EVALUASI HUBUNGAN MASYARAKAT - MANFAAT DAN HAMBATAN DALAM ERA MEDIA DIGITAL

Dalam era digital, evaluasi program Hubungan Masyarakat (PR) menghadapi tantangan baru. Meskipun teknologi menawarkan alat analisis yang canggih, organisasi harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum bergantung penuh pada metode ini.

Evaluasi program Hubungan Masyarakat (PR) selalu menjadi isu hangat, terutama dalam konteks mendapatkan dukungan anggaran. Meskipun dalam 15 tahun terakhir telah ada usaha peningkatan dalam evaluasi, terutama dengan adanya alat analisis media berkat kemajuan teknologi, namun ada beberapa hal yang patut dicermati.

Pertama, metode evaluasi yang berfokus pada dampak mungkin terlalu sempit. Tidak semua dampak dari program PR bisa diukur dalam jangka pendek. Beberapa program mungkin memerlukan waktu lama sebelum efeknya benar-benar terasa. Dengan hanya mengandalkan metode ini, kita mungkin kehilangan gambaran besar dari manfaat jangka panjang sebuah program.

Misalnya, sebuah kampanye kesadaran tentang dampak lingkungan dari konsumsi plastik sekali pakai. Kampanye ini mungkin diluncurkan dengan harapan mengurangi penggunaan plastik dalam masyarakat. Jika evaluasi dilakukan hanya beberapa bulan setelah kampanye diluncurkan, mungkin saja tidak ada perubahan signifikan dalam perilaku konsumen.

Namun, jika evaluasi dilakukan dalam jangka waktu beberapa tahun, mungkin terlihat bahwa ada penurunan bertahap dalam penggunaan plastik dan peningkatan dalam penggunaan alternatif ramah lingkungan.

Metode evaluasi jangka pendek mungkin akan mengabaikan hal ini dan menyimpulkan bahwa kampanye tidak efektif. Namun, dengan perspektif jangka panjang, bisa dilihat bahwa kampanye tersebut memang memberikan dampak positif, meskipun efeknya mungkin tidak langsung terlihat dalam jangka pendek. Ini menunjukkan pentingnya memiliki pendekatan yang lebih holistik dalam mengevaluasi dampak dari program PR.

Kedua, mengandalkan media sebagai saluran komunikasi utama memiliki risikonya sendiri. Media seringkali tidak netral dan memiliki kecenderungan tersendiri. Mengukur keberhasilan program PR hanya berdasarkan eksposur media bisa menyesatkan. Sebuah cerita yang mendapatkan banyak perhatian di media mungkin tidak selalu memberikan dampak positif bagi organisasi.

Misalnya, sebuah perusahaan teknologi baru saja meluncurkan produk inovatif yang diharapkan mengubah industri. Mereka melakukan serangkaian acara peluncuran besar dan berhasil mendapatkan liputan luas di berbagai media ternama.

Namun, salah satu outlet berita arus utama mungkin memfokuskan laporan mereka pada satu aspek negatif dari produk tersebut, meskipun berbagai fitur lainnya mendapatkan pujian luas.

Dalam minggu-minggu berikutnya, narasi negatif dari outlet berita tersebut menjadi viral, memicu keraguan di kalangan konsumen dan menimbulkan persepsi negatif tentang produk tersebut.

Meskipun analisis awal menunjukkan bahwa perusahaan telah mendapatkan eksposur media yang luas dan tampaknya sukses dalam program PR-nya, dampak jangka panjang dari liputan negatif tersebut bisa merugikan reputasi dan penjualan.

Ini menunjukkan bahwa kuantitas eksposur media saja tidak cukup. Kualitas liputan dan bagaimana pesan disampaikan kepada audiens juga sangat penting. Mengandalkan media saja tanpa mempertimbangkan ton dan konteks dari liputan tersebut dapat memberikan gambaran yang salah tentang keberhasilan sebuah kampanye PR.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)