Dari Revitalisasi Commuter Line, Mereka Telaten Mencari Insights

Tahun 2013 ini PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengeksekusi beberapa tahapan penting dalam revitalisasi sistem perkeretaapian Indonesia—yang sejatinya sudah digodok sejak 2008. Tahun ini pula PT KAI menata ulang wajah setiap stasiun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), menambah armada kereta, memberlakukan e-ticketing, dan mulai mengomersialkan gerbong kereta sebagai media placement untuk iklan. Mengeksekusi program revitalisasi pada sistem yang sudah mengakar merupakan pekerjaan besar. Apalagi yang direvitalisasi adalah sistem perkeretaapian nasional yang melibatkan stakeholders yang sangat banyak dan beragam. Untuk memuluskannya, menurut Commerce & Corporate Communication Director PT KAI Commuter Jabodetabek Makmur Syaheran, KAI mendirikan anak usaha baru, yaitu PT KAI Commuter Jabodetabek.

Tim Marketing PT KAI Commuter Jabodetabek.

Sebagai anak usaha baru, PT KAI Commuter lalu bergerak cepat. Mereka menyadari betul untuk melayani para komuter dengan baik, dibutuhkan anggota tim yang memiliki jiwa melayani, sanggup bergerak cepat, dan mampu mengikuti perubahan. Di bawah komando Makmur Syaheran, Direktorat Layanan dan Usaha PT KAI Commuter Jabodetabek dibagi menjadi lima kelompok: Tim Penjualan/Bisnis yang dikawal oleh Devri Bawinto sebagai General Manager, Tim Pelayanan Pelanggan yang dikepalai Mega Rusiandi sebagai General Manager, Tim Penjualan e-Ticketing yang diketuai Eko Benhart sebagai Manager, Tim Business Development yang dipimpin Rumi Jalil selaku Manager, dan Tim Corporate Communication yang dikepalai Eva Chairunisa selaku Manager. “Saat ini, tim kami tak kurang dari 50-an orang yang masih muda-muda. Jumlah tersebut belum termasuk tim yang ditugaskan di stasiun. Setiap stasiun tak kurang dari 15 personil ditugaskan di sana untuk melayani penumpang,” Makmur mengungkapkan. Sukses revitalisasi oleh PT KAI Commuter, menurut Makmur, tak terlepas dari kekompakan sekaligus kerja keras tim. Mengedepankan budaya keterbukaan dan egaliter, katanya, setiap personil tim berhak mengemukakan ide atau pendapat. “Ide bisa datang dari siapa saja, bahkan petugas di lapangan sekalipun. Justru mereka yang sehari-hari berhadapan dengan penumpang yang paling tahu kondisi sebenarnya,” tegasnya. Tak heran, jika tugas turun ke lapangan bukanlah milik para staf dan personil di level service saja, melainkan juga kewajiban direktur seperti Makmur beserta para General Manager dan Manager-nya. Bahkan dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing, para staf di level manager ke atas ini juga ditugasi memantau lapangan di area Commuter Line di rute perjalanan masing-masing ke kantor setiap hari. Dengan kesibukan di lapangan seperti itu, tak heran jika koordinasi antar-tim lebih sering dilakukan di dunia maya, baik via email maupun grup BBM (BlackBerry Messenger). “Selain lebih cepat dan praktis, koordinasi via dunia maya, informasi terkini maupun evaluasi atas seluruh program maupun kondisi di lapangan dapat kami ketahui secara real time. Meski demikian, meeting tatap muka juga tetap kami lakukan sekali dalam sebulan. Meeting tatap muka ini biasanya lebih untuk menyatukan chemistry sekaligus emotional bonding di antara personil tim,” terang Makmur. Kendati kerja penuh tantangan dan jam kerja yang padat, tim KAI Commuter tercatat sangat solid dan kompak. Kekompakan tak hanya terlihat pada saat kerja, namun pada saat melakoni hobi yang sama pun, mereka terlihat tetap kompak. “Kami punya grup-grup kecil untuk makin merekatkan kerbesamaan. Antara lain, grup pecinta sepeda yang kerap kali melakukan touring ke Puncak dan grup fotografi yang secara rutin melakukan hunting foto,” tutup Makmur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)