyatakan setuju terhadap pembangunan IPTEK Nuklir di Indonesia.

Dari angka tersebut, 60,4 persen setuju pengembangan IPTEK nuklir di bidang energi atau pembangunan PLTN, di bidang kesehatan 42,8 persen, peternakan 30 persen, dan pangan 29,5 persen. Adapun responden yang tidak setuju mencapai 28,5 persen.

Bicara media komunikasi yang paling efektif digunakan untuk berkampanye, ternyata hasilnya 60,2 persen responden mendapat sumber informasi nuklir dari media televisi, situs online 15,9 persen, media cetak 15 persen, roadshow ke sekolah dan kampus 6,1 persen, dan radio 5,8 persen. Data ini menunjukkan bahwa televisi masih paling efektif sebagai media sosialisasi atau kampanye "Go Nuklir".

Ironisnya, meski sumber informasi yang diterima dari media radio paling kecil, namun tingkat pemahaman masyarakat tentang nuklir justru paling tinggi datang dari radio, yakni 64,69 persen. Kemudian, disusul lewat media cetak 64,08 persen, dan televisi--salah satunya dengan iklan layanan masyarakat--mencapai 63,91 persen.

Menurut Djarot, ke depan, BATAN masih akan mengkampanyekan pemanfaatan tenaga nuklir, guna me-maintain masyarakat Indonesia yang pro nuklir. Semua media komunikasi, termasuk digital, akan kami manfaatkan. Tidak tertutup kemungkinan, kampanye lewat film, aplikasi games, dan sebagainya. Mengingat, masyarakat Indonesia belakangan sangat akrab dengan perangkat digital maupun mobile.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)