Upaya Coca-Cola Indonesia Kurangi Limbah Kemasan Plastik

Sampai saat ini, total jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia mencapai 175 ribu ton per hari. Dan, 14%-nya dipasok oleh sampah plastik. Sementara itu, di Jakarta, total sampah yang dihasilkan mencapai 8 ribu ton per hari, di mana 15%-nya dikontribusi oleh sampah plastik. Tak mengherankan, jika Indonesia merupakan peringkat kedua terbesar di dunia, setelah Tiongkok, sebagai penghasil sampah plastik ke laut.

Fakta itulah yang membuat Coca-Cola memutuskan untuk menghadirkan sistem produksi botol terbarunya di Indonesia, dengan nama Affordable Small Sparkling Package (ASSP). Pengembangan teknologi yang bekerja sama dengan KHS GmbH-Jerman tersebut, memungkinkan Coca-Cola memproduksi botol plastik berkualitas tinggi dan lebih ringan.

Sejatinya, botol jenis baru tersebut merupakan jenis pertama di Indonesia. Teknologi itu juga dapat mengurangi penggunaan plastik hingga lebih dari 40% atau lebih dari 800 ton per tahunnya di Indonesia. Dengan demikian, sampah atau limbah plastik pun dapat berkurang di Indonesia.

Triyono Prijosoesilo, Public Affairs & Communications Director Coca-Cola Indonesia, mengungkapkan, “Kami secara aktif bekerja di seluruh bagian sistem Coca-Cola untuk menciptakan solusi yang bertujuan untuk mencegah pembuatan limbah yang berlebih, yang disebabkan oleh kemasan produk kami."

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa visi pengemasan berkelanjutan Coca-Cola terdiri dari dua bagian. Pertama adalah dengan konsumen. "Konsumen menyatakan kepada kami bahwa mereka menginginkan kemasan yang mudah dibawa-bawa, dapat ditutup kembali, ringan, dan tahan banting, sesuai dengan gaya hidup modern mereka," katanya.

Visi kedua adalah kemasan Coca-Cola harus berkelanjutan (sustainable packaging). "Untuk itu, kami hanya menggunakan bahan plastik sesuai dengan yang dibutuhkan dan kami terus berusaha mendorong batas teknologi hingga dapat mengurangi jumlah plastik yang kami gunakan. Tujuannya adalah mencegah terciptanya limbah yang berlebihan namun tetap memberikan produk-produk berkualitas tinggi dan aman. Untuk itu, kami menerapkan teknologi baru ASSP ini di Indonesia," tambahnya.

Visi jangka panjang Coca-Cola dalam kemasan berkelanjutan termasuk juga untuk mempengaruhi skala dan sumber daya Coca-Cola secara signifikan guna berkontribusi secara nyata pada “ekonomi melingkar (circular economy)”. Dikatakan Triyono, "Itu artinya, bahan-bahan yang digunakan dan didaur-ulang secara terus-menerus juga membangun ulang modal alam dan sosial."

Menurut Triyono, lini produksi senilai USD 30 juta di pabrik Cikedokan, Jawa Barat, merupakan salah satu upaya Coca-Cola untuk memberi nilai tambah kepada lingkungan alam, sekaligus kepada keberlanjutan bisnis. Coca-Cola merupakan perusahaan pertama yang menggunakan teknologi ASSP untuk minuman soda berkarbonasi dan akan memproduksi botol plastik berkualitas tinggi dan lebih ringan yang merupakan jenis pertama di ASEAN.

"Indonesia merupakan pasar kedua di dunia, setelah India, di mana Coca-Cola memperkenalkan teknologi ini. Dibangun di atas lahan seluas 10 ha, pabrik Cikedokan memiliki kapasitas untuk memproduksi sekitar 188,000 botol per jam," tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)