Circular Economy Molindo "The Best Socially Business Practice"

Indonesia’s Best Corporate Social Initiatives 2018

Bergerak dalam industri kimia yang memproduksi ethanol terbesar di Indonesia, PT Molindo Raya Industrial dari Malang mampu menguasai 53% pangsa pasar ethanol domestik. Tahun lalu Molindo berhasil memasarkan 77 juta liter ethanol dari total kapasitas 80 juta liter per tahun miliknya. Sebagai perusahaan manufakturing ethanol yang mengolah limbah dari industri tetes tebu menjadi ethanol, Molindo menyadari bahwa tanggung jawab sosial perusahaan melalui berbagai inisiatif sosial perlu dilakukan.

“Dari proses produksi ethanol, tentunya akan ada limbah baru yang dihasilkan. Nah, limbah baru itu, kami olah kembali menjadi pupuk. Untuk program pembuatan pupuk ini, kami bekerja sama dengan PT Petro Kimia Gresik sebagai mitra. Petro Kimia Gresik inilah yang nantinya bertindak sebagai penyalur, yang akan menyalurkan pupuk bersubsidi tersebut kepada para petani Tebu. Konsep ini kami namakan Circular Economy,” ujar Arief Goenadibrata, Direktur Utama PT Molindo Raya Industrial Ethanol Distillery.

Dalam pengelolaan limbah menjadi pupuk ini, Molindo juga sangat concern pada keselamatan lingkungan sehingga perusahaan ini kemudian membuat green house seluas tiga hektar sebagai lahan pengeringan limbah secara natural yang nantinya dicampur dengan bahan-bahan lain untuk dijadikan pupuk organik. “Dari pengeolahan limbah hasil produksi ethanol, kami mampu menghasilkan pupuk organik maupun pupuk kalium. Bahkan, untuk pupuk Kalium, sejak tahun lalu, kami sudah mengekspornya hingga ke New Zealand,” lanjutnya.

Ditambahkan Arief, Molindo juga melakukan komposting yang dimulai sejak 2006. Produksi pupuk kompos Molindo saat ini mencapai 15 ribu sampai 20 ribu ton per tahun. Olahan limbah tersebut sekarang sedang diuji coba bersama universitas untuk dijadikan sebagai pakan ternak. Adapun uap panas hasil pembakaran limbah tersebut juga tengah diproses oleh Molindo untuk menghasilkan energi alternatif agar Molindo dapat ber-swasembada listrik.

“Dari program tersebut, kami tidak mengambil keuntungan. Ini adalah bagian dari tanggung sosial perusahaan kami. Sebab, limbah itu kalau tidak dijadikan pupuk atau dibuang begitu saja, maka akan berbahaya untuk lingkungan. Maka, lebih baik kami tambah cost sedikit, lalu dijadikan produk yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar,” jelasnya.

Inisiatif sosial perusahaan dengan mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi—dikenal dengan istilah circular economy, diakui Arief, memang membutuhkan biaya yang tidak kecil. “Investasi untuk mesin pembuat pupuknya saja mencapai ratusan miliar rupiah. Belum lagi, lahan yang dipakai pun cukup besar. Lahan kami ada di Lawang (Malang), karena semua pabrik kami ada di Lawang,” tandasnya.

Oleh karena itu, menurut Arief, tantangan terbesar dalam mengeksekusi program socially business practices adalah pada biaya. Namun, inisiatif sosial tersebut tetap harus dilakukan Molindo, karena hal itu merupakan komitmen perusahaan. “Visi perusahaan kami adalah menjadi perusahaan ethanol yang terdepan dan terintegrasi di Asia Pasifik. Dengan demikian, standard kualitas, governance, sistem bekerja, dan sebagainya, harus disesuaikan dengan standard internasional,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)