Tim “Happiness” Pelapak Community Bukalapak

Meski tingkat stress pekerjaan lumayan tinggi, Tim Komunitas Pelapak Bukalapak yang mengelola lebih dari 30 ribu merchant, memiliki tingkat happiness tinggi dibandingkan tim lain di internal. Apa kuncinya?

Selain dikenal sebagai salah satu unicorn di Indonesia, Bukalapak juga menjadi satu-satunya e-Commerce yang terdepan dalam menggarap komunitas. Keseriusan Bukalapak mengelola komunitas para pelapaknya dibuktikan dengan jumlah member komunitasnya yang terus bertambah. Saat ini, lebih dari 30 ribu pelapak yang tersebar di 142 kota dan kabupaten di Indonesia telah bergabung sebagai anggota Pelapak Community Bukalapak.

Tak mudah tentunya mengelola komunitas yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Dibutuhkan tim yang solid sekaligus terampil dalam mengelola komunitas. Menurut Muhammad Fikri, Head of Community Management Bukalapak yang turut membidani Divisi Komunitas di Bukalapak, cikal bakal berdirinya Komunitas Bukalapak dimulai pada akhir 2015 lalu.

Waktu itu, timnya masih sedikit, hanya 1-2 orang, termasuk saya di dalamnya. Seiring dengan meningkatnya jumlah member dan massifnya kegiatan, maka kami harus menambah jumlah personil. Saat ini, ada sekitar 25 personil yang bergabung di Tim Komunitas. Mereka millennials lulusan S1 dan S2 dari berbagai kampus di luar maupun dalam negeri, dengan latar belakang jurusan yang berbeda,” ungkap Fikri.

Ada empat sekaligus objektif tugas dari Komunitas Bukalapak. Pertama, mengelola komunitas pelapak. Kedua, meningkatkan sense of belonging antara pelapak dan Bukalapak. Ketiga, meningkatkan bonding antar pelapak. Dan keempat, meningkatkan bisnis para pelapak. “Kami percaya bahwa kesuksesan para pelapak juga menjadi kesuksesan Bukalapak,” yakinnya.

Ke-25 personil tim millennials (di bawah usia 35 tahun) ini pun berbagi peran. Secara garis besar, tutur Fikri, Tim Komunitas Bukalapak dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah Tim Program yang bertugas merancang berbagai program yang tepat untuk para pelapak. Kelompok kedua adalah Tim Insight yang bertugas mendengarkan sekaligus mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh para pelapak.

Terkait program, menurut Fikri, ada empat pilar yang menjadi acuan dalam mengemas program untuk para pelapak. Keempat pilar itu adalah pendidikan, bonding, women, dan sosial. Melalui pilar pendidikan, Bukalapak ingin meningkatkan knowledge para pelapak guna menumbuhkan bisnis mereka. Salah satu programnya adalah “Kelas Ngelapak” dan “Belajar Ngelapak Bersama Komunitas”.

Di pilar Bonding, Bukalapak punya program “Kopdar Piknik” yang menggandeng sejumlah partner yang juga concern dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), di antaranya Grab Express. Selanjutnya, lewat pilar Sosial, Bukalapak ingin menumbuhkan dan mendorong pelapak untuk memiliki sifat peduli dengan sesama. “Sebab, kami meyakini, dengan berbagi, bisnis akan semakin berkah,” ujarnya.

Di pilar Sosial, Bukalapak punya program ‘Bukalapak Berbagi’ yang digelar pada masa Ramadhan. “Kami mendorong para pelapak untuk berbagi takjil, kunjungan ke panti, hingga menggelar workshop di lembaga kemasyarakatan. Ini juga menjadi cara kami agar pelapak dapat terpapar dengan nilai-nilai yang telah kami tanamkan di Bukalapak,” tandasnya.

Terakhir, melalui pilar Woman, Bukalapak ingin memfasilitasi para pelapak perempuan agar dapat melihat potensi mereka dan mengekspresikannya. “Kami punya program ‘Srikandi’ yang dikemas dalam format workshop. Tak melulu soal bisnis, kami juga menggelar kegiatan berupa beauty class, hingga bagaimana mendidik anak di era digital,” paparnya.

Diakui Fikri, dengan agenda kegiatan yang sangat padat di berbagai kota di Indonesia, maka dibutuhkan tim yang memiliki passion dan gairah yang kuat terhadap komunitas. “Untuk itu, saya memberlakukan prinsip kerja flexitime. Artinya, mereka dapat mengatur waktu kerja sesuai dengan kesanggupannya. Dengan catatan, mereka harus bertanggung jawab dan memiliki hasil yang jelas,” ceritanya.

Menyadari tingginya beban kerja para personilnya, Fikri pun dengan mudah memberikan izin cuti bagi para personil yang membutuhkan. Hal itu dinilai penting karena sebagai wujud apresiasi kepada personil yang telah merelakan waktu keluarga mereka untuk bertugas ke luar kota misalnya. “Dengan kebebasan ini bukan berarti saya tidak mementingkan proses. Saya selalu menciptakan proses dua arah, baik antara saya dengan personil maupun antarpersonil,” lanjutnya.

Oleh karena itu, koordinasi secara berkala tetap harus dijalankan. Tim Komunitas Bukalapak menggelar Weekly Meeting setiap Kamis, pukul 11 sampai dengan 1 siang. Melalui rapat tersebut, berbagai informasi terkini dapat diperoleh. Mulai dari informasi yang terjadi di lapangan, apa yang sudah dilakukan oleh seluruh personil tim, mengevaluasi program yang sudah berjalan, hingga merencanakan program ke depannya.

Atmosfir kerja yang dibangun, menurut Fikri, juga harus mengadopsi lima nilai yang dimiliki Bukalapak. Kelima nilai itu adalah speak-up, gotong royong, try-failed-and try again, customer obsess, dan extra mild. “Dalam rapat misalnya, kami men-drive anggota tim untuk berani bicara dan mengemukakan pendapatnya. Dalam menjalankan program, kami juga harus menerapkan nilai gotong royong,” imbuhnya.

Demi meningkatkan bonding dan kekompakan tim, Fikri menuturkan bahwa ada program “Community Night” yang digelar setiap bulannya. “Bentuk acara Community Night bisa berupa jalan-jalan bareng, makan bareng, tukar kado, nonton bareng, dan sebagainya. Tidak harus di Jakarta, kadang-kadang acara juga kami gelar di luar kota. Selain itu, kami juga punya program outing setiap tahunnya,” urainya.

Hasilnya, kendati beban kerja terhitung tinggi, tingkat happiness Tim Komunitas Bukalapak selalu menjadi yang tertinggi. “Di internal Bukalapak, setiap divisi diukur tingkat happiness-nya. Dan, tingkat happiness tim kami selalu menempati posisi yang tertinggi,” tutupnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)