Dia menemukan makna sejati kepemimpinan bukan lewat angka, tapi lewat empati. Kepemimpinan terbaik bukan tentang kontrol, tapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagai manusia.
.

.
Bob Chapman dulunya pemimpin seperti kebanyakan orang. Ia memimpin perusahaan besar. Fokusnya adalah pada angka, laporan, dan keuntungan. Pikirannya selalu dipenuhi dengan obsesi, kalau perusahaan untung dan tumbuh, itu berarti ia sudah memimpin dengan baik.
Ia memimpin Barry-Wehmiller seperti kebanyakan eksekutif lain—penuh strategi, penuh kontrol, dan semua itu difokuskan pada laba.
Barry-Wehmiller makin besar. Omzet miliaran dolar. Ribuan karyawan di berbagai negara. Dari luar, semua tampak sempurna. Tapi dari dalam—hampa. Orang-orang bekerja, iya. Tapi semangat mereka hilang. Tak ada gairah. Tak ada rasa memiliki.
Jeruji itu membuatnya berpikir ulang.
Setelah bercerai dan menikah lagi, ia mulai berusaha jadi suami dan ayah yang lebih baik. Ia belajar mendengarkan keluarganya. Ia ingin membuat orang-orang di rumah merasa dicintai dan dihargai.
Namun, dia tetap resah.
Mengapa ia bisa begitu perhatian di rumah, tapi begitu dingin di kantor?
Lalu ia sadar sesuatu. Di tempat kerja, ia tidak melakukan itu. Ia bersikap dingin. Kaku. Ia tidak pernah benar-benar peduli pada orang-orang yang bekerja bersamanya.
Sampai suatu hari, saat ia menghadiri pernikahan, ia melihat seorang ayah mengantar putrinya ke altar. Dan ia berpikir,
“Semua orang yang bekerja denganku… juga anak seseorang.”...