“Awal saya bekerja di dunia penjualan atau sales, tapi lambat laun saya mulai menemukan kenyamanan di dunia marketing. Jadilah kini saya bekerja di dunia yang menurut saya, inilah saya sebenarnya. Khususnya di Nescafe kini,” papar Michael Suwito, Brand Manager Pure Soluble Coffee and Creamer PT Nestle Indonesia saat ditanya antusiasme-nya berkarir sebagai seorang marketer.

Michael Suwito, Brand Manager Pure Soluble Coffee and Creamer PT Nestle Indonesia.

Mengawali karir sebagai seorang Sales di Kalbe Internationalanak perusahaan Kalbe Farma Group pada tahun 2008 silam, ia kerap menghadapi hal–hal yang hanya menyangkut ‘jualan’ saja. “Waktu di Kalbe International dan ditempatkan di Filipina, saya bertugas menjual produk Extra Joss. Namun setahun kemudian, saya pindah ke Bintang Toejoeh, dan masih tetap handle Extra Joss untuk kebutuhan nasional,” jelas Michael.

Setelah menimba ilmu di Kalbe International dengan posisi terakhir sebagai Associate Brand Manager, Michael pun pindah ke Nestle Indonesia tahun 2011. “Dari awal di Nestle saya sudah memegang Nescafe. Saya memang mengincar brand ini, dan terbukti saya diangkat Brand Manager-nya. Saya juga sebenarnya pecinta berat kopi,” kilah Michael.

Menurutnya, ada beberapa kemiripan antara menjadi seorang sales dengan menjadi seorang marketer, namun beda objektifnya. “Secara garis besar, sama–sama membawa brand untuk lebih dikenal dan pada akhirnya berada di tahap akhir proses pembelian. Keduanya sama–sama punya tantangannya masing–masing,” pikir alumnus Binus di Jurusan Teknologi Informatika pada tahun 2008 silam itu kepada MIX saat di temui di Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Kini, pria yang mengaku sanggup menghabiskan satu hingga tujuh cangkir kopi Nescafe dalam sehari itu, berkeinginan untuk terus mengembangkanNescafe hingga menjadi brand pilihan utama konsumen.

“Nescafe merupakan brand paling bernilai di dunia, dan modalnya sudah cukup besar untuk mengembangkan diri di Indonesia. Karena itu, kami terus berkomunikasi kepada publik lewat unsur 4P di marketing, yaitu product, price, place, dan promotion. Hal inilah yang menjadi pijakan saya berkreasi dan mengembangkan berbagai strategi untuk membangun brand Nescafe,” papar Michael menutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)