Public Relations Paska Pandemi - Apa yang Berubah?

Krisis COVID-19 secara drastis mengubah lanskap bagi para profesional komunikasi dan public relations.  Ketika bekerja dari jarak jauh, penyampaian pesan dan secara hati-hati menjalankan manajemen reputasi,  para profesional PR beradaptasi untuk menjadi penasihat penting bagi para pemimpin bisnis.

Norma ini tidak akan bisa berbalik ke pola lama, karena experience positif publik selama pandemi. Dengan kata lain, publik akan menunjukkan ketidaksetujuannya manakala perusahaan kembali ke norma lama.

Sejak beberapa bulan pertama tahun 2020, terutama ketika muncul disrupsi akibat Covid-19, peran PR telah berubah secara drastis. Selama bertahun-tahun, praktisi public relations berperan sangat penting dalam proses komunikasi antara organisasi dan publik mereka.

Tantangannya, seperti yang dikatakan Maria Gabriella da Silva, Public Relations Head at PT Sayap Mas Utama (Wings Corp), adalah kemampuan perusahaan dan merek untuk beradaptasi dengan kondisi terkini alias new normal. Digitalisasi sangat diperlukan jika perusahaan ingin survive di masa-masa sekarang.

Di era semuanya menjadi terhubung dan karyawan memiliki akses langsung ke banyak sumber informasi, pimpinan perusahaan mungkin menyimpulkan bahwa banyaknya informasi dan komentar tersedia secara eksternal, perusahaan tidak perlu melakukan tambahan apapun.

Namun, bagaimanapun, bahwa membuat dan berbagi secara luas ringkasan fakta dan implikasi yang yang selalu diupdate sangatlah berharga, sehingga waktu tidak terbuang untuk memperdebatkan apa faktanya - atau lebih buruk -- membuat asumsi berbeda tentang fakta.

Profesional PR harus memastikan bahwa segala bentuk komunikasi jelas, jujur, dan tidak ambigu sehingga pesan-pesan itu mudah dipahami oleh audiens target masing-masing. Kekuatan PR selain pada kemampuannya sebagai operator, namun juga harus dimiliki kemampuan manajerial.

Sebelum pandemic, beberapa profesional PR terlibat dengan publik setelah terjadi perubahan besar, krisis misalnya. Mereka memberikan penawaran baru, meminimalkan kerusakan reputasi, dan bereaksi terhadap perubahan industry.

Pandemi membuat yang sudah terjadi tersebut semakin berkembang. Sekarang semakin banyak profesional PR yang memainkan peran yang jauh lebih bernuansa. Mereka secara proaktif terlibat dalam kegiatan manajemen reputasi, menasihati kepemimpinan, dan mengidentifikasi potensi masalah dalam hubungan bisnis dengan publik.

Bekerja dan habit baru masyarakat yang semakin akrab dengan dunia digital, semakin menghilangkan dinding antara anggota masyarakat dan merek atau public dan perusahaan.

Semakin akrabnya publik dengan digital juga memberi peluang bagi perusahaan mempersingkat waktu untuk melakukan aksi atau bereaksi dengan cerita yang relevan, dan mengaburkan batas antara pemasaran dan hubungan masyarakat. Dengan kata lain, situasi ini seringkali membuat peran PR dan profesional pemasaran tumpang tindih di media sosial.

Fenomena ini menjadi tantangan lainnya bagi profesional dan peran baru PR. Mengapa? Bagaimanapun menciptakan  dan mempertahankan penampilan citra perusahaan yang positif di mata publik membutuhkan keseimbangan konten yang menarik dan kesadaran serta reaksi yang cermat terhadap opini publik.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)