PR Terbaru Praktisi PR: Menyempurnakan Kembali Komunikasi Internal

Setelah perubahan akibat pandemic, kini perusahaan siap-siap menghadapi perubahan baru. Inflasi menggila yang melanda dunia di satu sisi dan berjalannya kembali “bekerja di kantor.” Tingginya inflasi, orang sudah tahu dampaknya. Namun efek dari bekerja kembali di kantor secara internal mungkin perlu dipelajari.

Pertama, selama kurang lebih setahun – dua tahun sebenarnya, namun kadang-kadang saat pandemic pekerja masih ngantor – sebagian pekerja sudah menikmati keasyikan bekerja di rumah. Mereka ini ketika diminta kembali bekerja di kantor,  akan membandingkan dengan keasyikan bekerja di rumah.

Kedua, bila mereka merasa lebih asyik bekerja di rumah, secara potensial muncul kasak kusuk soal gap antara harapan dan realitas yang mereka hadapi.  Ini muncul mulai dari keluhan soal toilet, hingga perangkat presentasi yang tidak berubah namun terkadang dipersepsikan berubah.

Kenapa? Karena mereka membandingkannya dengan yang di tumah dan ketika di kantor ekpektasi mereka terhadap yang akan mereka jumpai di kantor sudah terbangun tinggi. Mereka misalnya, berharap toilet bersih. Walau toilet sudah bersih bahkan lebih bersih dari saat sebelum pandemic, bisa saja muncul anggapan kurang bersih.

Pergeseran lainnya adalah makin tumbuhnya komunitas internal. Ini karena selama pandemi kemarin misalnya, banyak warga masyarakat yang melakukan aktivitas seperti bersepeda, mendengarkan ceramah keagamaan secara online, dan kegiatan lainnya yang kemudian mereka membentuk komunitas berdasarkan interest mereka.

Disinilah pentingnya internal public relations. Seperti diketahui, komunikasi dengan karyawan selama perubahan telah lama diakui sebagai penentu mendasar tentang bagaimana perubahan dipahami, ditafsirkan, dan dikelola oleh karyawan.

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, fokus perhatian internal PR kini berkembang tidak hanya pada serikat pekerja misalnya. Saat ini, karyawan sebagai stakeholder internal, juga semakin banyak yang membentuk komunitas-komunitas, termasuk komunitas peseda, jalan kaki, wisata dan sebagainya. Mereka ini tidaklah statis, tapi dinamis karena bisa jadi komunitas itu berhubungan dengan komunitas lainya.

Di AS, seperti ditulis Hongmei Shen, professor di bidang public relations di the School of Journalism & Media Studies, San Diego State University, pada tahun 2021, ada sekitar 47 juta karyawan berhenti dari pekerjaan mereka. Tren pekerja yang meninggalkan pekerjaannya berlanjut tahun ini.

Situasi ini bisa menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi praktisi public relations. karena bagaimanapun mereka akan bekerja dengan karyawan yang tidak sebanyak dengan sebelumnya.

Disini Shen memperkenalkan perspektif alternatif untuk memposisikan kembali PR internal di masa-masa yang penuh tantangan ini, dengan menyoroti pentingnya pembangunan komunitas karyawan atau internal.

Komunitas adalah “kumpulan individu dan institusi yang secara sukarela berbagi dan terikat atas pengalaman, tujuan, minat, identitas, dan norma bersama” (Shen & Jiang, 2021, hlm. 418). Komunitas internal ini terbentuk ketika individu dan anggota organisasi lainnya, termasuk karyawan, berbagi pengalaman, tujuan, minat, dan identitas, dan hubungan mereka dibentuk dan dinegosiasikan secara teratur.

Misalnya, karyawan dapat menentukan diri sendiri masuk ke dalam komunitas belajar atau komunitas yang berhubungan dengan olahraga, tergantung pada tujuan dan minat bersama mereka. Sebagai agen internal, anggota komunitas berkomunikasi, mendikte, dan menegosiasikan nilai, norma, dan proses organisasi setiap hari.

Di sisi lainnya, agen internal yang berada di level manajer, seperti manajemen menengah dalam suatu organisasi, dapat membantu mempromosikan "komunitas" atau keseimbangan kepemimpinan individu dan kewarganegaraan kolektif (Mintzberg, 2009).

Mereka ini bisa jadi sebenarnya memiliki kemampuan menawarkan ide semisal solusi menghadapi perubahan di satu sisi,  dan di sisi lainnya, mereka tak segan mempertanyakan  keputusan manajemen. Di bagian tengahnya, mereka mempunyai kepuasan yang tinggi bila dilibatkan dalam solusi tadi. 

Keanekaragaman, kesetaraan, dan inklusi secara alami tertanam dalam proses seperti itu. Kepemimpinan bukan lagi kualitas atau sifat yang terbatas pada manajemen, tetapi didorong dan dibina di antara semua agen komunitas. Implikasinya adalah pada anggota komunitas

Apa artinya ini bagi praktisi PR? PR internal pada dasarnya beroperasi sebagai fungsi pembangunan komunitas. Dalam konteks ini, praktisi ditugaskan untuk memfasilitasi dialog komunitas dan membina hubungan komunitas. Aturan komunikasi internal yang simetris dapat diciptakan bersama dan diikuti oleh individu dan anggota masyarakat institusional.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)